Lelaki yang berbaju dinas warna biru itu sering aku sebut sebagai komandanku. Kenapa? Karena ia selalu memberiku kekuatan dan arti pengabdian kepada kedua orang tuaku yang belum aku dapati sebelumnya.
Katanya "semua yang berjalan secara dadakan dan instan itu namanya bukan proses. Jika kamu berhasil itu namanya beruntung. Lain kali difikir-fikir lagi". Kalimat yang sering dia ucap tanpa bosannya membuatku semakin yakin bahawa dia yang terbaik. Tapi Ndan, kenapa kita jauh? Kenapa kita hanya dipertemukan sesingkat itu? Masih ingatkah kamu yang awalnya menuntut ilmu di tempat yang sekarang sering ku sebut dengan 'perantauan'? Aku rindu itu. Cerita aku dan kamu disini.
Ketikanya aku bersandar di pundakmu untuk merebahkan keluh kesah saat itu, ketika itulah aku merasa akan kita yang tanpa aku pikir sebelumnya akan dijauhkan seperti ini.
Dan akhirnya hanya telepon genggam jadulku yang kerap kali menyapamu.
"Dee", panggilan hangatnya padaku yang memicu rinduku kembali.
Penyemangat yang jauh di mata itu selalu menari-nari dimana saja, seakan semua tergambar dengan jelas. Iya jelas tanpa tahu jarak yang jauh ini.
~Tantangan hubungan jarak jauh (Long Distance Relationship) ku dapati darinya~.
Dia hebat. Mampu menempatkan semuanya di tempat yang semestinya dan dalam porsi yang sewajarnya.
"jika kita ditakdirkan untuk bersama. Jangan takut akan jarak yang tak seberapa ini ya Dee".
Iya kita saling percaya. Kita yakin pada akhirnya nanti semua akan berujung indah. KuasaNya yang akan menentukan jalan cerita kita. Semua akan berarah tanpa sepengetahuan kita. Terimakasih cerita singkatnya ya Komandan. Sesingkat waktu kita 21 bulan di perantauan.
-A.P.S-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar