Seharusnya aku tahu dinomor berapakan aku olehmu. Bukan
mayoritas, bahkan bukan minoritas. Aku tak dikenali lagi olehmu. Hujan sore itu
sungguh menyisakan luka pilu. Semua kenangan manis olehmu dan aku yang sering
ku panggil dengan kenangan kita tiba-tiba hilang seketika. Sehilangnya debu
terhapus terjatuhkan air deras.
Motor matik yang kamu kenakan untuk mengantarkanku,
tiba-tiba terjatuh dan meninggalkan darahmu akibat prbuatan seseorang yang tak
kutahui. Dia pergi begitu saja tanpa tahu kesalahannya.
Semuanya telah berubah. Kamu bukan lagi kamu. Aku pun sudah
tak lagi aku yang tanpa kamu.
Apa aku masih tetap menjadi ‘dia’ yang dulu menjadi
pengahpus rindumu, pengahpus lelahmu bahkan pemberi sedikit semangat untukmu.
Jika boleh untukku memulainya lagi dari awal dengan keadaanmu seperti ini,
ingin rasanya berkenalan kembali lalu menjalin cerita baru lagi ketika aku dan
kamu menjadi kita. Tak lagi seperti katamu di pagi itu “siapa kamu?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar