Selasa, 09 Juni 2015

SCBM (5)



Dengan kamu datang dan pergi lagi seperti ini membuatku enggan untuk menjalani kisah lebih lagi. Aku disana menuntut ilmu, seperti apa yang kamu bilang waktu itu. Harus menggapai yang aku inginkan. Bukan dengan kamu disini yang seenaknya menjalani hubungan dengan wanita itu.
Aku berlibur ke tempat kelahiran, Indonesia. Si krab dimana ya? Teman suka bicara itu menginginkanku untuk menemuinya. Tanpa sepengetahuan dia, aku kembali ke Indonesia selama liburan.
Ku ketuk pintu rumah berwarna abu-abu. “Selamat pagi tante, apa kabar? Doni ada tant?”. Aku menanyakan kabar Doni kepada mamanya. “Doni pergi bareng Alya teman kampusnya. Kapan sampai Indonesia? Disana bagaimana? Kuliah lancar kan?”
“Alhamdulillah lancar tant”. Kami menghabiskan waktu yang berkualitas ini dengan berbicara yang tidak jelas. Ya beginilah kami, mama Doni sudah seperti mamaku sendiri.
Suara mobil itu semakin dekat. Iya, itu suara mobil Doni, kekasihku sedari SMA dulu. Dibukanya pintu rumah tanpa dia tahu akan kedatanganku untuk memberi kejutan untuknya. Ternyata aku yang diberi kejutan, ini lebih kejutan dariku.
Hatiku seakan terkena sesuatu yang mengganjal posisi senangku di rumah ini. Tenang Ra, tenang! Mungkin dia tidak sengaja menggenggam tangan Alya dengan sekuat itu.aku tersenyum sembari mendekati Doni. Wajahnya berbeda sebelum aku pergi ke negeri orang untuk menuntut ilmu. Ku cium pipi sebelah kirinya, “kamu apa kabar? E-mailku belum kamu baca ya? Aku ngirim sesuatu loh. Aku sengaja pulang untuk memberi kejuatn hari jadi kita. Sudah 3 tahun loh Don, kamu ingat kan? Nanti malem keluar ya. 3 hari lagi aku balik ke Singapure lagi”. Aku mencoba bercerita dengannya tanpa wajah sedih, kecewa bahkan penasaran akan tangan yang bergenggaman dengan erat diantara dua insan yang berbeda ini.
Doni tersenyum kecut. Tanpa dia sadari, dia telah menghancurkan perasaanku bahkan suatu aku berbicara tangan mereka tidak lepas.
“Tant, Dira pulang dulu ya. Tadi ada janji dengan Nenes” ku smabung lagi untuk Doni, ku tepuk pundak bagian kirinya “Don, aku pulang dulu ya. Aku disini dari jam setengah 9 lewat sedikit. Nanti aku telpon. Kamu baik-baik ya. Ada hati yang menunggukata untuk dijawab, bukan hanya dengan senyuman kecut. Aku harap kamu nanti bisa” ku kecup pipi kanan Doni. Aku berharap agar aku tetap menjadi Dira yang kuat. “Mari”, aku melangkah pergi menjauh. Tak sengaja air mataku yang dari tadi aku tahan menetes. Untung saja aku tidak menangis di depan mata Doni, mata lelaki yang entah bagaimana itu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar