Selasa, 29 September 2015

Pohon, Daun, dan Angin. DAUN terbang karena ANGIN bertiup atau karena POHON tidak memintanya untuk tinggal?



Karena untuk mencintai dan dicintai adalah salah satu bukti perjuangan, meski tak pernah mendapati penghargaan. Tetap menajadi diri sendiri dan semoga mendapati cinta sejati :)

Ini adalah kisah dari pohon, daun dan angin. DAUN terbang karena ANGIN bertiup atau karena POHON tidak memintanya untuk tinggal?

 Kalian pasti pernah baca ini kan??? Kutipan novel dari penulis yang terkenal :) 

POHON
Alasan aku dipanggil pohon adalah karena aku pandai melukis pohon. Pada akhirnya aku memakai logo pohon di pojok kanan untuk semua lukisanku. AKU telah berpacaran dengan 5 gadis sebelum masuk ke universitas. Ada seorang wanita yang sangat AKU cintai, tapi AKU tidak punya keberanian untuk mengatakannya. Dia tidak cantik. Dia sangat peduli dengan orang lain dan religious, tapi dia hanya wanita biasa saja. Aku menyukainya, sangat menyukainya. Gayanya yang apa adanya, kemandiriannya, kepandaiannya, dan kekuatannya, alasan AKU tidak bersamanya. AKU merasa dia tidak serasi untukku. AKU takut, jika kami bersama semua perasaan yang indah ini akan hilang. AKU merasa dia adalah “sahabatku”. Alasan itu, membuat dia menemaniku selama 3 tahun ini. aku merasa jika dia memang milikku,dia pada akhirnya akan menjadi milikku dan aku tak harus menyerahkan semuanya hanya untuknya.
Dia tau AKU sering mendekati gadis-gadis lain dan AKU telah menyakiti hatinya selama 3 tahun. Dia ingin menjadi aktris yang baik dan aku adalah sutradara yang sangat menuntut.
Ketika AKU sedang bersama pacarku dan aku menciumnya, dia memergoki kami. Dia sepertinya merasa malu karena wajahnya terlihat merah tapi dia tersenyum dan mengatakan “Teruskan!” sebelum akhirnya lari.
Hari berikutnya, matanya sembab. Aku dengan sengaja tak mau memikirkan apa yang menyebabkan dia menangis melainkan menertawakan dia seharian.
Ketika semua orang pulang, dia menangis di kelas.  Dia tidak tau kalau AKU kembali dari latihan untuk mengambil sesuatu yang tertinggal. Hampir 1 jam kulihat dia menangis di sana. Esoknya, matanya bengkak dan merah.
Pacarku yang ke-4 tidak menyukainya. Pernah mereka bertengkar. Aku tau berdasarkan karakternya, dia bukanlah tipe yang akan memulai pertengkaran itu. Tapi aku masih memihak pacarku.
Aku membentaknya dan matanya dipenuhi rasa terkejut. Aku tak peduli mengenai perasaannya, kemudian aku pergi bersama pacarku meninggalkannya begitu saja.
Hari berikutnya, dia masih tertawa dan bercanda denganku seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya. AKU tau dia sangat sedih dan kecewa, tapi dia tidak tau bahwa sakit hatiku sama buruknya dengan dia. AKU juga sedih. Ketika AKU putus dengan pacarku yang ke-5, AKU mengajaknya pergi. Setelah kencan satu hari itu, AKU mengatakan bahwa ada sesuatu yang ingin kukatakan padanya. Dia mengatakan bahwa kebetulan sekali bahwa dia juga ingin mengatakan sesuatu padaku. AKU cerita tentang putusnya AKU dengan pacarku. Dia berkata bahwa dia sedang memulai suatu hubungan dengan seseorang. AKU tau siapa pria itu, pria itu cukup lama mendekatinya. pria yang baik, penuh energi, dan menarik. AKU tak bisa memperlihatkan betapa sakit hatiku, AKU hanya tersenyum dan mengucapkan selamat padanya.
Ketika sampai di rumah, sakit hatiku bertambah kuat dan AKU tidak dapat menahannya. Seperti ada beban berat yang ditumpukkan di dadaku. AKU tak bisa bernapas dan ingin berteriak namun apa daya. Air mata menetes. tak terasa aku menangis karenanya.
Handphoneku bergetar, ternyata ada SMS masuk. Tertulis disitu “DAUN terbang karena ANGIN bertiup atau karena POHON tidak memintanya untuk tinggal?”



DAUN
AKU suka mengoleksi daun-daun, kenapa? Karena AKU merasa bahwa DAUN untuk meninggalkan pohon yang selama ini ditinggali membutuhkan banyak kekuatan.
Selama 3 tahun AKU dekat dengan seorang pria, bukan sebagai pacar tapi “Sahabat”.
Ketika AKU tau dia mempunyai pacar, AKU mempelajari sebuah perasan yang belum pernah AKU pelajari sebelumnya – CEMBURU – Perasaan di hati ini tidak bisa digambarkan dengan menggunakan Lemon. Hal itu seperti 100 butir lemon busuk.
AKU menyukainya dan AKU tau bahwa dia juga menyukaiku, tapi mengapa dia tidak mau mengatakannya? Jika dia mencintaiku, mengapa dia tidak memulainya dahulu untuk melangkah? Ketika dia punya pacar baru lagi, hatiku sedih. Waktu berjalan dan berjalan, hatiku sedih dan kecewa. AKU mulai bahwa ini adalah cerita yang bertepuk sebelah tangan. Tapi…mengapa dia memperlakukanku lebih dari sekedar seorang teman?
Menyukai seseorang sangat menyusahkan hati. AKU tau kesukaannya, kebiasaannya, tapi perasaannya kepadaku tidak pernah bisa diketahui.
Kau tidak megharapkan AKU seorang wanita untuk mengatakannya bukan? Diluar itu, AKU mau tetap disampingnya, memberinya perhatian, menemani, dan mencintainya. Berharap suatu hari nanti dia akan datang dan mencintaiku.
Hal itu seperti menunggu teleponnya tiap malam, mengharapkan mengirimku SMS. AKU tau, sesibuk apapun dia, pasti meluangkan waktunya untuk ku. Karena itu, AKU menunggunya. 2 tahun cukup berat untuk kulalui dan AKU mau menyerah.
Kadang AKU berpikir untuk tetap menunggu. Dilema yang menemaniku selama 3 tahun ini. Akhir tahun ke-3, seorang pria mengejarku. Setiap hari dia mengejarku tanpa lelah. Segala daya upaya telah dilakukan, walau seringkali ada penolakan dariku. AKU berpikir, apakah aku ingin memberikan ruang kecil di hatiku untuknya?!
Dia seperti Angin yang hangat dan lembut, mencoba meniup Daun untuk terbang dari Pohon. Akhirnya, AKU sadar bahwa AKU tidak ingin memberikan Angin ini ruang yang kecil di hatiku. AKU tau Angin akan membawa pergi Daun yang lusuh jauh dan ke tempat yang lebih baik. Akhirnya AKU meninggalkan Pohon. Tapi Pohon hanya tersenyum dan tidak memintaku untuk tinggal. AKU sangat sedih memandangnya trsenyum ke arahku.
“DAUN terbang karena ANGIN bertiup atau karena POHON tidak memintanya untuk tinggal?”


ANGIN
AKU menyukai seorang gadis bernama Daun. Karena dia sangat bergantung pada Pohon, jadi aku harus menjadi ANGIN yang kuat. Angin akan meniup Daun terbang jauh. Pertama kalinya, AKU melihat seseorang memperhatikan kami. Katika itu, dia selalu duduk di sana sendirian atau dengan teman-temannya memperhatikan Pohon.
Ketika POhon berbicara dengan gadis ‘ ‘, ada cemburu di matanya. Ketika Pohon melihat ke arah Daun, ada senyum di matanya. Memperhatikannya menjadi kebiasaank, seperti Daun yang suka melihat Pohon.
Satu hari saja tak kulihat dia, AKU merasa sangat kehilangan. Di sudut ruang itu, ku lihat Pohon sedang memperhatikan Daun. Air mengalir di mata Daun ketika Pohon pergi.
Esoknya, kulihat Daun di tempatnya yang biasa, sedang memperhatikan Pohon. AKU melangkah dan tersenyum padanya. Kuambil secarik kertas, kutulis dan kuberikan padanya. Dia sangat kaget. Dia melihat ke arahku, tersenyum dan menerima kertas dariku. Esoknya, dia datang menghampiriku dan memberikan kembali kertas itu.
Hati Daun sangat kuat dan Angin tidak bisa meniupnya pergi, hal itu karena Daun tidak mau meninggalkan Pohon. AKU melihat ke arahnya. Kuhampiri dengan kata ‘ ‘ itu… sangat pelan… Dia mulai membuka dirinya dan menerima kehadiranku dan teleponku.
AKU tau orang yang dia cintai bukan AKU. Tapi AKU akan berusaha agar suatu hari dia menyukaiku. Selama 4 bulan, AKU telah mengucapkan kata Cinta tidak kurang dari 20x kepadanya. Hampir tiap kali dia mengalihkan pembicaraan, tapi AKU tidak menyerah. Keputusanku bulat, AKU ingin memilikinya dan berharap dia akan setuju menjadi pacarku.
Aku bertanya, “Apa yang kau lakukan? Kenapa kau tidak pernah membalas? Mengapa kau selalu membisu?”
Dia berkata, “AKU menganggukkan kepalaku”
“Ah?” aku tidak percaya dengan pendengaranku.
“Aku menganggukkan kepalaku” dia menjawab dengan keras.
Aku menutup telepon, bergegas ganti baju dan naik taksi ke tempatnya dan menekan bel pintunya. Sesaat setelah dia membuka pintu, aku memeluknya dengan erat.
“DAUN terbang karena tiupan ANGIN atau karena POHON tidak menyuruhnya tinggal?”

Dan aku tahu.



Tugasku bukan selalu melakukan secara spesial untukmu selalu, sayang. Kewajibankupun tak harus membahagiakanmu.  Langkahku juga tak seharusnya selalu beriringan dengan langkahmu.

Aku tak pernah meminta hak darimu yang suatu saat mungkin atau tidaknya akan kamu tepati. Aku juga tak pernah memintamu untuk selalu menyayangiku selebih dari ini. Aku tak pernah memintamu untuk segera menyayangiku dengan sepenuhnya.

Aku tahu hal kecil hingga besar yang sering aku lakukan untukmu tak lebih akan menggangguimu.

Sayang, mungkin akan menjadi senang jika aku melepaskanmu dengan cepat. Secepat air mataku yang menetes tanpa kamu tahui. Mungkin aku akan menjauhimu dengan indah tanpa selalu merepotkan hati dan waktumu. Waktu yang mungkin akan menjadi lebih indah tanpaku. Tanpa suaraku yang menyuruhmu untuk menjaga kesehatanmu selalu. Mengingatkanmu akan waktu yang seharusnya rutin untuk terlewati olehmu.
Sayang, dalam kelam hati aku melangkah pergi dengan perih hati. Atau aku pergi membiarkanmu menemui jati diri hingga aku akan menjadi iri dengan langkahku yang mendampingimu tiada henti.
Sampai jumpa ‘sayang yang terkenang’. Dengan rasa rindu yang beradu aku memintamu untuk sekali saja menemuiku dalam mimpi indahku yang selalu mengharap kehadiranmu. Bukan kehadiran yang nyata untuk melepas kerinduan, karena itu sungguh sulit terjadi. Bukan pula memintamu menjaga hatiku kembali.

Aku sungguh tahu, harapanku untuk memilikimu saat itu adalah kebohongan yang harusnya tidak pernah ada. 

Harapan yang selalu menjadi omong kosong antara aku dan kamu serta keluarga kita, bahkan orang lain yang mengenali kita. Aku tahu candaan kita hanya sebatas kesalahan yang menjadi kita merasa senang. Aku tahu kata yang tertulis akan menjadi pisau yang suatu saat akan menyisakan luka diantara kita. 

Aku tahu akan cerita kita yang pada akhirnya menyisakan pilu.

Langit, dalam kerinduanku ingin ku sambut kehadirannya yang terlukis seperti senyum bulan. Lalu bulan, ingin ku lihatnya dalam helai rindu yang terus tumbuh menjadi satu. Tanpa balaspun, aku tak perduli.
Gelap, dekap aku hingga aku mampu memejamkan mata meski selalu mengharapkan untuk melihatnya dalam mimpi. Sekali ini saja. Titip rinduku untuk kekasih di masa laluku.

Senin, 06 Juli 2015

-copyan-

Mencari Cinta
      Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan (Jalaluddin Rumi Kisah Keajaiban Cinta).
      Salah satu hakikat manusia dalam penciptaannya, adalah menemukan hal yang akan menuntunnya dalam kebaikan, kesempuranaan walau hal itu bernilai absurd luar biasa. Hakikat ini pun tak pernah lepas dari asal penciptaan itu sendiri. Dari satu inti yang berpengaruh dalam kehidupan, baik untuk pribadinya, keluarganya, teman-temannya, bahkan orang-orang diluarnya yang terkadang dianggap tak ada hubungan ataupun dampak sama sekali. Inti itu adalah Cinta. Dan selanjutnya, disudut mana cinta itu berada? Apakah layak untuk selalu dipertanyakan, bagaimana bentuknya, rasanya, baunya, atau bahkan layakkah seorang manusia untuk menerimanya begitu saja? Jika demikian, untuk apa cinta diciptakan? Hanya untuk dipandang, tanpa tahu kapan tiba masa memperolehnya? Sudut-sudut hati itu meronta ketika sadar, tidak banyak wujud cinta yang dapat digambarkan dalam sketsa apapun.
      Terlebih, ternyata banyak pandangan bahwa memang musykil bagi manusia yang nilai kepatuhan dan ketaatannya biasa-biasa saja, mampu mendapatkan cinta luar biasa. Menjadi sangat sulit jika cinta itu digantungkan pada sisi-sisi besar penuh ruang untuk mendapatkannya, sedangkan ruang yang kita sediakan, begitu banyak terpakai oleh hal-hal yang kenyataannya sulit untuk kita peruntukkan pada wujud yang sama sekali tak dikenali. Jika satu hari, perbincangan tentang makna cinta menghangat, larut dan menjadi tak terkendali, itulah bentuk dari rasa cinta itu sendiri. Begitu besar dan sucinya, hingga membicarakannya pun membentuk satu fenomena tersendiri, diantara padang perasaan milik manusia yang kini semakin kerontang. Jika satu saat, perlakuan manusia pada cinta begitu tak terkendali, seperti itulah rasa dari cinta itu sendiri. Begitu megah, hingga menyandangnya penuh kearifan adalah hal tersulit bagi seorang yang jika memandang cinta pun harus membelalakkan mata. Banyak kegelisahan yang menggumpal didalamnya. Banyak pula kedamaian serta keindahan tercipta dari rasa yang telah pada hakikatnya dimiliki oleh manusia darimana pun asalnya. Tak perlu ditanya, selain jawabannya; tak terkecuali.
      Lucunya, justru banyak pula kejadian yang terekam, baik utuh maupun kepingan, menjadi satu rangkaian pembuktian bahwa memang, dalam pemahaman untuk mendalami nilai yang hanya Dia memiliki, merupakan bagian paling sulit karena –sekali lagi begitu absurdnya. Kecemburuan, amukan, saling teror, dan menghilangkan hidup manusia lain, malah dikatakan ada.

Kamis, 18 Juni 2015

Sedikitnya seperti ini

Lelaki yang berbaju dinas warna biru itu sering aku sebut sebagai komandanku. Kenapa? Karena ia selalu memberiku kekuatan dan arti pengabdian kepada kedua orang tuaku yang belum aku dapati sebelumnya.
Katanya "semua yang berjalan secara dadakan dan instan itu namanya bukan proses. Jika kamu berhasil itu namanya beruntung. Lain kali difikir-fikir lagi". Kalimat yang sering dia ucap tanpa bosannya membuatku semakin yakin bahawa dia yang terbaik. Tapi Ndan, kenapa kita jauh? Kenapa kita hanya dipertemukan sesingkat itu? Masih ingatkah kamu yang awalnya menuntut ilmu di tempat yang sekarang sering ku sebut dengan 'perantauan'? Aku rindu itu. Cerita aku dan kamu disini.
Ketikanya aku bersandar di pundakmu untuk merebahkan keluh kesah saat itu, ketika itulah aku merasa akan kita yang tanpa aku pikir sebelumnya akan dijauhkan seperti ini.
Dan akhirnya hanya telepon genggam jadulku yang kerap kali menyapamu.
"Dee", panggilan hangatnya padaku yang memicu rinduku kembali.
Penyemangat yang jauh di mata itu selalu menari-nari dimana saja, seakan semua tergambar dengan jelas. Iya jelas tanpa tahu jarak yang jauh ini.
~Tantangan hubungan jarak jauh (Long Distance Relationship) ku dapati darinya~.
Dia hebat. Mampu menempatkan semuanya di tempat yang semestinya dan dalam porsi yang sewajarnya.
"jika kita ditakdirkan untuk bersama. Jangan takut akan jarak yang tak seberapa ini ya Dee".
Iya kita saling percaya. Kita yakin pada akhirnya nanti semua akan berujung indah. KuasaNya yang akan menentukan jalan cerita kita. Semua akan berarah tanpa sepengetahuan kita. Terimakasih cerita singkatnya ya Komandan. Sesingkat waktu kita 21 bulan di perantauan.
                                                                                                                                       -A.P.S-

Tapi Bu, saya lelah.

"Ibu saya lelah".
Kataku berkali-kali yang ku sebut dalam suara tanpa muka.
Lagi lagi aku mengeluhkan kepadanya.

Ditanyanya atas gerangan apa yang membuatku menjadi seperti ini. Masalah yang datang bertubi-tubi tak ada bandingannya. Kamu akan tau semuanya suatu saat nanti. Jika kamu menilai saat ini kamu lelah, kamu salah Nak! Kamu terlalu dini untuk menyimpulkan semua ini. Aku dan Bapakmu setidaknya juga pernah merasakan masa sepertimu. Tapi berbeda. Kami hidup tanpa kerja mereka(orang tua kami). Kami hidup untuk menyongsong hidup kami sendiri. Bukan masalah apa aku bercerita seperti ini. Katakan "semangat" sebelum memulainya. Kami selalu mendoakanmu, pagi siang sore maupun malam. Kami tak ingin melihatmu seperti kami.

"Tapi Bu, saya lelah"
Hadapi semuanya dengan senyuman. Atasi dengan kebahagiaan. Bukankah kami selalu mengajarkanmu tentang bersyukur Nak?
Jangan mengeluh atas apa yang kamu hadapi sekarang. Anggap ini adalah awal dari permainan tentang hidup yang dulu pernah kamu cita-citakan menjadi baik. Menjadi orang hebat bukankah yang pernah kamu katakan kepada kami waktu lalu? Apakah kamu lupa? Menuju kesuksesan memang banyak tantangan. Jangan biarkan dirimu dalam keadaan loyo. Kamu mampu melewati batas kemampuanmu. Karena kami percaya "kamu pasti mampu!"

"Baik Bu, saya sekarang tidak akan pernah merasa jika saya lelah"

Rabu, 17 Juni 2015

Hai Ramadhan~



Hai Ramadhan.
Ajak aku menjadi insan yang lebih baik. Ajak aku menjalani waktu tanpa merasakan kekurangan.
Ramadhan, biarkan aku merasakanmu dengan senang. Karena sejatinya kamu adalah temanku yang sulit aku temui, dalam setahun hanya sebulan aku menemuimu. Apakah ada rindumu untukku?
Ramadhan, ijinkan aku menjadi hamba-Nya yang penuh syukur. Jangan biarkan aku melupakan nikmat walau hanya sedikit. Sungguh nikmat yang harus disyukuri. Ramadhan, jadikan aku untuk lebih mengenal-Nya dalam malam penuh acara. Dalam malam berbalut bahagia, dalam malam berlantunkan doa.
Ramadhan, ajari aku menjalani hidup dengan ikhlas. Jauhkan aku dari kataku yang pernah ku ucap waktu itu, jauhkan aku dari itu mulai saat ini sampai besok-besok. Aku ingin mejadi insan yang lebih baik dari ini.

Senin, 15 Juni 2015

Dari Kami untuk Kamu

Tetap jadilah wanita tangguh seperti yang pernah kami harapkan kepadamu sebelum kamu terlahirkan di dunia yang luas ini. Tetap jadilah cahaya yang menjadi harapan bagi kami untuk tetap semangat dalam menjalani hidup ini.Kami selalu menjadikanmu pelita kami. Jika kamu mengira kamilah pelitamu, kamu salah! Kami mati-matian seperti ini karena kami ingin melihat pelita kami hidup lebih terang. Kami hanya menjalankan kewajiban kami. Jangan pernah menganggap tingkah hidup yang kamu jalani akan membebani kami. Kami senang jika kamu senang. Kami bangga jika kamu bangga membanggakan kami. Sebenarnya kami tak mengharap apapun dari kamu, hanya saja 'kami tak ingin melihatmu menjadi lebih parah seperti saat ini. Kami ingin kamu jaya yang menjayakan saudaramu. kami ingin kamu tetap hidup dalam hati kami dan mereka, tetap menjadi wanita bahagia yang terarah oleh tuntunan-Nya. Kami tak ingin pelita yang kami impikan menjadi kelam dan gelap'. 
Kala masalah menghadapi kamu, ibaratkan masalah itu sebagai teman barumu. Ajak mereka berbahagia, ubah mereka menjadi wadah pemberi senyuman. Kami tak pernah mengharapkan pedih datang bertubi-tubi untukmu. Kami tak pernah menyalahkan takdir kami yang menjadikan kamu disini, karena kami yakin 'kamulah yang akan mengubah kami suatu saat nanti'. 
Kelelahanmu jangan kamu anggap sebagai batas ujung perjalananmu. Jika kamu lelah sebab apa? Kami ini tak pernah lelah, mata kami juga tak pernah kantuk, obat kami ya kamu. Kami ingin lelahmu dengan cepat akan hilang. Kami tak ingin kamu terjebak dalam lengahnya aksi dunia. 
Dalam kelam kami berkata 'perang belum seberapa, ada keluarga yang nantinya akan menjadikanmu lebih mengerti arti kelelahan yang sebenarnya'. 
Pelita kami, selesaikan apa yang menjadi pemula untukmu. jangan biarkan semua tertunda begitu saja. Bukankah dulu kamu ingin kami bahagia?
Pelita kami, denganmu tersenyum bahagia itu adalah kebahagiaan kami.
Kami tetap menjadi kami yang mungkin suatu saat kembali. Ketika itu kamu akan lebh merasakan menjadi kami. Kami yang bukan kami. Kamu yang lebih menjadi kami. Tuntunlah mereka dalam dekap hangat darimu. Ajak mereka menjadi hebat lebih darimu. Bukan mereka yang lebih lelah dibanding yang kamu rasakan saat ini. Yang semuanya kamu ceritakan saat ini.