Tugasku bukan selalu melakukan
secara spesial untukmu selalu, sayang. Kewajibankupun tak harus
membahagiakanmu. Langkahku juga tak
seharusnya selalu beriringan dengan langkahmu.
Aku tak pernah meminta hak darimu
yang suatu saat mungkin atau tidaknya akan kamu tepati. Aku juga tak pernah
memintamu untuk selalu menyayangiku selebih dari ini. Aku tak pernah memintamu
untuk segera menyayangiku dengan sepenuhnya.
Aku tahu hal kecil hingga besar
yang sering aku lakukan untukmu tak lebih akan menggangguimu.
Sayang, mungkin akan menjadi
senang jika aku melepaskanmu dengan cepat. Secepat air mataku yang menetes
tanpa kamu tahui. Mungkin aku akan menjauhimu dengan indah tanpa selalu
merepotkan hati dan waktumu. Waktu yang mungkin akan menjadi lebih indah tanpaku.
Tanpa suaraku yang menyuruhmu untuk menjaga kesehatanmu selalu. Mengingatkanmu
akan waktu yang seharusnya rutin untuk terlewati olehmu.
Sayang, dalam kelam hati aku
melangkah pergi dengan perih hati. Atau aku pergi membiarkanmu menemui jati
diri hingga aku akan menjadi iri dengan langkahku yang mendampingimu tiada
henti.
Sampai jumpa ‘sayang yang
terkenang’. Dengan rasa rindu yang beradu aku memintamu untuk sekali saja
menemuiku dalam mimpi indahku yang selalu mengharap kehadiranmu. Bukan kehadiran
yang nyata untuk melepas kerinduan, karena itu sungguh sulit terjadi. Bukan
pula memintamu menjaga hatiku kembali.
Aku sungguh tahu, harapanku untuk
memilikimu saat itu adalah kebohongan yang harusnya tidak pernah ada.
Harapan
yang selalu menjadi omong kosong antara aku dan kamu serta keluarga kita,
bahkan orang lain yang mengenali kita. Aku tahu candaan kita hanya sebatas
kesalahan yang menjadi kita merasa senang. Aku tahu kata yang tertulis akan
menjadi pisau yang suatu saat akan menyisakan luka diantara kita.
Aku tahu akan
cerita kita yang pada akhirnya menyisakan pilu.
Langit, dalam kerinduanku ingin
ku sambut kehadirannya yang terlukis seperti senyum bulan. Lalu bulan, ingin ku
lihatnya dalam helai rindu yang terus tumbuh menjadi satu. Tanpa balaspun, aku
tak perduli.
Gelap, dekap aku hingga aku mampu
memejamkan mata meski selalu mengharapkan untuk melihatnya dalam mimpi. Sekali
ini saja. Titip rinduku untuk kekasih di masa laluku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar