Senin, 06 Juli 2015

-copyan-

Mencari Cinta
      Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan (Jalaluddin Rumi Kisah Keajaiban Cinta).
      Salah satu hakikat manusia dalam penciptaannya, adalah menemukan hal yang akan menuntunnya dalam kebaikan, kesempuranaan walau hal itu bernilai absurd luar biasa. Hakikat ini pun tak pernah lepas dari asal penciptaan itu sendiri. Dari satu inti yang berpengaruh dalam kehidupan, baik untuk pribadinya, keluarganya, teman-temannya, bahkan orang-orang diluarnya yang terkadang dianggap tak ada hubungan ataupun dampak sama sekali. Inti itu adalah Cinta. Dan selanjutnya, disudut mana cinta itu berada? Apakah layak untuk selalu dipertanyakan, bagaimana bentuknya, rasanya, baunya, atau bahkan layakkah seorang manusia untuk menerimanya begitu saja? Jika demikian, untuk apa cinta diciptakan? Hanya untuk dipandang, tanpa tahu kapan tiba masa memperolehnya? Sudut-sudut hati itu meronta ketika sadar, tidak banyak wujud cinta yang dapat digambarkan dalam sketsa apapun.
      Terlebih, ternyata banyak pandangan bahwa memang musykil bagi manusia yang nilai kepatuhan dan ketaatannya biasa-biasa saja, mampu mendapatkan cinta luar biasa. Menjadi sangat sulit jika cinta itu digantungkan pada sisi-sisi besar penuh ruang untuk mendapatkannya, sedangkan ruang yang kita sediakan, begitu banyak terpakai oleh hal-hal yang kenyataannya sulit untuk kita peruntukkan pada wujud yang sama sekali tak dikenali. Jika satu hari, perbincangan tentang makna cinta menghangat, larut dan menjadi tak terkendali, itulah bentuk dari rasa cinta itu sendiri. Begitu besar dan sucinya, hingga membicarakannya pun membentuk satu fenomena tersendiri, diantara padang perasaan milik manusia yang kini semakin kerontang. Jika satu saat, perlakuan manusia pada cinta begitu tak terkendali, seperti itulah rasa dari cinta itu sendiri. Begitu megah, hingga menyandangnya penuh kearifan adalah hal tersulit bagi seorang yang jika memandang cinta pun harus membelalakkan mata. Banyak kegelisahan yang menggumpal didalamnya. Banyak pula kedamaian serta keindahan tercipta dari rasa yang telah pada hakikatnya dimiliki oleh manusia darimana pun asalnya. Tak perlu ditanya, selain jawabannya; tak terkecuali.
      Lucunya, justru banyak pula kejadian yang terekam, baik utuh maupun kepingan, menjadi satu rangkaian pembuktian bahwa memang, dalam pemahaman untuk mendalami nilai yang hanya Dia memiliki, merupakan bagian paling sulit karena –sekali lagi begitu absurdnya. Kecemburuan, amukan, saling teror, dan menghilangkan hidup manusia lain, malah dikatakan ada.