Kamis, 27 November 2014

love is fill



Senyuman
Kesedihan
Kehancuran
Yang kini berjalan temani tempuhku
Seutas senyuman yang ada ku rajut satu demi satu
Sebuah rasa yang dalam untukku
Cinta ?
Rasa kebahagiaan yang kini berdiri dalam renungan cerita di jiwa
Sentuh sukma dan raga
Tercipta rindu, sayang, dan duka
Apa semua itu ada?
Hanya satu kumpulan yang mengerti semua
Mata batin tahu semua
Dan hanya dirinya yang mengetahuinya 
(Sulistyani Hayu Pratiwi, COMSINAFOUR SMA N 1 Gubug)

Cinta tidak bisa ditebak


Triringringring.. bunyi alarm handphone kesayanganku bunyi mengingatkan waktu bangun.  Handphone pemberian papa, tempat yang berwadah biru pemberian pacarku.  Eh bukan, maksudku mantanku. Aku annisa, gadis cantik berlesung pipi yang indah. Sahabat dan temenku sering memanggilku cantik, yaah karena kecantikanku pastinya.
Hari ini aku berangkat sekolah naik mobil, biasa sebelum berangkat ke sekolah aku jemput sahabat-sahabatku yang kecantikannya dibawahku sedikit lah ya. Kita berempat adalah anggota cheerleaders di SMA. Sesampainya di sekolah, jreg, kakiku turun dari mobil, lalu berjalan memasuki ruangan kelas.
“hei nis? Tumben agak pagi”, sapa captain basket yang pernah menjalin hubungan denganku. “Yaelah sya, kayak nggak tau aku aja kamu. Daripada telat malah bahaya” aku melanjutkan langkah lagi.
Jam istirahat dimulai, rasya menarik tanganku mengajak ke kantin kenangan kita dulu. Mengambil makanan kesukaan kita dulu. Aku hanya tertawa geli memerhatikan tingkah laku rasya. Rasya memberi makanan dan soft drink yang dibelinya untukku. “Nih nis, aku masih inget kan. Aku gituh”. “Idihh, PD amat kamu sya”, jawabku samping menarik hidung mancungnya. Kami membawa makanan yang tadi dibeli di kantin ke taman SMA. Berkali-kali kenangan kita dulu seakan kembali lagi. Hanya saja dia bukan menjadi milikku lagi. Angel sekarang yang menjadi pacar rasya, tapi tak apa bagiku. Toh rasya juga masih selalu ada untukku. “Sya, bel udah bunyi tuh. Masuk yuk, takut kalo telat”. “Tumben amat lu nis. Nggak kesambet kan ? biasanya dulu juga agak ntar-ntaran aja”. Kami tertawa dan berlari masuk kelas. Di samping kelas kami bertemu dengan angel. “Hei sayang, masuk gih. Jangan telat-telat ntar guru BK itu marah-marah sama kamu”, perhatian rasya ke angel yang membuatku iri. “Iya iya, kamu kamu. Aku sayang kamu”, jawaban angel lalu dibalas rasya. “Deeeeeeg”, suara hati dan jantungku yang seakan terdengar di telinga. “Eh sya, aku masuk kelas dulu yaa. Daaaaaaaa…”
Jam pelajaran usai. aku sama ketiga sahabatku pergi ke restaurant tempat biasa kami berempat nongkrong. “kamu aja yang nyetir nin, aku capek ” aku meminta nina mengendarai mobil. Di dalam mobil, aku masih kepikiran tentang rsya dan angel. Sebenarnya aku masih sayang rasya, tapi entahlah.
***
Nggak tahu kenapa tubuhku panas. Kuambil telpon dan menghubungi rasya. Rasya selalu tempat utama yang aku tuju meskipun hal itu sepele. “sya, bikinin aku surat ijin ngga berangkat sekolah besok yaa. Lagi nggak enak badan nih”. Rasya mengiyakan tanpa bertanya kabarku sedikitpun. Tak seperti biasanya rasya seperti itu. Aku semakin merasa kesakitan dengan sikap rasya yang cuek denganku.
Pagi ketika berangkat ke sekolah, sahabatku memberi kabar ke rasya kalau aku dirawat di rumah sakit. Rasya terlihat kebingungan. Tapi ketika dia ingin menjengukku, suara angel memecahkan keinginan rasya untuk pergi ke rumah sakit menjengukku. Mungkin karena angel takut jika suatu saat nanti rasya kembali lagi denganku. “Ya sudah sya, biar kita bertiga aja yang njenguk nisa”. “sampaikan maaf dan salamku untuk dia ya nin, bel, nai”.
Sudah 3 hari aku dirawat di rumah sakit. Sudah 3 hari pula rasya tanpa kabar. Mama dan papa membawaku pulang ke rumah dan menyuruhku istirahat bahkan berangkat ke sekolahnya ketika sudah sembuh.
Aku berangkat ke sekolah dan menemui rasya. berbicara dengannya seakan tanpa masalah. “Eh sya, besok kan hari libur. Kamu dan teman-yemanku aku ajak ke pantai yok? Bosen di rumah terus. Aku juga kangen banget main bareng kamu lagi” ajakku dengan manja. “Emm, oke deh nis. Ini demi kamu. Demi aku sayang kamu” kata-kata rasya yang menyanjung hatiku.
Besoknya kami berlima berangkat ke pantai dan berencana menginap di villa sekitar pantai. Tak sengaja, angel mengikuti kita bahkan dia berpura-pura liburan disini juga. “Loh, kalian juga disini. Sejak kapan ?” Tanya angel. “Sejak tadi ngel, iya nih mumpung liburan 5 hari”. Rasya mendatangi kita. Dengan santainya rasya mninggalkanku dan bersama dengan angel. Rasya aku kangen kamu, kamu kenapa nggak nyadar.. tetesan air mata yang kesekian kalinya menyesali kepergian rasya.
Lagi lagi angel terus membuatku cemburu. Mungkin dia tahu jika aku masih sayang dengan rasya. Angel sering membawakan makanan, sering mengajak main rasya. “Emangnya disini rasya berlibur untuk angel atau giman yaa. Aku nyewa villa ini demi kebersamaanku bareng dengan rasya, bukan demi kamu dan rasya”. Ketiga sahabatku ternyata dari tadi melihatlu menangis dan ngomong sendiri “nisaaaa sayang, kamu cantik loh, kamu bisa dapetin lebih dari dia. Toh dia dulu pernah menjadi pacar kamu kan? Jangan biarkan wajah cantikmu terkena air mata yang nggak penting. Disini katanya pengen seneng seneng. Move on dengan air yuk?” sahabatku yang sering menenangkanku ketika aku mengingat semua kejadian bersama rasya. 2 hari berlalu, 1 malam cepat berlalu. Rasya tak ada waktu sedikitpun untukku. Tetapi aku semakin sayang dengan rasya. Mungkin aku yang bodoh.
Sejak kebersamaan kita yang sering membuat angel takut akan hubungan mereka agak renggang, sejak itulah angel melarang rasya menemuiku. Namun sejak itulah, aku semakin ingin memperjuangkan rasya.
Beberapa kegiatan aku lakukan untuk menarik perhatian rasya untukku lagi. mulai itulah rasya sayang lagi sama aku. “nis, aku boleh ngomong nggak sama kamu?”. “Ya boleh lah sya..”. jawabku asyik dengan makan di tempat samping pasar malam itu. Dengan pelan-pelan rasya mengambil makananku dan memegang wajahku serta menatapku dengan kasih sayang “nisa, maaf kalau selama ini aku cuek dengan kamu. Maaf jika aku nggak perhatian lagi sama kamu. Maaf jika aku dulu pergi meninggalkanmu” beribu maaf rasya ucapkan untukku. Aku memegang tangannya yang masih menempel di wajahku, lalu melepaskan pegangannya “kenapa kamu ngomong seperti itu sya? Itu sudah masa lalu kita” senyum pura-pura yang terhiasi di wajahku. “tapi nis, aku masih sayang kamu. Meski aku sudah dengan yang lain, tapi hati aku belum bisa berpindah dari kamu”. Aku menangis di hadapan rasya “bahkan aku lebih dari itu sya. 2 tahun lebih aku mencoba move on dari kamu. 2 tahun lebih aku munafik. Tapi aku tahu, kamu sudah dengan yang lain. Aku nggak bisa memiliki kamu lagi, nggak bisa panggil kamu dengan kata sayang lagi, aku yakin suatu saat nanti aku dan kamu bahagia tanpa ada kita di hati” sambil tersenyum untuk mencairkan suasana. “sudah malam sya, kita pulang yuk? Aku anter kamu dulu tp kamu yang nyetir yaa, pegel nih tanganku”. “Yaudah nis”, rasya menatapku dengan wajah sedih.
Sejak malam itu perasaanku semakin kacau. Dari percakapan aku dan rasya malam itu, kini membuat rasya agak berubah dengan angel. Terlihat seakan rasya acuh dengan angel, dan lebih memperhatikanku. Dengan perasaan sedikit malu, angel datang ke aku dan meminta penjelasan yang sebenarnya. “nis, aku mau Tanya sama kamu. Rasya kenapa ya akhir akhir ini rasya berubah? Pernah nggak dia cerita sama kamu?” penasaran angel membuatku takut untuk menjawab. “aku nggak tahu ngel, coba kamu dekati dia dan biarkan suasana membuatnya cerita sama kamu”. Entah apa yang dilakukan angel setelah itu aku nggak tahu.
Sore menjelang sunsite, rasya mengajakku pergi ke pantai dan memberi penjelasan tentang perasaannya yang sekarang. Kami duduk di batuan besar dan memandangi pemandangan di sore itu. Karena angel penasaran dengan apa yang terjadi dengan rasya selama ini, angel dengan ngumpat ngumpat mengikuti kami. “kamu lihat deh nis, aku masih ingat 2 tahun yang lalu, aku pernah marah dan tertawa bersamamu karena sunsite. Dulu kamu juga pernah cemburu kan waktu aku berbicara sama reni. Dulu kamu lucu loh nis. Kamu yang pencemburu, kamu yang protectif sama aku. Tapi aku sekarang kangen hal itu nis. Kangen banget”. Rasya menoleh ke arahku “tapi sya, lihat sunsitenya lebih indah dari yang dulu kan? Mungkin karena waktu yang menyebabkan semua ini. Begitu pula dengan kamu (aku menoleh ke arah rasya, kami berdua saling tatap-tatapan) kamu sekarang sudah sama angel. Dia lebih dari aku. Jalani saja, pasti nanti indah pada waktunya”. “aku punya angel, tapi perasaanku Cuma untuk kamu saat ini”. Angel mendengar kata-kata itu, angel berusaha pergi tetapi angel tak sengaja menendang tempat sampah di sekitar pantai. Kami berdua menoleh ke arah itu. Ternyata angel. Aku berusaha mencoba mengejar angel yang sedang menangis dan berlari pergi, tetapi rasya memegang tanganku erat dan membiarkan angel pergi.
“rasya, kamu tahu yang dulu aku rasakan. Aku sama seperti angel yang saat ini. Lepaskan tanganku. aku  mau mengejar angel dan memberi penjelasan. Lepas sya” aku menagis dan rasya melepas tanganku dengan wajah yang kebingungan karena 2 hati sedang di dirinya.
Aku berlari tetapi aku kehilangan jejak angel. “sudah nis, dia butuh waktu. Biarkan dia pergi”, ujar rasya yang tadi lari mengikutiku. “butuh waktu ? kamu bilang butuh waktu ? kamu yang butuh waktu !” aku pergi meninggalkan rasya.
Paginya aku bertemu dengan angel, aku berusaha menjelaskan semuanya dengan angel. Tetapi angel tidak mau tahu dengan semuanya. “alahh, sudahlah nis. Aku tahu kamu masih sayang sama rasya kan ? Jangan munafik juga kamu”. “tapi ngel, semuanya itu nggak seperti yang kamu kira. Aku pernah berada di posisimu. Aku sekarang merelakan semuanya.” aku menjelaskan semuanya tetapi angel pergi meninggalkanku.
Aku berusaha mencari ide agar bisa mempertemukan angel dan rasya. Kebetulan aku sekarang dekat dengan rizky teman nina, aku meminta bantuan untuk mempersiapkan semuanya tentang ide yang aku punya. Aku hubungi angel dan rasya lewat BBM. Tiba keduanya di tempat yang telah aku dan rizky rancang. “kamu ngapain disini sya?” Tanya angel kecewa. “aku disini mau nemui nisa. Kamu sendiri?” sebelum angel menjawab, aku dan rizky datang menghampiri mereka. Aku berusaha menyatukan mereka lagi “angel. Memang iya, rasya pernah menjadi pacarku. Tetapi sekarang aku nyaman dengan dia menjadi sahabatku. Kamu jangan salah paham, dia hanya kenanganku”. Dengan tatapan penuh Tanya rasya menatapku, mungkin dia sedikit kecewa “iya ngel, kamu yang sekarang jadi pacar aku. Meski hati aku belum sepenuhnya untuk kamu. Tapi aku yakin suatu saat nanti aku dan kamu bisa berumah tangga” rasya melanjutkan kata-kataku. “Oiya, aku juga mau ngenalin ke kalian. Ini rizky, dia… “ “aku pacar nisa” sahut rizky. Aku tersenyum nyegir melihat wajah rizky. “emmmm, pantes” ucap angel, angel lalu di peluk rasya. Kami berempat menjadi coupledate di pantai hiasanku dan pacar baruku, rizky.

Memang kita perlu bersabar dalam menjalani hubungan. Hidup itu penuh misteri. Salah satunya cinta. Cinta tidak bisa ditebak. Dengan siapa kita berpacaran nanti, dengan siapa kita berjodoh nanti. Karena jodoh semua ada yang ngatur. Tinggal hati kita yang yakin untuk menjalaninya. Selamat berjuang untuk kalian yang berusaha move on dan mencari cinta sejati :)

Karena Kamu Akan Selalu Ada Di Hatiku, Raka.

Rani adalah namaku. Kini umurku menginjak 17 tahun. Aku seorang gadis yang sejak kecil sudah ditinggal pergi orang tuaku untuk mencari nafkah di kota seberang. Yang namanya kurang kasih sayang mungkin sudah sering aku rasakan. Aku di rumah tinggal bersama nenek dan adik kecilku yang duduk di kelas 6 SD. Hidup kami pas-pasan. Berkali-kali kami dihadapi dengan yang namanya kekurangan. Tapi semua itu bisa kami lewati dengan rasa enang karena kami selalu merasa jika kami menjadi orang mampu dalam hal ekonomi. Meskipun semua berbanding terbalik dengan kenyataan.
Kehidupan sehari-hariku selalu menjadikan motivasi untukku sendiri. Belajar dari yang namanya harapan, cita-cita sampai bagaimana caranya mencapai semua itu. Aku sekolah selalu mengandalkan beasiswa dan aku percaya yang namanya mimpi dan angan bisa tercapai. Selalu menggantung semuanya di depan mata dan selalu terngiang di pikiran. Kegiatan sehari-hari yang aku lakukan adalah sebagai aktivis sekolah, aku mengikuti serangkaian kegiatan yang diadakan di SMA bahkan sampai nasional, karena aku tahu semua itu akan menghasilkan suatu kebanggaan untukku di hari nanti. Menjabat sebagai bendahara OSIS SMA bukan suatu hal kecil untukku saat itu. Sensitive masalah uang menjadi gangguan sekaligus semangat bagiku. Entah apa yang selalu aku dan mereka pikirkan tentang kertas bernominal.
Suatu hari dimana aku usai bekerja setelah pulang sekolah, ku temui mereka yang lebih beruntung daripada aku. Mereka yang selalu hidup dengan kemewahan dan hidup penuh dengan kasih sayang. Ku lihat mereka dengan penuh rasa iri bahkan air mata di mataku tidak bisa teratasi lagi. Salah satu dari mereka memergoki aku berdiri di depan kaca samping pintu restaurant mewah itu. Restaurant yang sering aku makani ketika aku ditraktir sahabat terbaikku waktu SMP. Ibu menuju usia tua menghampiriku. Dengan tutur kata yang mebuatku tenang ia ucapkan “kamu kenapa disini sendirian nak? Sini gabung bareng kami. Kebetulan tempat yang kami pesan masih tersisa satu”.  “Oh, tidak apa-apa bu. Cuma teringat sama ayah idan bu saya”, sambil mengusap air mata.
“Lah emang kenapa dengan mereka? Yasudah,yang penting kamu ikut ibu dulu masuk” ujarnya sambil menarik tangan berhias jam kenangan kiriman dari ayah sewaktu aku masih berumur 15 tahun.
Aku diajak duduk bergabung dengan keluarga penuh cinta tersebut. “Nama kamu siapa? Aku seperti pernah lihat kamu”, Tanya laki-laki bertubuh tinggi itu. “Iya, namaku Rani. Bagaimana kamu bisa pernah melihatku ? Dimana kamu menemuiku ?”
“Sebentar, kamu dari SMA mana ? Kok baru pulang?” sederet pertanyaan dia lontarkan ke aku seakan dia sudah kenal denganku. Dan aku bercerita kepada keluarga kecil mereka. Aku dibungkuskan 2 makanan ketika selesai makan itu.
Hari berikutnya aku temui laki-laki tadi di SMA tempat aku menuntut ilmu. Laki-laki itu namanya Raka. Ternyata dia adalah teman SMAku yang beda kelas denganku. Sejak hari itu, aku mempunyai teman laki-laki yang dekat denganku, yang mau menerima keadaanku. Pernah suatu ketika dia mengantarku pulang dari sekolah. Ku kenalkan dia kepada nenek dan adikku.

Dia sering kali membawakan makanan dan baju untuk adikku dan nenekku. ayah dan ibunya sejak kami bertemu telah menganggapku seperti anak kandungnya sendiri. “Ran, kau diajak mama untuk makan malam. Kata mama, nenek dan adik kamu diajak juga”. “Tapi Ka, kami tak pantas ke rumahmu”. “Sudahlah Ran, kebetulan aku kesini bawa mobil. Tadi aku juga mampir ke toko sengaja aku belikan baju untuk kamu”, dengan kata sayangnya memaksaku untuk memenuhi permintaan mamanya.
“Baiklah Ka, tapi aku nggak enak dengan kamu”, perasaan bingung dan senang bercampur jadi satu.
Paginya sebelum aku berangkat sekolah, dia datang ke rumah menjemputku untuk berangkat bareng.

Serasa mempunyai keluarga baru. Hingga mamanya Raka membelikan aku handphone. Entah harus bagaimana lagi aku berterimakasih kepada mereka.

SMAku mengadakan suatu acara yang melibatkan beberapa kelas untuk bergabung menyelesaikan acara tersebut. Raka duduk di sebelahku. Rapar pembahasan acara telah selesai, aku menunggu raka yang pergi menemui wali kelasnnya. 

Aku yang awalnya sebagai gadis lugu, dan semenjak aku kenal dengan Raka tiba-tiba penampilanku sedikit berubah. Ketika masa perubahan ini terjadi, sering kali aku diajak berkenalan dengan orang baru. Seorang laki-laki menghampiriku untuk mengajakku pulang bareng. Dia Nicky kakak kelasku SMA. Karena aku telah janjian dengan Raka untuk pulang bareng, aku menolak Kak Nicky yang mengajakku pulang bareng.
“Hei Ka, udah selesai ?”, tanyaku terlihat senang ketika Raka datang. Serasa sudah lama nggak pernah ketemu. “Ran, ran.. Yok pulang” ajak laki-laki yang tiap kali membuatku tersenyum.
Di tengah perjalanan, percakapan kami di mulai. Dengan jawaban Raka untuk mengajakku berhenti di sebuah taman yang sejuk untuk melanjutkan obrolan kami. Setibanya di tempat duduk tepat di bawah pohon rindang. Banyak kalimat yang saling kami ucapkan, hanya satu kalimat yang membuatku sampai sekarang bisa dengan sangat menyayangi Raka. Dia ternyata menyayangiku lebih dari sebuah sahabat. Bersyukur sekali mempunyai teman sekaligus penyemangat untukku. Tapi aku berpikir, jika aku menjalani hubungan lebih dari teman dengan lawan jenis lantas bagaimana nasib belajarku? Aku mempunyai seorang adik yang mempunyai berjuta impian dan aku sebisa mungkin mewujudkan keinginannya Aku memberi penjelasan untuk Raka dan Raka memahami hal itu. 

“Ingatlah Ran, aku akan menantimu. Aku selalu berada di sampingmu. Selalu membuatmu tersenyum”, kata raka yang membuatku terharu. 

“aku sayang kamu Ka. Sayang banget. Jangan pergi dari sini yaaa. Bukan berarti tadi aku nggak mau. Tapi aku memikirkan masa depanku bahkan masa depan kita nanti. Kami berdua pun saling menegaskan kalau kita saling menyanyangi. Raka mengusap air mata haru campur kebahagiaanku.

Malam harinya aku merasa kecapekan, tubuhku lemas tak berdaya. Aku pun tidur untuk menenangkan pikiran dan ragaku.
Keesokan harinya, lagi-lagi kesayangan menghampiri. Belajar waktu hari itu sungguh membuatku semakin lelah. “kamu kenapa Ran? Kok wajahmu pucat? Kamu kenapa ? Ran, jawab ! ” dengan wajah bingungnya dia menyakan hal itu. Senyuman yang bisa mewakili jawaban dari pertanyaannya. “Berobat yuk ran. Jangan bikin aku cemas seperti ini”. Geleng-geleng yang aku lakukan. “sudah ka, aku masih punya obat di rumah”. “Ya sudah Ran, tapi nggak apa-apa beneran kan? Pulang sekarang, nanti makan tidur jangan lupa sebelum tidur minum obat”. Senyuman dan perhatiannya seakan menjadi obat penawar sakitku.
Semakin lama, penyakit yang aku derita semakin parah. Tanpa sepengetahuan raka, aku berobat ke dokter. Dari hasil yang aku terima ketika berbicara tentang penyakitku, aku menjadi kalub. Mataku sembab. Seakan hariku menjadi agak kelam. Penyakit yang aku derita ternyata sama dengan penyakit yang diderita kakek dulu. Aku sebisa mungkin memendam tentang semua kabar penyakitku. Biarkan Tuhan yang menjawab pertanyaan mereka tentang penyakitku.
 ***
Hari-hari aku lalui bersama Raka, adikku dan nenekku. Hal itu yang membuatku yakin suatu saat nanti aku bisa tersenyum disana. Sudah 6 bulan aku berteman, berkawan dengan Raka. Selama itulah aku sungguh ingin mengulang kejadian itu dari awal.
Suatu hari di kantin sekolah, waktu aku dan Raka sedang istirahat dan makan makanan favorit kita. Mie instan ditambah cimol. Kami berdua makan sambil ngobrol, dengan santainya seorang cowok datang menghampiri kami “Hei, kamu Rani kan ? Aku boleh nggabung kan ?” Tanya senior ganteng kapten basket. “Iya kak, silakan gabung bareng kami. Kenalin ini teman akbarabku.” “Ka, ini kak Nicky yang dulu pernah aku ceritain ke kamu”. Semua apa yang terjadi padaku, sekecil apapun itu selalu aku ceritain ke Raka.  Kami bertiga ngobrol sampai bel bunyi masuk pergantian jam mengingatkan kita untuk berpisah. “Ran, bagi nomer hpnya ya”, suara itu yang membuat sifat dan raut muka Raka sedikit berubah saat itu. Aku seketika memandang Raka seakan bertanya apa boleh jika aku memberi nomerku untuk kak Nicky. Raka hanya bisa tersenyum. Entah hatinya Raka itu terbuat dari apa aku juga nggak tahu. Dengan perasaan bingung, kuberi nomer hpku untuk kak Nicky.
“Tapi kak, maaf jika nanti aku jarang bales sms atau gimana yaa”, senyumku mengawali kami bertiga menuju kelas masing-masing.

Jam sekolah menunjukkan waktu pulang. Raka mendatangi kelasku yang kebetulan kelasku pulang agak telat. Aku dan teman-teman kelas keluar. “Ran, kamu bohong kan sama aku?” “bohong kenapa ka? Aku nggak pernah bohong sama kamu”. “Hahaha, ngak nggak ran. Aku cuma bilang bukannya tadi pagi kamu ngomong kamu pulang nggak telat. Eh ternyataaa”, muka gugup pun terlihat dari wajahku, ku kira raka tahu tentang penyakitku. Senyum geli yang dibuat raka menghiasi muka kami berdua sampai parker sekolah. Sejak pagi tadi, raka ternyata mengawasiku. “ran, mukamu semakin kesini kok semakin pucat. Apa yang kamu sembunyiin dariku?” “Rakaaa sayaaaang, kan aku nggak pernah bohong sama kamu. Nggak ada yang aku tutup-tutupin sama kamu” jawabanku berusaha mengalihkan pembicaraan kami tentang penyakitku.

Ketika jadwal berobatku ke dokter yang dari awal memeriksaku. Secara diam-diam Raka mengikuti dari belakang. Dan aku tidak tahu keberadaannya yang mengikutiku. Sejak itulah Raka mengetahui penyakit jantungku.
Beberapa minggu ke depan, sikap sayangnya Raka untukku semakin bertambah dengan dia tahu kondisiku.
                                                ***

Pyarrr !!
Suara tempat foto kenangan keluarga sejak Raka masih bayi. Raka melihat foto bayi kembar yang ganteng di balik foto keluarga besar mereka. Mama Raka keluar. “ada apa sayang ?”, Tanya lirih seorang mama baik itu. “emm, ini mah.. nggak sengaja Raka menyentuh ini. Maaf ya ma. Eh ma, kalau boleh tahu ini foto bayi siapa ya ma ?”. mama Raka menceritakan semuanya. Ternyata bayi tersebut adalah raka dan kembarannya. Tapi waktu ketika keluarga kecil raka berlibur, kakak kembaran raka hilang. Mama dan papanya raka sudah berusaha untuk mencarinya. Tapi hasilnya nihil.
“ma, aku belajar bareng sama Rani yaa”. “iya sayang, oh iya.. mampir ke toko biasanya juga. Hati-hati di jalan”. Mama raka selalu mengerti kebiasaan yang dilakukan Raka.

Belajar bareng hari ini sukses.
“sudah minum obat kan ran ? obatnya masih kan ?” Raka menyakan hal yang membuatku menjawabnya dengan kebohongan. “sudah ka, masih kok jangan khawatir”. Aku berbohong tentang obat itu. Aku tidak mau selalu merepotkan raka dan keluarganya.
Raka memulai cerita tentang kembarannya (blab la bla). “yasudah, aku pulang dulu yaa ran. Jaga diri baik-baik. Tetap semangat walau suatu saat nanti aku tidak bersamamu lagi” kata raka yang membuatku takut.  “iyaa raka, hati-hati di jalan yaa. Jangan tidur malam-malam, semoga mimpi indah”
Ketika aku tidur malam, aku bermimpi bertemu dengan raka dan keluarga kecilnya beserta kembarannya. Di mimpiku raka sedang bermain gitar bersama kak Nicky. Paginya aku cerita tentang mimpiku. Berhari-hari aku dan raka menyelidii hal itu. Benar firasat mimpiku, ternyata kak Nicky adalah saudara kembarnya.
                                                ***
Berita kecelakaan itu mengejutkanku. Orang yang aku sayang berada dalam keadaan kritis. Aku selalu mengingat hal kecil yang kita lakukan. “rakaaa, bertahan yaa. Kamu sering memberiku semagat untuk bertahan. Masak kamu lemah ka. Bertahan demi aku” ucapku dalam hati dan tak kuasa air mataku terus bercucuran.
Dokter yang memeriksa raka keluar. Kabar ang membuat kami semua terpukul, kini raka sudah tiada. Sosok yang penuh kasih sayang kini tinggal sendiri.
Mama raka menemuka surat yang ditulis raka di meja kamar raka, suratnya yang berisi :
Mama, papa aku sudah tahu saudaraku siapa. Aku dan rani beberapa hari yang lalu menyelidiki tentang kecurigaan rani bahwa kakak kelasku adalah kembaranku. Dia Nicky Ardiansyah. Ma, pa.. temui dia ya. Oiya ma pa, aku titip rani sayangi dia sepenuh hati mama. Sayangi dia seperti mama menyayangiku. Nicky juga ya ma, pa. ceritalah baik-baik dengan dia. Ma, mungkin mama kaget dengar berita ini. Rani gadis cantik yang tiap hari aku ceritain, sekarang dia mengidap penyakit kanker kronis. Ma, aku mohon.. jantung raka biar hidup di tubuh rani.
Ran, mungkin kamu baca ini ketika aku sudah tidak ada. Tolong jaga baik-baik jantung yang ada di dirimu yaa. Biar aku terus hiup di dirimu. Terus menjadi bagianmu. Rani sayang, jangan sedih. Aku selalu tersenyum disini. Lihatlah foto yang kita punya. Aku selalu senyum kan ? Rani, kalau aku bleh meminta. Sejak aku melihat nicky ada suatu hal yang meyakinkanku untuk menyerahkanmu agar dia selalu menjagamu. Selalu memberimu semangat. Menjadi penggantiku. Terima dia seperti kamu menerima keadaanku. Sayangku selalu untukmu. Kamu yang terus membuat hariku berwarna. Terimakasih atas kebahagiaan kecil ini yang selama ini kita lewati.
Salam sayang dari raka. Raka selalu ada di hati kalian. Begitu kalian juga ada dihati raka.

Hari-hari aku lewati tanpa raka. Sepi rasanya. Semua terasa berbeda. Tapi ketika aku merasa sepi, aku selalu ngomong dengan jantungku. Bercerita tentang kesepianku.
“ran, apa kabar?” cowok itu datang dan duduk disampingku. “baik kak”. Aku menagis melihat wajah kak Nicky. Wajah terus mengingatkanku dengan raka.  Aku bercerita dengan kak Nicky. Awalnya dia tidak percaya, tapi lambat hari dia mengikuti keadaan.
                                                ***
Satu tahun lebih terlewati. Pengumuman ujianku kelulusanku di hari ini sungguh menggembirakan. Seusai pengumuman. Terlihat kak Nicky bersama keluarga kecilnya, keluarga kandung raka. “sudah selesai? Nilainya gimana ? Selamat datang di kehidupan mahasisiwi sayang” ucap kak Nicky. “Baik dong kak” “Oh iya tante, om.. apa kabar ? Dari Australia ya ? Oleh-oleh buat Rani, adik  dan nenek pasti ada kan ? hehehe” senyum manja dariku untuk mereka. Kami bersama keluarga kak Nicky masuk mobil dan akhirnya ceritaku semasa SMA seperti ini. Semoga masa kuliah tidak memberatkanku. “Untukmu raka yang aku sayang. Kamu lihat kan ? Hasil belajar bareng kita seperti ini. Kamu pasti bangga. Aku juga dapat beasiswa buat ngelanjutin sekolah, seperti apa yang dulu pernah kita rencanain. Baik-baik disana. Titip rindu buat ayah, ibu dan kakek aku juga. Kalian baik baik disana yaa. Salam kangen dariku. ”. Bayangan raka tersenyum terlihat jelas di depanku.
                                                *****

KAYA DAN SUKSES BUKAN SERAKAH



KAYA DAN SUKSES BUKAN SERAKAH

Oleh : Fida Hidayatul Rafi’ah
            Aku Fida Hidayatul Rafi’ah. Aku adalah salah satu siswa lulusan SMA N 1 Gubug, kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan. Dan sekarang ini menjadi mahasiswi Universitas Diponegoro Semarang Jurusan S-1 Kimia Fakultas Sains dan Matematika angkatan 2013.
            Aku lahir tanggal 1 Februari 1996, aku berasal dari keluarga yang sederhana, keluarga yang tinggal di kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Aku anak pertama dari tiga bersaudara. Ayahku bernama Minaji Setiawan, Ibuku bernama Partinah. Ayahku tidak mempunyai pekerjaan tetap. Ibuku pun seorang rumah tangga. Namun mereka tidak menjadikan profesinya sebagai penghalang untuk membiayai sekolah kami bertiga. Begitupun dengan diriku, profesi mereka adalah penyemangat utama untukku. Semangat meraih mimpi dan cita-citaku. Menjadikan aku dan adik-adikku sebagai orang yang bermanfaat adalah salah satu visi mereka dalam hidup. “TERIMKASIH AYAH IBU”. Kami keluarga yang penuh cinta kasih diantara bersama. Keluarga yang mengharapkan perubahan ekonomi kea rah yang lebih baik. Bukan hanya itu, keluarga yang berharap mendapatkan pendidikan selayaknya orang yang berhasil dengan pendidikan tinggi. Itu alasan orang tua kami selalu menyemangati dan memotivasi kami. Mereka tidak menginginkan kami bermasa dean yang suram, masa depan tanpa harapan.  
            Sewaktu SMA, aku mempunyai impian “jika aku belajar di perguruan tinggi nanti, aku ingin menjadi salah satu orang yang tercatat namanya sebagai orang yang menoreh prestasi di kampus, sebagai orang yang mampu membawa nama baik keluarga, asal sekolah, dan sekitar.
            Tebatasnya biaya untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi membuat orang tuaku semakin berpikir keras. Akhirnya, aku mendengar dan menemukan program beasiswa dari pemerintah,“Beasiswa Bidik Misi”. Aku mendambakan Universitas Diponegoro sebagai rumah untukku menuntut ilmu. Syukur Alhamdulillah terucap, aku lolos bidik misi di kampus tersebut.
            Aku kuliah di Universitas Diponegoro bukan semata-mata untuk menjadi mahasiswa pasif yang hanya kuliah lalu pulang. Aku mengikuti organisasi di jurusanku dan ingin mengikuti organisasi yang lingkupnya lebih besar, karena manfaat organisasi adalah untuk memperluas link (banyak berkenalan dengan orang hebat ), mampu memanagemen waktu dan berharap mampu menjadi pribadi yang benar-benar berprestasi di dalam kampus dan luar kampus.
            Bercermin dari hasil nilai yang aku peroleh di semester 1, nilai yang tidak pernah aku bayangkan, dan mungkin nilai yang tidak pernah diinginkan oleh mahasiswa. Namun, dilain sisi, hasil yang semakin membuatku semangat dan semakin semangat lagi.
            Dan disini mulai kubumbungkan sayap semangatku. Aku berharap kuliah selama 8 semester ini dapat aku tempuh selam 3,5 tahun karena aku tidak ingin selalu merepotkan kedua orang tua. Lulus diumur 21 tahun dan mempunyai wawasan dan pengetahuan yang berbobot serta menjdi orang yang sangat wibawa dalam bicara dan tindakan menjadi suatu hal yang patut dibanggakan. Ketika waktu pengumuman wisuda, namaku terpanggil menjadi mahasiswi pemegang IP cumlaudge dan tertinggi diangakatanku. Berjalan menuju podium untuk mengambil penghargaan, menerima gulungan yang membuatku menangis dan bersyukur. Keberhasilan yang membuat orang tuaku meneteskan air mata yang turut mengiringi jalanku menuju ke hadapan mereka membawa gulungan tadi.
       “Belajar seperti layaknya anak kecil” selalu berani berkhayal lalu mencapainya, belajar tertawa dan optimis tanpa putus asa. Selalu berjalan, terjatuh dan menangis lalu bangkit dan bisa tertawa lagi.
            Untuk kesuksesanku, hal yang pertama yang ingin ku persembahkan kepada kedua orang tuaku adalah memberangkatkan haji mereka.
            Mempunyai cita-cita terbesar di kehidupan adalah keharusan yang dimiliki oeh setiap manusia. Termasuk aku, di dunia ini cita-cita terbesarku adalah menjadi seorang DIREKTUR. Tepatnya “DIREKTUR PERTAMINA”. Dan mendirikan serta memimpin perusahaan sendiri.
            Sukses yang kuinginkan dan kuterima tidak akan ada ujungnya. Membiayai sekolah kedua adikku agar menjadi orang yang bermanfaat (kemudian sukses) adalah kewajiban untukku. Dua orang  ( 1 laki-laki dan 1 permpuan ) yang menjadi penyemangat hidupuku selain ayah dan ibuku. Dua malaikatku yang selalu menanyakan kabarku, suatu saat akan kutanya “ bagaimana pendidikanmu disana? Sukses kan ?”. lalu tiba-tiba ada kabar baik yang menghiasi wajah dianatar kita sekeluarga. Menginginkan Galuh Naji Firmansyah memakai seragam berbintang di bahu, Firyal Salsa Sabrina mendapatkan gelar “dr” itu termasuk mimpi dan citaku di masa depan.
            Mimpiku menjadi direktur, bekerja sama dengan orang-orang sukses. Medirikan perusahaan sendiri. Dan aku sukses muda. Sukses untukku, sukses untuk kedua orang tuaku, sukses untuk adik-adikku, untuk sekitarku dan untuk dia. Dia sebagai pendampingku. Pendamping yang dewasa, sukses, mempunyai jenjang pendidikan minimal sedrajat denganku, mengerti asal usuk kehidupanku, keadaan orang tuaku, seagama dan yang searah menuju kebaikan. Menikah di umur 26-28 tahun.
            Aku mengerti, kesuksesan yang aku inginkan semua bermunculan karena materi, karena uang.
Bukannya aku serakah, namun tanpa uang semua tidak akan menjadi apa-apa. Semua tidak akan menjadi siapa-siapa.
            Seperti yang dikatakan seniorku, kak Roy Wibisono “aku tidak ingin mendapatkan gaji banyak, tetapi aku ingin memberi gaji banyak” . Memang benar, memberi gaji banyak sama halnya dengan kita harus sukses dulu karena mendapatkan gaji dari ilmu yang kita dapat lalu disumbangkan dengan orang lain.
-Tekat dan kemampuan yang dimiliki sekarang dan nanati akan berdampak pada perubahan di masa depan-
Semangat merubah kehidupan ! Manusia tanpa visi, sama halnya manusia menginginkan mati tanpa tujuan. (Rabu, 9/4/2014. 23:30)