Kamis, 27 November 2014

Cinta tidak bisa ditebak


Triringringring.. bunyi alarm handphone kesayanganku bunyi mengingatkan waktu bangun.  Handphone pemberian papa, tempat yang berwadah biru pemberian pacarku.  Eh bukan, maksudku mantanku. Aku annisa, gadis cantik berlesung pipi yang indah. Sahabat dan temenku sering memanggilku cantik, yaah karena kecantikanku pastinya.
Hari ini aku berangkat sekolah naik mobil, biasa sebelum berangkat ke sekolah aku jemput sahabat-sahabatku yang kecantikannya dibawahku sedikit lah ya. Kita berempat adalah anggota cheerleaders di SMA. Sesampainya di sekolah, jreg, kakiku turun dari mobil, lalu berjalan memasuki ruangan kelas.
“hei nis? Tumben agak pagi”, sapa captain basket yang pernah menjalin hubungan denganku. “Yaelah sya, kayak nggak tau aku aja kamu. Daripada telat malah bahaya” aku melanjutkan langkah lagi.
Jam istirahat dimulai, rasya menarik tanganku mengajak ke kantin kenangan kita dulu. Mengambil makanan kesukaan kita dulu. Aku hanya tertawa geli memerhatikan tingkah laku rasya. Rasya memberi makanan dan soft drink yang dibelinya untukku. “Nih nis, aku masih inget kan. Aku gituh”. “Idihh, PD amat kamu sya”, jawabku samping menarik hidung mancungnya. Kami membawa makanan yang tadi dibeli di kantin ke taman SMA. Berkali-kali kenangan kita dulu seakan kembali lagi. Hanya saja dia bukan menjadi milikku lagi. Angel sekarang yang menjadi pacar rasya, tapi tak apa bagiku. Toh rasya juga masih selalu ada untukku. “Sya, bel udah bunyi tuh. Masuk yuk, takut kalo telat”. “Tumben amat lu nis. Nggak kesambet kan ? biasanya dulu juga agak ntar-ntaran aja”. Kami tertawa dan berlari masuk kelas. Di samping kelas kami bertemu dengan angel. “Hei sayang, masuk gih. Jangan telat-telat ntar guru BK itu marah-marah sama kamu”, perhatian rasya ke angel yang membuatku iri. “Iya iya, kamu kamu. Aku sayang kamu”, jawaban angel lalu dibalas rasya. “Deeeeeeg”, suara hati dan jantungku yang seakan terdengar di telinga. “Eh sya, aku masuk kelas dulu yaa. Daaaaaaaa…”
Jam pelajaran usai. aku sama ketiga sahabatku pergi ke restaurant tempat biasa kami berempat nongkrong. “kamu aja yang nyetir nin, aku capek ” aku meminta nina mengendarai mobil. Di dalam mobil, aku masih kepikiran tentang rsya dan angel. Sebenarnya aku masih sayang rasya, tapi entahlah.
***
Nggak tahu kenapa tubuhku panas. Kuambil telpon dan menghubungi rasya. Rasya selalu tempat utama yang aku tuju meskipun hal itu sepele. “sya, bikinin aku surat ijin ngga berangkat sekolah besok yaa. Lagi nggak enak badan nih”. Rasya mengiyakan tanpa bertanya kabarku sedikitpun. Tak seperti biasanya rasya seperti itu. Aku semakin merasa kesakitan dengan sikap rasya yang cuek denganku.
Pagi ketika berangkat ke sekolah, sahabatku memberi kabar ke rasya kalau aku dirawat di rumah sakit. Rasya terlihat kebingungan. Tapi ketika dia ingin menjengukku, suara angel memecahkan keinginan rasya untuk pergi ke rumah sakit menjengukku. Mungkin karena angel takut jika suatu saat nanti rasya kembali lagi denganku. “Ya sudah sya, biar kita bertiga aja yang njenguk nisa”. “sampaikan maaf dan salamku untuk dia ya nin, bel, nai”.
Sudah 3 hari aku dirawat di rumah sakit. Sudah 3 hari pula rasya tanpa kabar. Mama dan papa membawaku pulang ke rumah dan menyuruhku istirahat bahkan berangkat ke sekolahnya ketika sudah sembuh.
Aku berangkat ke sekolah dan menemui rasya. berbicara dengannya seakan tanpa masalah. “Eh sya, besok kan hari libur. Kamu dan teman-yemanku aku ajak ke pantai yok? Bosen di rumah terus. Aku juga kangen banget main bareng kamu lagi” ajakku dengan manja. “Emm, oke deh nis. Ini demi kamu. Demi aku sayang kamu” kata-kata rasya yang menyanjung hatiku.
Besoknya kami berlima berangkat ke pantai dan berencana menginap di villa sekitar pantai. Tak sengaja, angel mengikuti kita bahkan dia berpura-pura liburan disini juga. “Loh, kalian juga disini. Sejak kapan ?” Tanya angel. “Sejak tadi ngel, iya nih mumpung liburan 5 hari”. Rasya mendatangi kita. Dengan santainya rasya mninggalkanku dan bersama dengan angel. Rasya aku kangen kamu, kamu kenapa nggak nyadar.. tetesan air mata yang kesekian kalinya menyesali kepergian rasya.
Lagi lagi angel terus membuatku cemburu. Mungkin dia tahu jika aku masih sayang dengan rasya. Angel sering membawakan makanan, sering mengajak main rasya. “Emangnya disini rasya berlibur untuk angel atau giman yaa. Aku nyewa villa ini demi kebersamaanku bareng dengan rasya, bukan demi kamu dan rasya”. Ketiga sahabatku ternyata dari tadi melihatlu menangis dan ngomong sendiri “nisaaaa sayang, kamu cantik loh, kamu bisa dapetin lebih dari dia. Toh dia dulu pernah menjadi pacar kamu kan? Jangan biarkan wajah cantikmu terkena air mata yang nggak penting. Disini katanya pengen seneng seneng. Move on dengan air yuk?” sahabatku yang sering menenangkanku ketika aku mengingat semua kejadian bersama rasya. 2 hari berlalu, 1 malam cepat berlalu. Rasya tak ada waktu sedikitpun untukku. Tetapi aku semakin sayang dengan rasya. Mungkin aku yang bodoh.
Sejak kebersamaan kita yang sering membuat angel takut akan hubungan mereka agak renggang, sejak itulah angel melarang rasya menemuiku. Namun sejak itulah, aku semakin ingin memperjuangkan rasya.
Beberapa kegiatan aku lakukan untuk menarik perhatian rasya untukku lagi. mulai itulah rasya sayang lagi sama aku. “nis, aku boleh ngomong nggak sama kamu?”. “Ya boleh lah sya..”. jawabku asyik dengan makan di tempat samping pasar malam itu. Dengan pelan-pelan rasya mengambil makananku dan memegang wajahku serta menatapku dengan kasih sayang “nisa, maaf kalau selama ini aku cuek dengan kamu. Maaf jika aku nggak perhatian lagi sama kamu. Maaf jika aku dulu pergi meninggalkanmu” beribu maaf rasya ucapkan untukku. Aku memegang tangannya yang masih menempel di wajahku, lalu melepaskan pegangannya “kenapa kamu ngomong seperti itu sya? Itu sudah masa lalu kita” senyum pura-pura yang terhiasi di wajahku. “tapi nis, aku masih sayang kamu. Meski aku sudah dengan yang lain, tapi hati aku belum bisa berpindah dari kamu”. Aku menangis di hadapan rasya “bahkan aku lebih dari itu sya. 2 tahun lebih aku mencoba move on dari kamu. 2 tahun lebih aku munafik. Tapi aku tahu, kamu sudah dengan yang lain. Aku nggak bisa memiliki kamu lagi, nggak bisa panggil kamu dengan kata sayang lagi, aku yakin suatu saat nanti aku dan kamu bahagia tanpa ada kita di hati” sambil tersenyum untuk mencairkan suasana. “sudah malam sya, kita pulang yuk? Aku anter kamu dulu tp kamu yang nyetir yaa, pegel nih tanganku”. “Yaudah nis”, rasya menatapku dengan wajah sedih.
Sejak malam itu perasaanku semakin kacau. Dari percakapan aku dan rasya malam itu, kini membuat rasya agak berubah dengan angel. Terlihat seakan rasya acuh dengan angel, dan lebih memperhatikanku. Dengan perasaan sedikit malu, angel datang ke aku dan meminta penjelasan yang sebenarnya. “nis, aku mau Tanya sama kamu. Rasya kenapa ya akhir akhir ini rasya berubah? Pernah nggak dia cerita sama kamu?” penasaran angel membuatku takut untuk menjawab. “aku nggak tahu ngel, coba kamu dekati dia dan biarkan suasana membuatnya cerita sama kamu”. Entah apa yang dilakukan angel setelah itu aku nggak tahu.
Sore menjelang sunsite, rasya mengajakku pergi ke pantai dan memberi penjelasan tentang perasaannya yang sekarang. Kami duduk di batuan besar dan memandangi pemandangan di sore itu. Karena angel penasaran dengan apa yang terjadi dengan rasya selama ini, angel dengan ngumpat ngumpat mengikuti kami. “kamu lihat deh nis, aku masih ingat 2 tahun yang lalu, aku pernah marah dan tertawa bersamamu karena sunsite. Dulu kamu juga pernah cemburu kan waktu aku berbicara sama reni. Dulu kamu lucu loh nis. Kamu yang pencemburu, kamu yang protectif sama aku. Tapi aku sekarang kangen hal itu nis. Kangen banget”. Rasya menoleh ke arahku “tapi sya, lihat sunsitenya lebih indah dari yang dulu kan? Mungkin karena waktu yang menyebabkan semua ini. Begitu pula dengan kamu (aku menoleh ke arah rasya, kami berdua saling tatap-tatapan) kamu sekarang sudah sama angel. Dia lebih dari aku. Jalani saja, pasti nanti indah pada waktunya”. “aku punya angel, tapi perasaanku Cuma untuk kamu saat ini”. Angel mendengar kata-kata itu, angel berusaha pergi tetapi angel tak sengaja menendang tempat sampah di sekitar pantai. Kami berdua menoleh ke arah itu. Ternyata angel. Aku berusaha mencoba mengejar angel yang sedang menangis dan berlari pergi, tetapi rasya memegang tanganku erat dan membiarkan angel pergi.
“rasya, kamu tahu yang dulu aku rasakan. Aku sama seperti angel yang saat ini. Lepaskan tanganku. aku  mau mengejar angel dan memberi penjelasan. Lepas sya” aku menagis dan rasya melepas tanganku dengan wajah yang kebingungan karena 2 hati sedang di dirinya.
Aku berlari tetapi aku kehilangan jejak angel. “sudah nis, dia butuh waktu. Biarkan dia pergi”, ujar rasya yang tadi lari mengikutiku. “butuh waktu ? kamu bilang butuh waktu ? kamu yang butuh waktu !” aku pergi meninggalkan rasya.
Paginya aku bertemu dengan angel, aku berusaha menjelaskan semuanya dengan angel. Tetapi angel tidak mau tahu dengan semuanya. “alahh, sudahlah nis. Aku tahu kamu masih sayang sama rasya kan ? Jangan munafik juga kamu”. “tapi ngel, semuanya itu nggak seperti yang kamu kira. Aku pernah berada di posisimu. Aku sekarang merelakan semuanya.” aku menjelaskan semuanya tetapi angel pergi meninggalkanku.
Aku berusaha mencari ide agar bisa mempertemukan angel dan rasya. Kebetulan aku sekarang dekat dengan rizky teman nina, aku meminta bantuan untuk mempersiapkan semuanya tentang ide yang aku punya. Aku hubungi angel dan rasya lewat BBM. Tiba keduanya di tempat yang telah aku dan rizky rancang. “kamu ngapain disini sya?” Tanya angel kecewa. “aku disini mau nemui nisa. Kamu sendiri?” sebelum angel menjawab, aku dan rizky datang menghampiri mereka. Aku berusaha menyatukan mereka lagi “angel. Memang iya, rasya pernah menjadi pacarku. Tetapi sekarang aku nyaman dengan dia menjadi sahabatku. Kamu jangan salah paham, dia hanya kenanganku”. Dengan tatapan penuh Tanya rasya menatapku, mungkin dia sedikit kecewa “iya ngel, kamu yang sekarang jadi pacar aku. Meski hati aku belum sepenuhnya untuk kamu. Tapi aku yakin suatu saat nanti aku dan kamu bisa berumah tangga” rasya melanjutkan kata-kataku. “Oiya, aku juga mau ngenalin ke kalian. Ini rizky, dia… “ “aku pacar nisa” sahut rizky. Aku tersenyum nyegir melihat wajah rizky. “emmmm, pantes” ucap angel, angel lalu di peluk rasya. Kami berempat menjadi coupledate di pantai hiasanku dan pacar baruku, rizky.

Memang kita perlu bersabar dalam menjalani hubungan. Hidup itu penuh misteri. Salah satunya cinta. Cinta tidak bisa ditebak. Dengan siapa kita berpacaran nanti, dengan siapa kita berjodoh nanti. Karena jodoh semua ada yang ngatur. Tinggal hati kita yang yakin untuk menjalaninya. Selamat berjuang untuk kalian yang berusaha move on dan mencari cinta sejati :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar