Triringringring..
bunyi alarm handphone kesayanganku bunyi mengingatkan waktu bangun. Handphone pemberian papa, tempat yang
berwadah biru pemberian pacarku. Eh
bukan, maksudku mantanku. Aku annisa, gadis cantik berlesung pipi yang indah.
Sahabat dan temenku sering memanggilku cantik, yaah karena kecantikanku
pastinya.
Hari
ini aku berangkat sekolah naik mobil, biasa sebelum berangkat ke sekolah aku
jemput sahabat-sahabatku yang kecantikannya dibawahku sedikit lah ya. Kita
berempat adalah anggota cheerleaders di SMA. Sesampainya di sekolah, jreg, kakiku
turun dari mobil, lalu berjalan memasuki ruangan kelas.
“hei nis? Tumben
agak pagi”, sapa captain basket yang pernah menjalin hubungan denganku. “Yaelah
sya, kayak nggak tau aku aja kamu. Daripada telat malah bahaya” aku melanjutkan
langkah lagi.
Jam
istirahat dimulai, rasya menarik tanganku mengajak ke kantin kenangan kita
dulu. Mengambil makanan kesukaan kita dulu. Aku hanya tertawa geli memerhatikan
tingkah laku rasya. Rasya memberi makanan dan soft drink yang dibelinya
untukku. “Nih nis, aku masih inget kan. Aku gituh”. “Idihh, PD amat kamu sya”,
jawabku samping menarik hidung mancungnya. Kami membawa makanan yang tadi
dibeli di kantin ke taman SMA. Berkali-kali kenangan kita dulu seakan kembali
lagi. Hanya saja dia bukan menjadi milikku lagi. Angel sekarang yang menjadi
pacar rasya, tapi tak apa bagiku. Toh rasya juga masih selalu ada untukku.
“Sya, bel udah bunyi tuh. Masuk yuk, takut kalo telat”. “Tumben amat lu nis.
Nggak kesambet kan ? biasanya dulu juga agak ntar-ntaran aja”. Kami tertawa dan
berlari masuk kelas. Di samping kelas kami bertemu dengan angel. “Hei sayang,
masuk gih. Jangan telat-telat ntar guru BK itu marah-marah sama kamu”,
perhatian rasya ke angel yang membuatku iri. “Iya iya, kamu kamu. Aku sayang
kamu”, jawaban angel lalu dibalas rasya. “Deeeeeeg”, suara hati dan jantungku
yang seakan terdengar di telinga. “Eh sya, aku masuk kelas dulu yaa.
Daaaaaaaa…”
Jam pelajaran
usai. aku sama ketiga sahabatku pergi ke restaurant tempat biasa kami berempat
nongkrong. “kamu aja yang nyetir nin, aku capek ” aku meminta nina mengendarai
mobil. Di dalam mobil, aku masih kepikiran tentang rsya dan angel. Sebenarnya
aku masih sayang rasya, tapi entahlah.
***
Nggak tahu
kenapa tubuhku panas. Kuambil telpon dan menghubungi rasya. Rasya selalu tempat
utama yang aku tuju meskipun hal itu sepele. “sya, bikinin aku surat ijin ngga
berangkat sekolah besok yaa. Lagi nggak enak badan nih”. Rasya mengiyakan tanpa
bertanya kabarku sedikitpun. Tak seperti biasanya rasya seperti itu. Aku
semakin merasa kesakitan dengan sikap rasya yang cuek denganku.
Pagi ketika
berangkat ke sekolah, sahabatku memberi kabar ke rasya kalau aku dirawat di
rumah sakit. Rasya terlihat kebingungan. Tapi ketika dia ingin menjengukku,
suara angel memecahkan keinginan rasya untuk pergi ke rumah sakit menjengukku. Mungkin
karena angel takut jika suatu saat nanti rasya kembali lagi denganku. “Ya sudah
sya, biar kita bertiga aja yang njenguk nisa”. “sampaikan maaf dan salamku untuk
dia ya nin, bel, nai”.
Sudah 3 hari aku
dirawat di rumah sakit. Sudah 3 hari pula rasya tanpa kabar. Mama dan papa
membawaku pulang ke rumah dan menyuruhku istirahat bahkan berangkat ke
sekolahnya ketika sudah sembuh.
Aku berangkat ke
sekolah dan menemui rasya. berbicara dengannya seakan tanpa masalah. “Eh sya,
besok kan hari libur. Kamu dan teman-yemanku aku ajak ke pantai yok? Bosen di
rumah terus. Aku juga kangen banget main bareng kamu lagi” ajakku dengan manja.
“Emm, oke deh nis. Ini demi kamu. Demi aku sayang kamu” kata-kata rasya yang
menyanjung hatiku.
Besoknya kami
berlima berangkat ke pantai dan berencana menginap di villa sekitar pantai. Tak
sengaja, angel mengikuti kita bahkan dia berpura-pura liburan disini juga.
“Loh, kalian juga disini. Sejak kapan ?” Tanya angel. “Sejak tadi ngel, iya nih
mumpung liburan 5 hari”. Rasya mendatangi kita. Dengan santainya rasya
mninggalkanku dan bersama dengan angel. Rasya aku kangen kamu, kamu kenapa
nggak nyadar.. tetesan air mata yang kesekian kalinya menyesali kepergian
rasya.
Lagi lagi angel
terus membuatku cemburu. Mungkin dia tahu jika aku masih sayang dengan rasya.
Angel sering membawakan makanan, sering mengajak main rasya. “Emangnya disini
rasya berlibur untuk angel atau giman yaa. Aku nyewa villa ini demi
kebersamaanku bareng dengan rasya, bukan demi kamu dan rasya”. Ketiga sahabatku
ternyata dari tadi melihatlu menangis dan ngomong sendiri “nisaaaa sayang, kamu
cantik loh, kamu bisa dapetin lebih dari dia. Toh dia dulu pernah menjadi pacar
kamu kan? Jangan biarkan wajah cantikmu terkena air mata yang nggak penting.
Disini katanya pengen seneng seneng. Move on dengan air yuk?” sahabatku yang
sering menenangkanku ketika aku mengingat semua kejadian bersama rasya. 2 hari
berlalu, 1 malam cepat berlalu. Rasya tak ada waktu sedikitpun untukku. Tetapi
aku semakin sayang dengan rasya. Mungkin aku yang bodoh.
Sejak
kebersamaan kita yang sering membuat angel takut akan hubungan mereka agak
renggang, sejak itulah angel melarang rasya menemuiku. Namun sejak itulah, aku
semakin ingin memperjuangkan rasya.
Beberapa
kegiatan aku lakukan untuk menarik perhatian rasya untukku lagi. mulai itulah
rasya sayang lagi sama aku. “nis, aku boleh ngomong nggak sama kamu?”. “Ya
boleh lah sya..”. jawabku asyik dengan makan di tempat samping pasar malam itu.
Dengan pelan-pelan rasya mengambil makananku dan memegang wajahku serta
menatapku dengan kasih sayang “nisa, maaf kalau selama ini aku cuek dengan
kamu. Maaf jika aku nggak perhatian lagi sama kamu. Maaf jika aku dulu pergi
meninggalkanmu” beribu maaf rasya ucapkan untukku. Aku memegang tangannya yang
masih menempel di wajahku, lalu melepaskan pegangannya “kenapa kamu ngomong
seperti itu sya? Itu sudah masa lalu kita” senyum pura-pura yang terhiasi di wajahku.
“tapi nis, aku masih sayang kamu. Meski aku sudah dengan yang lain, tapi hati
aku belum bisa berpindah dari kamu”. Aku menangis di hadapan rasya “bahkan aku
lebih dari itu sya. 2 tahun lebih aku mencoba move on dari kamu. 2 tahun lebih
aku munafik. Tapi aku tahu, kamu sudah dengan yang lain. Aku nggak bisa
memiliki kamu lagi, nggak bisa panggil kamu dengan kata sayang lagi, aku yakin
suatu saat nanti aku dan kamu bahagia tanpa ada kita di hati” sambil tersenyum
untuk mencairkan suasana. “sudah malam sya, kita pulang yuk? Aku anter kamu
dulu tp kamu yang nyetir yaa, pegel nih tanganku”. “Yaudah nis”, rasya
menatapku dengan wajah sedih.
Sejak malam itu
perasaanku semakin kacau. Dari percakapan aku dan rasya malam itu, kini membuat
rasya agak berubah dengan angel. Terlihat seakan rasya acuh dengan angel, dan lebih
memperhatikanku. Dengan perasaan sedikit malu, angel datang ke aku dan meminta
penjelasan yang sebenarnya. “nis, aku mau Tanya sama kamu. Rasya kenapa ya
akhir akhir ini rasya berubah? Pernah nggak dia cerita sama kamu?” penasaran
angel membuatku takut untuk menjawab. “aku nggak tahu ngel, coba kamu dekati
dia dan biarkan suasana membuatnya cerita sama kamu”. Entah apa yang dilakukan
angel setelah itu aku nggak tahu.
Sore menjelang
sunsite, rasya mengajakku pergi ke pantai dan memberi penjelasan tentang
perasaannya yang sekarang. Kami duduk di batuan besar dan memandangi
pemandangan di sore itu. Karena angel penasaran dengan apa yang terjadi dengan
rasya selama ini, angel dengan ngumpat ngumpat mengikuti kami. “kamu lihat deh
nis, aku masih ingat 2 tahun yang lalu, aku pernah marah dan tertawa bersamamu
karena sunsite. Dulu kamu juga pernah cemburu kan waktu aku berbicara sama
reni. Dulu kamu lucu loh nis. Kamu yang pencemburu, kamu yang protectif sama
aku. Tapi aku sekarang kangen hal itu nis. Kangen banget”. Rasya menoleh ke
arahku “tapi sya, lihat sunsitenya lebih indah dari yang dulu kan? Mungkin
karena waktu yang menyebabkan semua ini. Begitu pula dengan kamu (aku menoleh
ke arah rasya, kami berdua saling tatap-tatapan) kamu sekarang sudah sama
angel. Dia lebih dari aku. Jalani saja, pasti nanti indah pada waktunya”. “aku
punya angel, tapi perasaanku Cuma untuk kamu saat ini”. Angel mendengar
kata-kata itu, angel berusaha pergi tetapi angel tak sengaja menendang tempat
sampah di sekitar pantai. Kami berdua menoleh ke arah itu. Ternyata angel. Aku
berusaha mencoba mengejar angel yang sedang menangis dan berlari pergi, tetapi
rasya memegang tanganku erat dan membiarkan angel pergi.
“rasya, kamu tahu
yang dulu aku rasakan. Aku sama seperti angel yang saat ini. Lepaskan tanganku.
aku mau mengejar angel dan memberi
penjelasan. Lepas sya” aku menagis dan rasya melepas tanganku dengan wajah yang
kebingungan karena 2 hati sedang di dirinya.
Aku berlari tetapi
aku kehilangan jejak angel. “sudah nis, dia butuh waktu. Biarkan dia pergi”,
ujar rasya yang tadi lari mengikutiku. “butuh waktu ? kamu bilang butuh waktu ?
kamu yang butuh waktu !” aku pergi meninggalkan rasya.
Paginya aku
bertemu dengan angel, aku berusaha menjelaskan semuanya dengan angel. Tetapi
angel tidak mau tahu dengan semuanya. “alahh, sudahlah nis. Aku tahu kamu masih
sayang sama rasya kan ? Jangan munafik juga kamu”. “tapi ngel, semuanya itu
nggak seperti yang kamu kira. Aku pernah berada di posisimu. Aku sekarang
merelakan semuanya.” aku menjelaskan semuanya tetapi angel pergi
meninggalkanku.
Aku berusaha
mencari ide agar bisa mempertemukan angel dan rasya. Kebetulan aku sekarang
dekat dengan rizky teman nina, aku meminta bantuan untuk mempersiapkan semuanya
tentang ide yang aku punya. Aku hubungi angel dan rasya lewat BBM. Tiba
keduanya di tempat yang telah aku dan rizky rancang. “kamu ngapain disini sya?”
Tanya angel kecewa. “aku disini mau nemui nisa. Kamu sendiri?” sebelum angel
menjawab, aku dan rizky datang menghampiri mereka. Aku berusaha menyatukan
mereka lagi “angel. Memang iya, rasya pernah menjadi pacarku. Tetapi sekarang
aku nyaman dengan dia menjadi sahabatku. Kamu jangan salah paham, dia hanya
kenanganku”. Dengan tatapan penuh Tanya rasya menatapku, mungkin dia sedikit
kecewa “iya ngel, kamu yang sekarang jadi pacar aku. Meski hati aku belum
sepenuhnya untuk kamu. Tapi aku yakin suatu saat nanti aku dan kamu bisa
berumah tangga” rasya melanjutkan kata-kataku. “Oiya, aku juga mau ngenalin ke
kalian. Ini rizky, dia… “ “aku pacar nisa” sahut rizky. Aku tersenyum nyegir
melihat wajah rizky. “emmmm, pantes” ucap angel, angel lalu di peluk rasya. Kami
berempat menjadi coupledate di pantai hiasanku dan pacar baruku, rizky.
Memang kita perlu
bersabar dalam menjalani hubungan. Hidup itu penuh misteri. Salah satunya
cinta. Cinta tidak bisa ditebak. Dengan siapa kita berpacaran nanti, dengan
siapa kita berjodoh nanti. Karena jodoh semua ada yang ngatur. Tinggal hati
kita yang yakin untuk menjalaninya. Selamat berjuang untuk kalian yang berusaha
move on dan mencari cinta sejati :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar