KAYA DAN SUKSES BUKAN SERAKAH
Oleh : Fida Hidayatul Rafi’ah
Aku
Fida Hidayatul Rafi’ah. Aku adalah salah satu siswa lulusan SMA N 1 Gubug,
kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan. Dan sekarang ini menjadi mahasiswi
Universitas Diponegoro Semarang Jurusan S-1 Kimia Fakultas Sains dan Matematika
angkatan 2013.
Aku
lahir tanggal 1 Februari 1996, aku berasal dari keluarga yang sederhana,
keluarga yang tinggal di kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Aku anak pertama dari
tiga bersaudara. Ayahku bernama Minaji Setiawan, Ibuku bernama Partinah. Ayahku
tidak mempunyai pekerjaan tetap. Ibuku pun seorang rumah tangga. Namun mereka
tidak menjadikan profesinya sebagai penghalang untuk membiayai sekolah kami
bertiga. Begitupun dengan diriku, profesi mereka adalah penyemangat utama
untukku. Semangat meraih mimpi dan cita-citaku. Menjadikan aku dan adik-adikku
sebagai orang yang bermanfaat adalah salah satu visi mereka dalam hidup.
“TERIMKASIH AYAH IBU”. Kami keluarga yang penuh cinta kasih diantara bersama.
Keluarga yang mengharapkan perubahan ekonomi kea rah yang lebih baik. Bukan
hanya itu, keluarga yang berharap mendapatkan pendidikan selayaknya orang yang
berhasil dengan pendidikan tinggi. Itu alasan orang tua kami selalu
menyemangati dan memotivasi kami. Mereka tidak menginginkan kami bermasa dean
yang suram, masa depan tanpa harapan.
Sewaktu
SMA, aku mempunyai impian “jika aku belajar di perguruan tinggi nanti, aku
ingin menjadi salah satu orang yang tercatat namanya sebagai orang yang menoreh
prestasi di kampus, sebagai orang yang mampu membawa nama baik keluarga, asal
sekolah, dan sekitar.
Tebatasnya
biaya untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi membuat orang tuaku
semakin berpikir keras. Akhirnya, aku mendengar dan menemukan program beasiswa
dari pemerintah,“Beasiswa Bidik Misi”. Aku mendambakan Universitas Diponegoro
sebagai rumah untukku menuntut ilmu. Syukur Alhamdulillah terucap, aku lolos
bidik misi di kampus tersebut.
Aku
kuliah di Universitas Diponegoro bukan semata-mata untuk menjadi mahasiswa
pasif yang hanya kuliah lalu pulang. Aku mengikuti organisasi di jurusanku dan
ingin mengikuti organisasi yang lingkupnya lebih besar, karena manfaat
organisasi adalah untuk memperluas link (banyak berkenalan dengan orang hebat
), mampu memanagemen waktu dan berharap mampu menjadi pribadi yang benar-benar
berprestasi di dalam kampus dan luar kampus.
Bercermin
dari hasil nilai yang aku peroleh di semester 1, nilai yang tidak pernah aku
bayangkan, dan mungkin nilai yang tidak pernah diinginkan oleh mahasiswa.
Namun, dilain sisi, hasil yang semakin membuatku semangat dan semakin semangat
lagi.
Dan
disini mulai kubumbungkan sayap semangatku. Aku berharap kuliah selama 8
semester ini dapat aku tempuh selam 3,5 tahun karena aku tidak ingin selalu
merepotkan kedua orang tua. Lulus diumur 21 tahun dan mempunyai wawasan dan
pengetahuan yang berbobot serta menjdi orang yang sangat wibawa dalam bicara
dan tindakan menjadi suatu hal yang patut dibanggakan. Ketika waktu pengumuman
wisuda, namaku terpanggil menjadi mahasiswi pemegang IP cumlaudge dan tertinggi
diangakatanku. Berjalan menuju podium untuk mengambil penghargaan, menerima
gulungan yang membuatku menangis dan bersyukur. Keberhasilan yang membuat orang
tuaku meneteskan air mata yang turut mengiringi jalanku menuju ke hadapan
mereka membawa gulungan tadi.
“Belajar seperti layaknya anak kecil”
selalu berani berkhayal lalu mencapainya, belajar tertawa dan optimis tanpa
putus asa. Selalu berjalan, terjatuh dan menangis lalu bangkit dan bisa tertawa
lagi.
Untuk
kesuksesanku, hal yang pertama yang ingin ku persembahkan kepada kedua orang
tuaku adalah memberangkatkan haji mereka.
Mempunyai
cita-cita terbesar di kehidupan adalah keharusan yang dimiliki oeh setiap
manusia. Termasuk aku, di dunia ini cita-cita terbesarku adalah menjadi seorang
DIREKTUR. Tepatnya “DIREKTUR PERTAMINA”. Dan mendirikan serta memimpin
perusahaan sendiri.
Sukses
yang kuinginkan dan kuterima tidak akan ada ujungnya. Membiayai sekolah kedua
adikku agar menjadi orang yang bermanfaat (kemudian sukses) adalah kewajiban
untukku. Dua orang ( 1 laki-laki dan 1
permpuan ) yang menjadi penyemangat hidupuku selain ayah dan ibuku. Dua
malaikatku yang selalu menanyakan kabarku, suatu saat akan kutanya “ bagaimana
pendidikanmu disana? Sukses kan ?”. lalu tiba-tiba ada kabar baik yang
menghiasi wajah dianatar kita sekeluarga. Menginginkan Galuh Naji Firmansyah
memakai seragam berbintang di bahu, Firyal Salsa Sabrina mendapatkan gelar “dr”
itu termasuk mimpi dan citaku di masa depan.
Mimpiku
menjadi direktur, bekerja sama dengan orang-orang sukses. Medirikan perusahaan
sendiri. Dan aku sukses muda. Sukses untukku, sukses untuk kedua orang tuaku,
sukses untuk adik-adikku, untuk sekitarku dan untuk dia. Dia sebagai
pendampingku. Pendamping yang dewasa, sukses, mempunyai jenjang pendidikan
minimal sedrajat denganku, mengerti asal usuk kehidupanku, keadaan orang tuaku,
seagama dan yang searah menuju kebaikan. Menikah di umur 26-28 tahun.
Aku
mengerti, kesuksesan yang aku inginkan semua bermunculan karena materi, karena
uang.
Bukannya aku serakah, namun tanpa uang semua tidak
akan menjadi apa-apa. Semua tidak akan menjadi siapa-siapa.
Seperti
yang dikatakan seniorku, kak Roy Wibisono “aku tidak ingin mendapatkan gaji
banyak, tetapi aku ingin memberi gaji banyak” . Memang benar, memberi gaji
banyak sama halnya dengan kita harus sukses dulu karena mendapatkan gaji dari
ilmu yang kita dapat lalu disumbangkan dengan orang lain.
-Tekat dan kemampuan yang dimiliki sekarang dan
nanati akan berdampak pada perubahan di masa depan-
Semangat merubah kehidupan ! Manusia tanpa visi,
sama halnya manusia menginginkan mati tanpa tujuan. (Rabu, 9/4/2014. 23:30)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar