Kamis, 27 November 2014

KAYA DAN SUKSES BUKAN SERAKAH



KAYA DAN SUKSES BUKAN SERAKAH

Oleh : Fida Hidayatul Rafi’ah
            Aku Fida Hidayatul Rafi’ah. Aku adalah salah satu siswa lulusan SMA N 1 Gubug, kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan. Dan sekarang ini menjadi mahasiswi Universitas Diponegoro Semarang Jurusan S-1 Kimia Fakultas Sains dan Matematika angkatan 2013.
            Aku lahir tanggal 1 Februari 1996, aku berasal dari keluarga yang sederhana, keluarga yang tinggal di kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Aku anak pertama dari tiga bersaudara. Ayahku bernama Minaji Setiawan, Ibuku bernama Partinah. Ayahku tidak mempunyai pekerjaan tetap. Ibuku pun seorang rumah tangga. Namun mereka tidak menjadikan profesinya sebagai penghalang untuk membiayai sekolah kami bertiga. Begitupun dengan diriku, profesi mereka adalah penyemangat utama untukku. Semangat meraih mimpi dan cita-citaku. Menjadikan aku dan adik-adikku sebagai orang yang bermanfaat adalah salah satu visi mereka dalam hidup. “TERIMKASIH AYAH IBU”. Kami keluarga yang penuh cinta kasih diantara bersama. Keluarga yang mengharapkan perubahan ekonomi kea rah yang lebih baik. Bukan hanya itu, keluarga yang berharap mendapatkan pendidikan selayaknya orang yang berhasil dengan pendidikan tinggi. Itu alasan orang tua kami selalu menyemangati dan memotivasi kami. Mereka tidak menginginkan kami bermasa dean yang suram, masa depan tanpa harapan.  
            Sewaktu SMA, aku mempunyai impian “jika aku belajar di perguruan tinggi nanti, aku ingin menjadi salah satu orang yang tercatat namanya sebagai orang yang menoreh prestasi di kampus, sebagai orang yang mampu membawa nama baik keluarga, asal sekolah, dan sekitar.
            Tebatasnya biaya untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi membuat orang tuaku semakin berpikir keras. Akhirnya, aku mendengar dan menemukan program beasiswa dari pemerintah,“Beasiswa Bidik Misi”. Aku mendambakan Universitas Diponegoro sebagai rumah untukku menuntut ilmu. Syukur Alhamdulillah terucap, aku lolos bidik misi di kampus tersebut.
            Aku kuliah di Universitas Diponegoro bukan semata-mata untuk menjadi mahasiswa pasif yang hanya kuliah lalu pulang. Aku mengikuti organisasi di jurusanku dan ingin mengikuti organisasi yang lingkupnya lebih besar, karena manfaat organisasi adalah untuk memperluas link (banyak berkenalan dengan orang hebat ), mampu memanagemen waktu dan berharap mampu menjadi pribadi yang benar-benar berprestasi di dalam kampus dan luar kampus.
            Bercermin dari hasil nilai yang aku peroleh di semester 1, nilai yang tidak pernah aku bayangkan, dan mungkin nilai yang tidak pernah diinginkan oleh mahasiswa. Namun, dilain sisi, hasil yang semakin membuatku semangat dan semakin semangat lagi.
            Dan disini mulai kubumbungkan sayap semangatku. Aku berharap kuliah selama 8 semester ini dapat aku tempuh selam 3,5 tahun karena aku tidak ingin selalu merepotkan kedua orang tua. Lulus diumur 21 tahun dan mempunyai wawasan dan pengetahuan yang berbobot serta menjdi orang yang sangat wibawa dalam bicara dan tindakan menjadi suatu hal yang patut dibanggakan. Ketika waktu pengumuman wisuda, namaku terpanggil menjadi mahasiswi pemegang IP cumlaudge dan tertinggi diangakatanku. Berjalan menuju podium untuk mengambil penghargaan, menerima gulungan yang membuatku menangis dan bersyukur. Keberhasilan yang membuat orang tuaku meneteskan air mata yang turut mengiringi jalanku menuju ke hadapan mereka membawa gulungan tadi.
       “Belajar seperti layaknya anak kecil” selalu berani berkhayal lalu mencapainya, belajar tertawa dan optimis tanpa putus asa. Selalu berjalan, terjatuh dan menangis lalu bangkit dan bisa tertawa lagi.
            Untuk kesuksesanku, hal yang pertama yang ingin ku persembahkan kepada kedua orang tuaku adalah memberangkatkan haji mereka.
            Mempunyai cita-cita terbesar di kehidupan adalah keharusan yang dimiliki oeh setiap manusia. Termasuk aku, di dunia ini cita-cita terbesarku adalah menjadi seorang DIREKTUR. Tepatnya “DIREKTUR PERTAMINA”. Dan mendirikan serta memimpin perusahaan sendiri.
            Sukses yang kuinginkan dan kuterima tidak akan ada ujungnya. Membiayai sekolah kedua adikku agar menjadi orang yang bermanfaat (kemudian sukses) adalah kewajiban untukku. Dua orang  ( 1 laki-laki dan 1 permpuan ) yang menjadi penyemangat hidupuku selain ayah dan ibuku. Dua malaikatku yang selalu menanyakan kabarku, suatu saat akan kutanya “ bagaimana pendidikanmu disana? Sukses kan ?”. lalu tiba-tiba ada kabar baik yang menghiasi wajah dianatar kita sekeluarga. Menginginkan Galuh Naji Firmansyah memakai seragam berbintang di bahu, Firyal Salsa Sabrina mendapatkan gelar “dr” itu termasuk mimpi dan citaku di masa depan.
            Mimpiku menjadi direktur, bekerja sama dengan orang-orang sukses. Medirikan perusahaan sendiri. Dan aku sukses muda. Sukses untukku, sukses untuk kedua orang tuaku, sukses untuk adik-adikku, untuk sekitarku dan untuk dia. Dia sebagai pendampingku. Pendamping yang dewasa, sukses, mempunyai jenjang pendidikan minimal sedrajat denganku, mengerti asal usuk kehidupanku, keadaan orang tuaku, seagama dan yang searah menuju kebaikan. Menikah di umur 26-28 tahun.
            Aku mengerti, kesuksesan yang aku inginkan semua bermunculan karena materi, karena uang.
Bukannya aku serakah, namun tanpa uang semua tidak akan menjadi apa-apa. Semua tidak akan menjadi siapa-siapa.
            Seperti yang dikatakan seniorku, kak Roy Wibisono “aku tidak ingin mendapatkan gaji banyak, tetapi aku ingin memberi gaji banyak” . Memang benar, memberi gaji banyak sama halnya dengan kita harus sukses dulu karena mendapatkan gaji dari ilmu yang kita dapat lalu disumbangkan dengan orang lain.
-Tekat dan kemampuan yang dimiliki sekarang dan nanati akan berdampak pada perubahan di masa depan-
Semangat merubah kehidupan ! Manusia tanpa visi, sama halnya manusia menginginkan mati tanpa tujuan. (Rabu, 9/4/2014. 23:30)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar