Pagi itu ayah mendekapku dengan kasih sayang. Ia
mengajarkanku arti sebuah kedewasaan. Usiaku yang bertambah saat itu
menunjukkan sikap ayah yang begitu protektifnya terhadapku. Hari itu juga ayah
pergi ke Jambi sebagai tanda kerja kerasnya mencari uang untuk kami. Jarak
rumah dengan kota itu amatlah jauh untukku. Jika aku menjemputnya, tak mungkin
uang tabunganku cukup. Jika aku bertanya tentangnya, tak mungkin wajahku tepat
berada di depan wajahnya yang terlihat mulai keriput itu. Jika aku bertanya
tentang makanannya, tak mungkin ia jujur, karena ia tak ingin menyakiti
keluarga di rumah. Ia adalah seseorang yang tak pernah lelah memberiku
semangat, memberiku motivasi, menjadi guru hebat untukku.
“Nak, ayah sudah sampai tempat kerja. Doakan kerja
ayah tak ada kendala, agar apapun yang menjadi keinginanmu dapat terjadi secara
nyata. Agar hidup kita tak hanya banyak memandang orang bergaya. Agar terbayar
hutang keluarga juga. Ayah tidak mau menjadi ayah yang tidak bisa membuatmu
tertawa, ayah ingin ketika mata ayah terbuka ayah bisa melihat anak-anak ayah
bahagia”. Itu singkat isi percakapan antara aku dan ayah lewat telepon genggam
berwarna hitam yang kecil itu.
Aku memandang wajah ibu, wajah yang pernuh harapan,
yang penuh penantian akan keberhasilanku suatu saat. Sangat besar harapannya.
Dari awal aku memasuki bangku kuliah, ibu dan ayah
selalu memberi motivasi untukku. Semua harus terlewatkan dengan indah, kata
mereka.
Kali ini, tepat di tahun 2015, usiaku bertambah. Aku
merasa sangat berat untuk menjalani semua, tetapi beban yang aku bawa tak
seberat beban yang ibu dan ayah. Tak ada yang mampu mendahului ayah dan ibuku
untuk memberiku selamat dan doa. Jarak tak pernah membuat ayah lupa akan hari
ulang tahun anak-anaknya, termasuk hari ulang tahunku.
“Umur kamu sudah dewasa nak, kalau ada apa-apa
cerita sama ayah. Jangan menutupi apapun dari ayah. Saat ini sifat labil sedang
berdiri kokoh di kedua pundakmu, nak. Jika butuh apa-apa, ngomong sama ayah”.
Suara ayah menasihatiku lewat telpon. Entah malaikat apa yang merasuki tubuhku,
hingga tangisanku tak hentinya bercucuran.
Berbeda tempat, ibu berharap dengan usiaku yang
bertambah membuatku semakin dewasa, cepat lulus kuliah, dan segera mengangkat
adik-adikku menjadi orang sukses di kemudian hari.
Kebetulan, aku kuliah mengambil beasiswa. Beasiswa
yang aku dapat tak sebanding dengan uang yang diberi ayah untukku selama masa
kuliah. Tahun lalu, aku seakan menjadi remaja yang boros. .
***
“Mbak, tadi ada yang bilang sama aku. Katanya
‘kakakmu sudah gedhe tapi kenapa masih kudet, hpnya juga masih dibawah standar,
masih culun, gak modis, padahal mahasiswa. Kalah saing sama yang lain’. Jujur
mbak, aku sangat malu. Aku kasihan sama mbak, kenapa uang mbak tidak mbak
gunakan untuk kebutuhan mbak, mbak harus melihatkan penampilan mbak sebagai
seorang mahasiswa”. Itu ungkapan salah satu adikku dalam bercerita dalam waktu
sepekan setelah usiaku 19 tahun.
Begitu lirih aku menjawabnya. Umur adikku saat itu 10
tahun. Belum cukup umur. Bagiku saat itu dia belum mengerti tentang maksud dari
semua ini. Dalam hati, sebenarnya aku merasa sakit. Tapi apalah, jika uang
tabunganku aku gunakan gunakan untuk kebutuhan yang tidak penting belum tentu
aku bisa makan esok hari.
***
Sifat dari kami bertiga jauh berbeda. Kedua adikku berbeda
denganku. Aku yang kata mereka culun, tidak modis, dan sebagainya tetapi
memeiliki kepandaian yang lebih. Yang suatu saat akan aku gunakan untuk
mengubah nasib. Adikku yang pertama pandai dalam berolah raga, hanya saja dalam
kegiatan akademis kurang. Untuk adikku yang kedua, dia gadis yang cantik,
putih, pintar. Mampu menyaingi model kecil di luaran sana. Hanya saja, waktu
belum mempertemukan adikku dengan media yang mampu menjadikannya terkenal
karena kecantikan dan kepandainnya. Dari perbedaan kami, selalu saja menjadi
perbincangan untuk orang lain. Selalu dan selalu yang kami punya dianggap
rendah. Karena bagi mereka, keluarga kami tak mampu beli apapun. Perjuangan
yang penuh tantangan.
Kerap kali, keluargaku mendapat lemparan batu besar
di hati. Kami selalu menjadi bahan pembicaraan mereka. Hidup kami sangat
sederhana. Gubuk kecil peninggalan nenek adalah istana bagi kami. Salah satu
keinginan terbesar ibu adalah membangun rumah yang lebih baik dari gubuk ini.
Tak lain lagi,semua keinginan ibu selalu terbaca oleh mataku dan terdengar oleh
telingaku.
“Ibu, aku lelah dengan semua ini. Aku terpukul saat
melihat adik bergaul dengan temannya. Aku ingin sekali melihat ayah dan ibu
duduk manis di rumah. Rumah berhias sesuai yang ayah dan ibu harapkan, nanti.
Jujur ibu, aku pengen melihat itu semua”. Ibuku hanya tersenyum untukku.
Senyuman itu seakan bermaksud untuk menjawab perkataanku. Mata indahnya juga
mengeluarkan air yang membuatku ikut
dalam kesedihan. Dia mungkin juga sangat lelah.
***
Ayah pulang dari Jambi, tempat kerjanya mengais
rejeki. Kata ayah jika ayah tetap melanjutkan kerjanya disana, maka kebutuhan
hidup kami sekeluarga belum terpenuhi dengan cukup. Ayah kembali memutuskan
untuk bekerja sebagai penjual es keliling. Ayah kerja tak mengenal lelah,
lapar, haus, dan musim. Saat hujan pun ayah tetap bekerja, padahal pekerjaan
ayah sangat berpedoman pada musim. Sungguh, beliau adalah seorang yang hebat.
Seorang pemotivator terkenal seperti ‘Mario Teguh’ pun terkalahkan oleh ayah.
Aku bangga memiliki ayah, dan ibu yang begitu
hebatnya dalam berjuang menjalani hidup. Aku bangga dengan kisah perjalanan
cinta mereka, hingga kisahnya mampu menandingi kisah cinta antara Cinderella
dan Pangeran yang bertemu di istana, namun ayah dan ibu bertemu di gedung
bangunan yang akan dibangun pada tahun 1992 di kota Jakarta.
Aku bangga mempunyai ayah dan ibu yang hatinya
sekuat dan setegar itu, hingga kuatnya mampu mengalahkan kekuatan baja. Aku
bangga tentang segalanya yang mereka miliki, dan yang mereka beri untuk kami.
Aku bangga memiliki kedua malaikat yang baik seperti mereka. Dan aku ingin
menjalani kisah hidup yang penuh semangat seperti mereka, namun bukan untuk
nasib perekonomian. Karena aku ingin menjadi lebih baik dari mereka.
*****