Sabtu, 23 Mei 2015

SCBM (2)



Bukan masalah seragam yang aku kenakan saat ini, namun masalahh pendewasaan yang mendewakan kehidupan. Mereka pikir aku bukan lagi anak sekolah yang sudah tidak pantas memakai putih abu-abu. Mereka piker aku dewasa sebelum waktunya. Sebenarnya tidak masalah.
“Selamat pagi pak”, sapaku terhadap tukang bersih-bersihh taman tempat aku menunggu waktu sebelum bangun baru memenuhi otakku, benzene mungkin, atau gambar vibrasi yang banyak melebihi gambar komik anime yang sering aku baca.
Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar dan serasa mendeka kepadaku. Tak lain adalah si krab, teman akrabku. Dengan cara asyiknya ngibully aku, namun sayangnya senjata makan tuan. Iya, kata mereka juga aku adalah jomblo yang kedap dengan kata-kata. Sulit mengalahkanku dengan kata-kata. Oh iya, maksud aku tadi single, bukan jomblo.
Aku memasuki kelas dengan sedikit loyo. Aku piker ini bukan aku yang biasanya. Apa karena efek petikan gitar yang belm selesai karena teriakan adikku? Bukan! Ini bukan masalh gitar itu, ini masalah hati. Fix, aku galau!
“lu netesin air mata? Kenapa? Apa karena Doni lagi? Sudah lah, itu orang biarkan semaunya sendiri. Kalau dia sayang pasti suatu saat akan mencari lu lagi!”. Mungkin Krab lelah menasihatiku. Yah, bagaimana lagi. Hati tak bisa memungkiri.
Aku tersenyum melihat tingkat temanku yang asyik membaca buku diaryku yang tadi pagi diambilnya secara sengaja di tasku. “Ebusyet, baru kali ini gue lihat lu segalau ini. Parah! Memang butuh kue cubit satu kilo nih buat di Doni. Sabar ya Jeng. Kalau jodoh emang gak kemana. Papa mamaku juga gitu kok, kalau gak jodoh pasti gak bakal ngasilin gue yang secantik ini” celetuknya. Heran dengan ini orang, cerewet, jail, terkadang bisa songong, tapi selama ini aku belum pernah melihatnya nangis. Pernah sih satu kali, pas kakinya disengah lebah. Memar banget.
“Nanti temenin aku ya, tadi ayah nyuruh aku ke bengkel. Mobil ayah lagi riweh”. Dia mengangguk seakan mengiyakan perkataanku. Dia tidak pernah menidakkan semua yang aku mau.
Kami berdua memasuki mobil menuju bengkel.
Melesat tanpa melihat kecepatan mobil. Tepat di lampu merah pemberhentian lalu lintas, seorang penari entah itu perempua atau lelaki. Dia melekuk-lekukkan tangan dan tersenyum tanpa jelas pandangannnya kemana. Menuju mobilku. Kubuka kaca mobil, sedikit yang ku beri. Mata itu. Iya mata yang seakan pernah aku kenal. Lampu hijau hidup, itu tandanya untukku melanjutkan perjalanan.
Tepat di bengkel.  Aku mencoba menanyakan Doni kepada kakaknya yang tak sengaja juga service di tempat yang sama. “Hei kak, apa kabar?”. Si krab mencoba mengkode untuk tidak terlalu menanyakan hal tak penting itu.
“Kabar baik Ra, kok lama kakak gak lihat kamu ke rumah ya?” tanyanya kepadaku lagi. “Oh iya kak, lagi banyak agenda yang membuat Dira belum sempet mampir rumah. Salam bat tante sama om ya”. Aku sembari pergi mennggalkan lelaki yang ku kenal itu.
Mobil sudah jadi, tandanya aku dan Nenes harus melanjutkan perjalanan untuk pulang. “ Ra, mampir ke tempat biasa sebentar gimana? Entar aku deh yang nginjinin kamu ke om. Biar gak dimarahin. Aku tau kok, kamu butuh hal yang membuatmu bisa menghilangkan, bukan maksudku melupakan masalahmu”. Entah ini anak kerasukan apa, padahal tiap hari si judes dan ngangenin ini sering kali bicara ‘guwe elu’.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar