Selamat malam dunia. Aku memulai menulis cerita tentang
sebuah kisah yang menjadikanku enggan untuk berbagi ke setiap orang yang lalu
lalang di depanku sejak tadi pagi. Tak satupun dari mereka ku kenal. Lagi dan
lagi aku merasa jatuh hati pada satu hati yang
kerap kali membuatku tertawa bahkan tersenyum. ‘pengen move on tapi ora
iso’. Move on tak semudah yang didengar. Semua berkata dari hati. Bergumam
dalam rasa. Pahit memang ada, namanya juga rasa.
Bandana kelinci warna biru yang ku kenakan malam ini membuatku
geli dengan sendirinya. Tak seperti biasanya. Aku hanya ingin memutar kenangan
manis waktu masa putih abu-abu dulu.
Tentang masa itu banyak cerita yang meyakinkanku berdiri
pada satu hati itu sulit. Banyak tikungan. Tinggal setia berpegang teguh.
Malam itu, bintang terlihat terang. Seakan tergambar
emoticon smile seperti wajahnya waktu tanpa aku. ‘jreng jreng’ ku letakkan buku
hadiah snack bergambar kelinci itu. Aku meraih gitar dan mendendangkan lagu
kesukaanku “menangis semalam”. Bukan seperti isi hatiku sih, lebih tepatnya
lagu itu enak dijadikan lagu penghantar tidur. Aransemennya juga tak semellow
suara Audy yang semestinya. “kakak, itu sinar gitarnya nanti putus lagi loh !
aku besok ada penilaian seni. Baru aku ganti juga”, teriak adikku yang jauh dari
postur tubuhku. Dia imut, cantik, penampilannya modis, pipinya berlesung pipit,
rambutnya terurai panjang. Memang iya jika dilihat secara sepintas kami berdua
tidak ada persamaannya.
“iyaaa”, jawabku sambil meletakkan alat itu.
Waktu berputar dengan cepat. Adalah tanda malam sudah mulai
larut. Aku ingin menunggui bintang yang terang itu. Aku tak mau membiarkannya
pergi begitu saja, dengannya tiap malam ku temukan mimpi indah. Itupun kalau
musim kemarau.
Hujan turun seketika. Awan gelap menutupi sinarnya. Tak apa
sih, masih ada suara jatuhan air di blakon kamarku menemani malam menjelang
tidurku.
Malam yang penuh tantangan. Bertemu dengan kisah lama
sebelum waktuku memakai abu-abu putih. Tiba-tiba dasi biruku yang ku kenakan
waktu jalan setelah mengisi acara paduan suara terputus karena pegangan lelaki
yang sekarang memakai baju dinas itu. Sehari setelah itu ternyata aku dan dia
mulai benar-benar putus hubungan. Kita hanya sebatas masalalu. Cerita tentang
kitapun terbatas dengan kecamatan.
Malam itu, aku bertemu dengan bayangan orang yang masih
samar-samar untukku lihat. Aku mencoba mendekatinya, semakin dekat dan semakin
dekat. Bukan wajah dia yang ku temui, namun guling yang kubawa sewaktu tidurku.
Sial ! pertemuannya gagal di tengah jalan.
“pagi sayaaaang. Bangun sudah jam 6, nanti sekolahnya telat.
Sekalian nanti bawa mobil Ayah ke bengkel”, kata Ayah. Hmmmm.. ngantuk Yaaaaah.
Ayah mencoba membangunkanku dengan paksa. Ayah tahu semaleman aku belum
belajar, padahal ada kuis rutin tentang reaksi
yang panjang banget. Reaksi adalah teman baruku sejak 2 tahun yang lalu.
Aku dengan cepat berangkat sekolah.
Hati-hati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar