Sabtu, 23 Mei 2015

SCBM (1)



Selamat malam dunia. Aku memulai menulis cerita tentang sebuah kisah yang menjadikanku enggan untuk berbagi ke setiap orang yang lalu lalang di depanku sejak tadi pagi. Tak satupun dari mereka ku kenal. Lagi dan lagi aku merasa jatuh hati pada satu hati yang  kerap kali membuatku tertawa bahkan tersenyum. ‘pengen move on tapi ora iso’. Move on tak semudah yang didengar. Semua berkata dari hati. Bergumam dalam rasa. Pahit memang ada, namanya juga rasa.
Bandana kelinci warna biru yang ku kenakan malam ini membuatku geli dengan sendirinya. Tak seperti biasanya. Aku hanya ingin memutar kenangan manis waktu masa putih abu-abu dulu.
Tentang masa itu banyak cerita yang meyakinkanku berdiri pada satu hati itu sulit. Banyak tikungan. Tinggal setia berpegang teguh.
Malam itu, bintang terlihat terang. Seakan tergambar emoticon smile seperti wajahnya waktu tanpa aku. ‘jreng jreng’ ku letakkan buku hadiah snack bergambar kelinci itu. Aku meraih gitar dan mendendangkan lagu kesukaanku “menangis semalam”. Bukan seperti isi hatiku sih, lebih tepatnya lagu itu enak dijadikan lagu penghantar tidur. Aransemennya juga tak semellow suara Audy yang semestinya. “kakak, itu sinar gitarnya nanti putus lagi loh ! aku besok ada penilaian seni. Baru aku ganti juga”, teriak adikku yang jauh dari postur tubuhku. Dia imut, cantik, penampilannya modis, pipinya berlesung pipit, rambutnya terurai panjang. Memang iya jika dilihat secara sepintas kami berdua tidak ada persamaannya.
“iyaaa”, jawabku sambil meletakkan alat itu.
Waktu berputar dengan cepat. Adalah tanda malam sudah mulai larut. Aku ingin menunggui bintang yang terang itu. Aku tak mau membiarkannya pergi begitu saja, dengannya tiap malam ku temukan mimpi indah. Itupun kalau musim kemarau.
Hujan turun seketika. Awan gelap menutupi sinarnya. Tak apa sih, masih ada suara jatuhan air di blakon kamarku menemani malam menjelang tidurku.
Malam yang penuh tantangan. Bertemu dengan kisah lama sebelum waktuku memakai abu-abu putih. Tiba-tiba dasi biruku yang ku kenakan waktu jalan setelah mengisi acara paduan suara terputus karena pegangan lelaki yang sekarang memakai baju dinas itu. Sehari setelah itu ternyata aku dan dia mulai benar-benar putus hubungan. Kita hanya sebatas masalalu. Cerita tentang kitapun terbatas dengan kecamatan.
Malam itu, aku bertemu dengan bayangan orang yang masih samar-samar untukku lihat. Aku mencoba mendekatinya, semakin dekat dan semakin dekat. Bukan wajah dia yang ku temui, namun guling yang kubawa sewaktu tidurku. Sial ! pertemuannya gagal di tengah jalan.
“pagi sayaaaang. Bangun sudah jam 6, nanti sekolahnya telat. Sekalian nanti bawa mobil Ayah ke bengkel”, kata Ayah. Hmmmm.. ngantuk Yaaaaah. Ayah mencoba membangunkanku dengan paksa. Ayah tahu semaleman aku belum belajar, padahal ada kuis rutin tentang reaksi  yang panjang banget. Reaksi adalah teman baruku sejak 2 tahun yang lalu.

Aku dengan cepat berangkat sekolah.
Hati-hati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar