Kamu Tanya siapa aku ? sejelas
itukah aku bagimu? Sebenarnya aku adalah tempatmu saat kamu bercerita tentang
masalahmu, dari cerita suka maupun duka. Iya, aku yang selama 3 tahun mencoba
berdiri tegar menemanimu, tapi seribu sayang aku adalah orang yang tak pernah
terlihat bagimu. Bodoh memang diriku, mencintai dalam kesunyian di keramaian
suara. Banyak orang beribut, tapi aku tetap menjadi orang yang pengecut. Aku
tak pernah pergi dalam ketidaklepasanku. Di pertigaan singgasana ternyata ada
gadis yang lebih sakit dariku. Lalu apa kami akan tetap diam dalam rindu dan
dendam yang mencekam? Sedang kamu tak pernah berada dalam rasa yang sama,
bahkan menolehpun tidak sama sekali. Menjadi pengunjung yang belum jelas akan
statusnya antara menetap atau hanya singgah sementara itu memang tak pernah
diinginkan. Misal aku. Aku saat ini menjadi pengunjung yang tak jelas
statusnya, bahkan sewaktu-waktu aku akan terhempas dalama kejauhan yang
membuatku tak pernah mampu melihatmu.
Tuhan tidak menjanjikan hari-hari
tanpa sakit, tertawa tanpa kesedihan, matahari tanpa hujan, tetapi Dia
menjanjikan kekuatan untuk hari itu, kebahagiaan untuk air mata, dan terang
dalam perjalanan -milis Cetivase-
Sepuluh menit aku tertidur dalam
kelelahanku, aku terbangun spontan, terusik suara klakson pemberi kabar yang
berada tepat di depan rumahku. Aku merindu dengan orang yang salah. Cincin yang
melingkar di jari tengahnya dulu adalah cincin pengikat hubungan. Tak pernah ku
dengar sebelumnya tentang kabar ini. Karena yang aku rasa kamu adalah milikku.
Berada dalam rindu kekecewaan. Ku kira bunyi klakson itu adalah pertanda
untukku akan kabarmu. Ternyata yang aku terima lebih dari sekedar kabar,
sayang. Pak pos berlalu, tanpa ucap kata aku melangkah menuju kursi di teras.
Benarkah yang kurasa saat ini? Lantas apa maksud kata 3 tahun yang lalu, adakah
perasuk yang berada kuat di tubuhmu agar aku menjadi tulang rusukmu yang kau
akui patah namun hanya tergores? Lalu apa kabar gadis perindu akan rasa yang
sama itu? Bukan lagi menjadi cinta segitiga atau bangun datar apa itu. Rumit.
Saat ini aku tetap menjadi
perindu yang bisu, tanpa suara tanpa gaya. Saat siang menjadi malam, aku
menjadi bintang yang enggan muncul karena malu. Aku takut akan rindu ini.
Bertepuk tangan menjadi hasil kerjaku selama ini. Mungkin tak patut bagi
kalian. Mungkin menurut kalian aku harus pergi, dan pindah ke lain hati. Tetapi
itu bukan menjadi alasanku untuk menjadi terang dalam hati seseorang. Aku tetap
menjajaki hatinya. Meski terkadang aku
tak pernah teranggap. Sedih memang, tetapi aku tetap bertahan. Mungkin aku juga
bukan orang yang tegar, tetapi kali ini aku berusahha menjadi tegar. Setegar
batu karang yang diterpa ombak. Aku tak pernah mampu menghitung berapa lama
lagi aku akan merindu. Yang jelas, ku biarkan sang waktu berputar mendekatiku
dan menjawab keresahanku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar