Rabu, 11 Maret 2015

Singkat Kata Peresah Rindu.


Kamu Tanya siapa aku ? sejelas itukah aku bagimu? Sebenarnya aku adalah tempatmu saat kamu bercerita tentang masalahmu, dari cerita suka maupun duka. Iya, aku yang selama 3 tahun mencoba berdiri tegar menemanimu, tapi seribu sayang aku adalah orang yang tak pernah terlihat bagimu. Bodoh memang diriku, mencintai dalam kesunyian di keramaian suara. Banyak orang beribut, tapi aku tetap menjadi orang yang pengecut. Aku tak pernah pergi dalam ketidaklepasanku. Di pertigaan singgasana ternyata ada gadis yang lebih sakit dariku. Lalu apa kami akan tetap diam dalam rindu dan dendam yang mencekam? Sedang kamu tak pernah berada dalam rasa yang sama, bahkan menolehpun tidak sama sekali. Menjadi pengunjung yang belum jelas akan statusnya antara menetap atau hanya singgah sementara itu memang tak pernah diinginkan. Misal aku. Aku saat ini menjadi pengunjung yang tak jelas statusnya, bahkan sewaktu-waktu aku akan terhempas dalama kejauhan yang membuatku tak pernah mampu melihatmu.
Tuhan tidak menjanjikan hari-hari tanpa sakit, tertawa tanpa kesedihan, matahari tanpa hujan, tetapi Dia menjanjikan kekuatan untuk hari itu, kebahagiaan untuk air mata, dan terang dalam perjalanan -milis Cetivase-
Sepuluh menit aku tertidur dalam kelelahanku, aku terbangun spontan, terusik suara klakson pemberi kabar yang berada tepat di depan rumahku. Aku merindu dengan orang yang salah. Cincin yang melingkar di jari tengahnya dulu adalah cincin pengikat hubungan. Tak pernah ku dengar sebelumnya tentang kabar ini. Karena yang aku rasa kamu adalah milikku. Berada dalam rindu kekecewaan. Ku kira bunyi klakson itu adalah pertanda untukku akan kabarmu. Ternyata yang aku terima lebih dari sekedar kabar, sayang. Pak pos berlalu, tanpa ucap kata aku melangkah menuju kursi di teras. Benarkah yang kurasa saat ini? Lantas apa maksud kata 3 tahun yang lalu, adakah perasuk yang berada kuat di tubuhmu agar aku menjadi tulang rusukmu yang kau akui patah namun hanya tergores? Lalu apa kabar gadis perindu akan rasa yang sama itu? Bukan lagi menjadi cinta segitiga atau bangun datar apa itu. Rumit.



Saat ini aku tetap menjadi perindu yang bisu, tanpa suara tanpa gaya. Saat siang menjadi malam, aku menjadi bintang yang enggan muncul karena malu. Aku takut akan rindu ini. Bertepuk tangan menjadi hasil kerjaku selama ini. Mungkin tak patut bagi kalian. Mungkin menurut kalian aku harus pergi, dan pindah ke lain hati. Tetapi itu bukan menjadi alasanku untuk menjadi terang dalam hati seseorang. Aku tetap menjajaki hatinya. Meski terkadang  aku tak pernah teranggap. Sedih memang, tetapi aku tetap bertahan. Mungkin aku juga bukan orang yang tegar, tetapi kali ini aku berusahha menjadi tegar. Setegar batu karang yang diterpa ombak. Aku tak pernah mampu menghitung berapa lama lagi aku akan merindu. Yang jelas, ku biarkan sang waktu berputar mendekatiku dan menjawab keresahanku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar