Minggu, 24 Mei 2015

Karena dekapanmu adalah penyemangatku. Terimakasih ceritanya~



Pagi itu ayah mendekapku dengan kasih sayang. Ia mengajarkanku arti sebuah kedewasaan. Usiaku yang bertambah saat itu menunjukkan sikap ayah yang begitu protektifnya terhadapku. Hari itu juga ayah pergi ke Jambi sebagai tanda kerja kerasnya mencari uang untuk kami. Jarak rumah dengan kota itu amatlah jauh untukku. Jika aku menjemputnya, tak mungkin uang tabunganku cukup. Jika aku bertanya tentangnya, tak mungkin wajahku tepat berada di depan wajahnya yang terlihat mulai keriput itu. Jika aku bertanya tentang makanannya, tak mungkin ia jujur, karena ia tak ingin menyakiti keluarga di rumah. Ia adalah seseorang yang tak pernah lelah memberiku semangat, memberiku motivasi, menjadi guru hebat untukku.
“Nak, ayah sudah sampai tempat kerja. Doakan kerja ayah tak ada kendala, agar apapun yang menjadi keinginanmu dapat terjadi secara nyata. Agar hidup kita tak hanya banyak memandang orang bergaya. Agar terbayar hutang keluarga juga. Ayah tidak mau menjadi ayah yang tidak bisa membuatmu tertawa, ayah ingin ketika mata ayah terbuka ayah bisa melihat anak-anak ayah bahagia”. Itu singkat isi percakapan antara aku dan ayah lewat telepon genggam berwarna hitam yang kecil itu.
Aku memandang wajah ibu, wajah yang pernuh harapan, yang penuh penantian akan keberhasilanku suatu saat. Sangat besar harapannya.
Dari awal aku memasuki bangku kuliah, ibu dan ayah selalu memberi motivasi untukku. Semua harus terlewatkan dengan indah, kata mereka.
Kali ini, tepat di tahun 2015, usiaku bertambah. Aku merasa sangat berat untuk menjalani semua, tetapi beban yang aku bawa tak seberat beban yang ibu dan ayah. Tak ada yang mampu mendahului ayah dan ibuku untuk memberiku selamat dan doa. Jarak tak pernah membuat ayah lupa akan hari ulang tahun anak-anaknya, termasuk hari ulang tahunku.
“Umur kamu sudah dewasa nak, kalau ada apa-apa cerita sama ayah. Jangan menutupi apapun dari ayah. Saat ini sifat labil sedang berdiri kokoh di kedua pundakmu, nak. Jika butuh apa-apa, ngomong sama ayah”. Suara ayah menasihatiku lewat telpon. Entah malaikat apa yang merasuki tubuhku, hingga tangisanku tak hentinya bercucuran.
Berbeda tempat, ibu berharap dengan usiaku yang bertambah membuatku semakin dewasa, cepat lulus kuliah, dan segera mengangkat adik-adikku menjadi orang sukses di kemudian hari.
Kebetulan, aku kuliah mengambil beasiswa. Beasiswa yang aku dapat tak sebanding dengan uang yang diberi ayah untukku selama masa kuliah. Tahun lalu, aku seakan menjadi remaja yang boros.  .
***
“Mbak, tadi ada yang bilang sama aku. Katanya ‘kakakmu sudah gedhe tapi kenapa masih kudet, hpnya juga masih dibawah standar, masih culun, gak modis, padahal mahasiswa. Kalah saing sama yang lain’. Jujur mbak, aku sangat malu. Aku kasihan sama mbak, kenapa uang mbak tidak mbak gunakan untuk kebutuhan mbak, mbak harus melihatkan penampilan mbak sebagai seorang mahasiswa”. Itu ungkapan salah satu adikku dalam bercerita dalam waktu sepekan setelah usiaku 19 tahun.
Begitu lirih aku menjawabnya. Umur adikku saat itu 10 tahun. Belum cukup umur. Bagiku saat itu dia belum mengerti tentang maksud dari semua ini. Dalam hati, sebenarnya aku merasa sakit. Tapi apalah, jika uang tabunganku aku gunakan gunakan untuk kebutuhan yang tidak penting belum tentu aku bisa makan esok hari.
***
Sifat dari kami bertiga jauh berbeda. Kedua adikku berbeda denganku. Aku yang kata mereka culun, tidak modis, dan sebagainya tetapi memeiliki kepandaian yang lebih. Yang suatu saat akan aku gunakan untuk mengubah nasib. Adikku yang pertama pandai dalam berolah raga, hanya saja dalam kegiatan akademis kurang. Untuk adikku yang kedua, dia gadis yang cantik, putih, pintar. Mampu menyaingi model kecil di luaran sana. Hanya saja, waktu belum mempertemukan adikku dengan media yang mampu menjadikannya terkenal karena kecantikan dan kepandainnya. Dari perbedaan kami, selalu saja menjadi perbincangan untuk orang lain. Selalu dan selalu yang kami punya dianggap rendah. Karena bagi mereka, keluarga kami tak mampu beli apapun. Perjuangan yang penuh tantangan.
Kerap kali, keluargaku mendapat lemparan batu besar di hati. Kami selalu menjadi bahan pembicaraan mereka. Hidup kami sangat sederhana. Gubuk kecil peninggalan nenek adalah istana bagi kami. Salah satu keinginan terbesar ibu adalah membangun rumah yang lebih baik dari gubuk ini. Tak lain lagi,semua keinginan ibu selalu terbaca oleh mataku dan terdengar oleh telingaku.
“Ibu, aku lelah dengan semua ini. Aku terpukul saat melihat adik bergaul dengan temannya. Aku ingin sekali melihat ayah dan ibu duduk manis di rumah. Rumah berhias sesuai yang ayah dan ibu harapkan, nanti. Jujur ibu, aku pengen melihat itu semua”. Ibuku hanya tersenyum untukku. Senyuman itu seakan bermaksud untuk menjawab perkataanku. Mata indahnya juga mengeluarkan air  yang membuatku ikut dalam kesedihan. Dia mungkin juga sangat lelah.
***
Ayah pulang dari Jambi, tempat kerjanya mengais rejeki. Kata ayah jika ayah tetap melanjutkan kerjanya disana, maka kebutuhan hidup kami sekeluarga belum terpenuhi dengan cukup. Ayah kembali memutuskan untuk bekerja sebagai penjual es keliling. Ayah kerja tak mengenal lelah, lapar, haus, dan musim. Saat hujan pun ayah tetap bekerja, padahal pekerjaan ayah sangat berpedoman pada musim. Sungguh, beliau adalah seorang yang hebat. Seorang pemotivator terkenal seperti ‘Mario Teguh’ pun terkalahkan oleh ayah.
Aku bangga memiliki ayah, dan ibu yang begitu hebatnya dalam berjuang menjalani hidup. Aku bangga dengan kisah perjalanan cinta mereka, hingga kisahnya mampu menandingi kisah cinta antara Cinderella dan Pangeran yang bertemu di istana, namun ayah dan ibu bertemu di gedung bangunan yang akan dibangun pada tahun 1992 di kota Jakarta.
Aku bangga mempunyai ayah dan ibu yang hatinya sekuat dan setegar itu, hingga kuatnya mampu mengalahkan kekuatan baja. Aku bangga tentang segalanya yang mereka miliki, dan yang mereka beri untuk kami. Aku bangga memiliki kedua malaikat yang baik seperti mereka. Dan aku ingin menjalani kisah hidup yang penuh semangat seperti mereka, namun bukan untuk nasib perekonomian. Karena aku ingin menjadi lebih baik dari mereka.
*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar