Hanya dengan kata “kamu apa
kabar?” setidaknya sedikit mengurangi rasa yang lama menjadi penghalang kami
untuk menyatu. Aku sadar, mungkin dia lebih mementingkan masa pendidikannya.
Atau saja ponsel genggamnya sedang dibawa komandannya.
Selama ini belum ada kabar tentangnya. Satu
dua kali kusebut kata “kamu apa kabar” kembali kepadanya, tetap saja tak
terbalas. Apalagi SosMed, terbaca pun tidak. Saya mengharapkan sapaan bahkan
pertanyaan itu terbalas, meski dengan tulisan tanda titik (.). setidaknya ada rasa
hormat untuk saya sebagai kekasihnya. Itu saja, tidak lebih.
“Tuhan semesta alam mengetahui
semuanya sayang, berbalik apa perjuangan saya itu ada yang mengatur. Kamu
berujung bagaimana juga itu sudah diatur. Kita hanya bisa berdoa dan
menjalani ini semua, waktu yang lama tak
pernah menjadi penghalang untukku atau menjadi alasanku untuk lelah
menganggapmu ada. Kamu baik-baik disana. Cepat pulang, aku merindukanmu lebih
besar dari kemarin” saya tulis pesan singkat itu untuknya. Entah itu dibaca
atau tidak, tetapi saya sakin suatu dia membacaya, senyum lesung pipinya
kelihatan. Gambaran yang jelas dan semakin jelas ini menjadi saya kembali
merindukanya dengan dahsyat. Tapi saya berusaha menanamkan “cinta saya
kepadanya karena Allah”.
Wanita terpenting dalam hidupnya
pun tak seheboh dibanding diri saya yang belum
tentu menjadi siapa-siapa untuknya. Tapi tak bisa saya pungkiri, sungguh
saya rindu dengan sosok yang telah lama saya anggap kekasih. Kekasih yang kerap
kali diidamkan oleh orang lain. Namun hatinya sangat kokoh, itu yang membuat
saya yakin dengannya.
Baik-baik disana sayang, semoga
kebaikan Tuhan selalu bersamamu. Jangan hilangkan sifat indahmu dari dulu. Cepat
pulang, sekali lagi cepat pulang.
Salam hangat untuk
orang terhebat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar