Selasa, 09 Juni 2015

Kamu apa kabar?



Hanya dengan kata “kamu apa kabar?” setidaknya sedikit mengurangi rasa yang lama menjadi penghalang kami untuk menyatu. Aku sadar, mungkin dia lebih mementingkan masa pendidikannya. Atau saja ponsel genggamnya sedang dibawa komandannya.
 Selama ini belum ada kabar tentangnya. Satu dua kali kusebut kata “kamu apa kabar” kembali kepadanya, tetap saja tak terbalas. Apalagi SosMed, terbaca pun tidak. Saya mengharapkan sapaan bahkan pertanyaan itu terbalas, meski dengan tulisan tanda titik (.). setidaknya ada rasa hormat untuk saya sebagai kekasihnya. Itu saja, tidak lebih.
“Tuhan semesta alam mengetahui semuanya sayang, berbalik apa perjuangan saya itu ada yang mengatur. Kamu berujung bagaimana juga itu sudah diatur. Kita hanya bisa berdoa dan menjalani  ini semua, waktu yang lama tak pernah menjadi penghalang untukku atau menjadi alasanku untuk lelah menganggapmu ada. Kamu baik-baik disana. Cepat pulang, aku merindukanmu lebih besar dari kemarin” saya tulis pesan singkat itu untuknya. Entah itu dibaca atau tidak, tetapi saya sakin suatu dia membacaya, senyum lesung pipinya kelihatan. Gambaran yang jelas dan semakin jelas ini menjadi saya kembali merindukanya dengan dahsyat. Tapi saya berusaha menanamkan “cinta saya kepadanya karena Allah”.
Wanita terpenting dalam hidupnya pun tak seheboh dibanding diri saya yang belum  tentu menjadi siapa-siapa untuknya. Tapi tak bisa saya pungkiri, sungguh saya rindu dengan sosok yang telah lama saya anggap kekasih. Kekasih yang kerap kali diidamkan oleh orang lain. Namun hatinya sangat kokoh, itu yang membuat saya yakin dengannya.
Baik-baik disana sayang, semoga kebaikan Tuhan selalu bersamamu. Jangan hilangkan sifat indahmu dari dulu. Cepat pulang, sekali lagi cepat pulang.
Salam hangat untuk orang terhebat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar