Dengan kamu datang dan pergi lagi
seperti ini membuatku enggan untuk menjalani kisah lebih lagi. Aku disana
menuntut ilmu, seperti apa yang kamu bilang waktu itu. Harus menggapai yang aku
inginkan. Bukan dengan kamu disini yang seenaknya menjalani hubungan dengan
wanita itu.
Aku berlibur ke tempat kelahiran,
Indonesia. Si krab dimana ya? Teman suka bicara itu menginginkanku untuk
menemuinya. Tanpa sepengetahuan dia, aku kembali ke Indonesia selama liburan.
Ku ketuk pintu rumah berwarna
abu-abu. “Selamat pagi tante, apa kabar? Doni ada tant?”. Aku menanyakan kabar
Doni kepada mamanya. “Doni pergi bareng Alya teman kampusnya. Kapan sampai
Indonesia? Disana bagaimana? Kuliah lancar kan?”
“Alhamdulillah lancar tant”. Kami
menghabiskan waktu yang berkualitas ini dengan berbicara yang tidak jelas. Ya
beginilah kami, mama Doni sudah seperti mamaku sendiri.
Suara mobil itu semakin dekat.
Iya, itu suara mobil Doni, kekasihku sedari SMA dulu. Dibukanya pintu rumah
tanpa dia tahu akan kedatanganku untuk memberi kejutan untuknya. Ternyata aku
yang diberi kejutan, ini lebih kejutan dariku.
Hatiku seakan terkena sesuatu
yang mengganjal posisi senangku di rumah ini. Tenang Ra, tenang! Mungkin dia
tidak sengaja menggenggam tangan Alya dengan sekuat itu.aku tersenyum sembari
mendekati Doni. Wajahnya berbeda sebelum aku pergi ke negeri orang untuk
menuntut ilmu. Ku cium pipi sebelah kirinya, “kamu apa kabar? E-mailku belum
kamu baca ya? Aku ngirim sesuatu loh. Aku sengaja pulang untuk memberi kejuatn
hari jadi kita. Sudah 3 tahun loh Don, kamu ingat kan? Nanti malem keluar ya. 3
hari lagi aku balik ke Singapure lagi”. Aku mencoba bercerita dengannya tanpa
wajah sedih, kecewa bahkan penasaran akan tangan yang bergenggaman dengan erat
diantara dua insan yang berbeda ini.
Doni tersenyum kecut. Tanpa dia
sadari, dia telah menghancurkan perasaanku bahkan suatu aku berbicara tangan
mereka tidak lepas.
“Tant, Dira pulang dulu ya. Tadi
ada janji dengan Nenes” ku smabung lagi untuk Doni, ku tepuk pundak bagian
kirinya “Don, aku pulang dulu ya. Aku disini dari jam setengah 9 lewat sedikit.
Nanti aku telpon. Kamu baik-baik ya. Ada hati yang menunggukata untuk dijawab,
bukan hanya dengan senyuman kecut. Aku harap kamu nanti bisa” ku kecup pipi
kanan Doni. Aku berharap agar aku tetap menjadi Dira yang kuat. “Mari”, aku
melangkah pergi menjauh. Tak sengaja air mataku yang dari tadi aku tahan
menetes. Untung saja aku tidak menangis di depan mata Doni, mata lelaki yang
entah bagaimana itu.