Selasa, 09 Juni 2015

~



Seharusnya aku tahu dinomor berapakan aku olehmu. Bukan mayoritas, bahkan bukan minoritas. Aku tak dikenali lagi olehmu. Hujan sore itu sungguh menyisakan luka pilu. Semua kenangan manis olehmu dan aku yang sering ku panggil dengan kenangan kita tiba-tiba hilang seketika. Sehilangnya debu terhapus terjatuhkan air deras.
Motor matik yang kamu kenakan untuk mengantarkanku, tiba-tiba terjatuh dan meninggalkan darahmu akibat prbuatan seseorang yang tak kutahui. Dia pergi begitu saja tanpa tahu kesalahannya.
Semuanya telah berubah. Kamu bukan lagi kamu. Aku pun sudah tak lagi aku yang tanpa kamu.
Apa aku masih tetap menjadi ‘dia’ yang dulu menjadi pengahpus rindumu, pengahpus lelahmu bahkan pemberi sedikit semangat untukmu. Jika boleh untukku memulainya lagi dari awal dengan keadaanmu seperti ini, ingin rasanya berkenalan kembali lalu menjalin cerita baru lagi ketika aku dan kamu menjadi kita. Tak lagi seperti katamu di pagi itu “siapa kamu?”

Saya rindu itu



Assalamualaikum penghias mimpi..
Masihkah disana kita akan selalu menjadi kita?
Tuan yang jauh disana, saya berusaha menjaga dan melaksanakan amanahmu. Tetap menjaga hati dan memperhatikan wanita yang sempat tuan kenalkan kepada saya waktu lalu. Saya harap tuan tetap menjadi terbaik.
Mari kita seduh kopi hangat di tempat yang berbeda. Mari kita menuai rindu dengan kuat, hingga suatu saat ada waktu dan tempat yang menemukan kita dalam satu titik tanpa kebosanan, quality time.
Tuan yang berbadan tinggi, saya merindui  bersandar di pundak tuan. Saya rindu tentang kita yang duduk dan menhabiskan waktu sehari dengan tertawa lepas meski hanya dengan lampu kota malam hari dan sebuah eskrim. Saya rindu itu, Tuan.
“Dari negeri yang jauh, kau datang penuhi takdirku”.
Saya tak pernah menyerah dengan keadaan ini, saya juga tak pernah berhenti berharap akan tuan dan saya yang menjadi kita.
Tuan muda , dari cerita 1021 hari ini tidak ada sedikitpun cerita yang tidak saya sukai. Semuanya hampir menjadi senyuman  untuk saya meski yang memberi senyuman jauh disana. Saya bersyukur itu. Meski ujian tetap menyapa, karena cinta pernah berganti cahaya.
Terimakasih Tuan muda yang saya sebut sebagai tuan muda saya.

Kamu apa kabar?



Hanya dengan kata “kamu apa kabar?” setidaknya sedikit mengurangi rasa yang lama menjadi penghalang kami untuk menyatu. Aku sadar, mungkin dia lebih mementingkan masa pendidikannya. Atau saja ponsel genggamnya sedang dibawa komandannya.
 Selama ini belum ada kabar tentangnya. Satu dua kali kusebut kata “kamu apa kabar” kembali kepadanya, tetap saja tak terbalas. Apalagi SosMed, terbaca pun tidak. Saya mengharapkan sapaan bahkan pertanyaan itu terbalas, meski dengan tulisan tanda titik (.). setidaknya ada rasa hormat untuk saya sebagai kekasihnya. Itu saja, tidak lebih.
“Tuhan semesta alam mengetahui semuanya sayang, berbalik apa perjuangan saya itu ada yang mengatur. Kamu berujung bagaimana juga itu sudah diatur. Kita hanya bisa berdoa dan menjalani  ini semua, waktu yang lama tak pernah menjadi penghalang untukku atau menjadi alasanku untuk lelah menganggapmu ada. Kamu baik-baik disana. Cepat pulang, aku merindukanmu lebih besar dari kemarin” saya tulis pesan singkat itu untuknya. Entah itu dibaca atau tidak, tetapi saya sakin suatu dia membacaya, senyum lesung pipinya kelihatan. Gambaran yang jelas dan semakin jelas ini menjadi saya kembali merindukanya dengan dahsyat. Tapi saya berusaha menanamkan “cinta saya kepadanya karena Allah”.
Wanita terpenting dalam hidupnya pun tak seheboh dibanding diri saya yang belum  tentu menjadi siapa-siapa untuknya. Tapi tak bisa saya pungkiri, sungguh saya rindu dengan sosok yang telah lama saya anggap kekasih. Kekasih yang kerap kali diidamkan oleh orang lain. Namun hatinya sangat kokoh, itu yang membuat saya yakin dengannya.
Baik-baik disana sayang, semoga kebaikan Tuhan selalu bersamamu. Jangan hilangkan sifat indahmu dari dulu. Cepat pulang, sekali lagi cepat pulang.
Salam hangat untuk orang terhebat

SCBM (6)



Hari ini adalah hari teristimewa untukku. Bagaimana tidak, menikamati liburan bersama orang-orang terkasih.
“Hai kraaaaaaab, miss you”. Aku keluar dari mobil dan berlari cepat kearah Nenes yang sedang membersihkan halaman rumahnya. Ku peluknya dengan erat. “Udahh kelar? Ke tempat biasa yok. Kangen nih”. Kami mempunyai tempat istimewa untuk menghilangkan penat hingga masalah yang kita punya tiba-tiba seakan hilang.
“kamu kapan kesini? Kok nggak ngabari dulu. Tau gitu kan aku nyewa nyewa delmannya pak Helman buat jemput kamu. Bentar aku mandi dulu. Masuk kamar aja sana. Eh by the way kamu kok inget rumahku?”
“Ya kali Nes, masak iya aku lupa? I remember, always! Cause its second my sweet home”
“cepetan mandinya, keburu petang. Malam soalnya ada acara lagi.
“Krab, sejak kapan pake make-up? Apa gara-gara kuliahmu di management? Atau teman-temanmu mengajarimu kayak gini? Apaaa jangan-jangan gara-gara sudah punya pacar? Ngaku! Kok gak cerita-cerita sih sama aku”. Nenes menghias wajahnya. “Boro-boro, kayak gak tau aku aja. Jomblo. Kabar kamu sama Doni bagaimana?”
“Baik kok. Tadi aku habis ke rumahnya”
Mobil kami melaju dengan kencang. Sangat menghibur.

SCBM (5)



Dengan kamu datang dan pergi lagi seperti ini membuatku enggan untuk menjalani kisah lebih lagi. Aku disana menuntut ilmu, seperti apa yang kamu bilang waktu itu. Harus menggapai yang aku inginkan. Bukan dengan kamu disini yang seenaknya menjalani hubungan dengan wanita itu.
Aku berlibur ke tempat kelahiran, Indonesia. Si krab dimana ya? Teman suka bicara itu menginginkanku untuk menemuinya. Tanpa sepengetahuan dia, aku kembali ke Indonesia selama liburan.
Ku ketuk pintu rumah berwarna abu-abu. “Selamat pagi tante, apa kabar? Doni ada tant?”. Aku menanyakan kabar Doni kepada mamanya. “Doni pergi bareng Alya teman kampusnya. Kapan sampai Indonesia? Disana bagaimana? Kuliah lancar kan?”
“Alhamdulillah lancar tant”. Kami menghabiskan waktu yang berkualitas ini dengan berbicara yang tidak jelas. Ya beginilah kami, mama Doni sudah seperti mamaku sendiri.
Suara mobil itu semakin dekat. Iya, itu suara mobil Doni, kekasihku sedari SMA dulu. Dibukanya pintu rumah tanpa dia tahu akan kedatanganku untuk memberi kejutan untuknya. Ternyata aku yang diberi kejutan, ini lebih kejutan dariku.
Hatiku seakan terkena sesuatu yang mengganjal posisi senangku di rumah ini. Tenang Ra, tenang! Mungkin dia tidak sengaja menggenggam tangan Alya dengan sekuat itu.aku tersenyum sembari mendekati Doni. Wajahnya berbeda sebelum aku pergi ke negeri orang untuk menuntut ilmu. Ku cium pipi sebelah kirinya, “kamu apa kabar? E-mailku belum kamu baca ya? Aku ngirim sesuatu loh. Aku sengaja pulang untuk memberi kejuatn hari jadi kita. Sudah 3 tahun loh Don, kamu ingat kan? Nanti malem keluar ya. 3 hari lagi aku balik ke Singapure lagi”. Aku mencoba bercerita dengannya tanpa wajah sedih, kecewa bahkan penasaran akan tangan yang bergenggaman dengan erat diantara dua insan yang berbeda ini.
Doni tersenyum kecut. Tanpa dia sadari, dia telah menghancurkan perasaanku bahkan suatu aku berbicara tangan mereka tidak lepas.
“Tant, Dira pulang dulu ya. Tadi ada janji dengan Nenes” ku smabung lagi untuk Doni, ku tepuk pundak bagian kirinya “Don, aku pulang dulu ya. Aku disini dari jam setengah 9 lewat sedikit. Nanti aku telpon. Kamu baik-baik ya. Ada hati yang menunggukata untuk dijawab, bukan hanya dengan senyuman kecut. Aku harap kamu nanti bisa” ku kecup pipi kanan Doni. Aku berharap agar aku tetap menjadi Dira yang kuat. “Mari”, aku melangkah pergi menjauh. Tak sengaja air mataku yang dari tadi aku tahan menetes. Untung saja aku tidak menangis di depan mata Doni, mata lelaki yang entah bagaimana itu.


Rabu, 03 Juni 2015

Selamat pagi hati yang mencoba baik. Mari hilangkan rasa kecewanya~
Mencoba mengembalikan semua yang telah terjadi sesuai rencana yang pernah dirancang itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Semua butuh proses. Begitupun aku dan kamu. Kita memang telah berbeda, aku ke arah utara sedang kamu entah kemana. Dari dulu tak pernah ku inginkan semua ini terjadi, tetapi waktu Tuhan berkehendak lain. Semua berjalan tanpa sepengetahuan kita. Mungkin ini adalah pertanda jika kita memang benar-benar sudahan. Kalau ini ku sebut 'kita' mungkin juga aku salah. Lebih tepatnya aku yang bergerak terlambat. Seharusnya dari dulu aku sadar, jika kamu sudah tak menghargai tentang 'kita'. Lantas kamu mebiarkan seseorang yang dulu pernah berjuang bersama dengan kamu, sekarang pergi sendiri. Apa kamu pernah berpikir jika itu terjadi terhadapmu?
Berjuang sendirian selama ini. 4 tahun bukan waktu yang singkat. Aku berusaha untuk memperjuangkanmu selama ini, tetapi kamu tak pernah merasa jika aku memperjuangkanmu. Dan ternyata "Aku memperjuangkan sebuah nama, bukan sebuah hati" Yah... Jika maumu seperti ini, aku ini bisa apa :)
Sebenarnya simple "berjuang untuk yang pantas diperjuangkan".
Quotes : Bejuang itu tak semudah bicara. Menghargai hati yang mati-matian memperjuangkan (mu) itu tak ada sesalnya. Bahagialah! Ada hati yang tetap setia menungguimu hingga sekarang. Karena suatu saat (kamu) akan tahu arti sebuah kesetiaan yang beriringan dengan perjuangan.