Lelaki yang berbaju dinas warna biru itu sering aku sebut sebagai komandanku. Kenapa? Karena ia selalu memberiku kekuatan dan arti pengabdian kepada kedua orang tuaku yang belum aku dapati sebelumnya.
Katanya "semua yang berjalan secara dadakan dan instan itu namanya bukan proses. Jika kamu berhasil itu namanya beruntung. Lain kali difikir-fikir lagi". Kalimat yang sering dia ucap tanpa bosannya membuatku semakin yakin bahawa dia yang terbaik. Tapi Ndan, kenapa kita jauh? Kenapa kita hanya dipertemukan sesingkat itu? Masih ingatkah kamu yang awalnya menuntut ilmu di tempat yang sekarang sering ku sebut dengan 'perantauan'? Aku rindu itu. Cerita aku dan kamu disini.
Ketikanya aku bersandar di pundakmu untuk merebahkan keluh kesah saat itu, ketika itulah aku merasa akan kita yang tanpa aku pikir sebelumnya akan dijauhkan seperti ini.
Dan akhirnya hanya telepon genggam jadulku yang kerap kali menyapamu.
"Dee", panggilan hangatnya padaku yang memicu rinduku kembali.
Penyemangat yang jauh di mata itu selalu menari-nari dimana saja, seakan semua tergambar dengan jelas. Iya jelas tanpa tahu jarak yang jauh ini.
~Tantangan hubungan jarak jauh (Long Distance Relationship) ku dapati darinya~.
Dia hebat. Mampu menempatkan semuanya di tempat yang semestinya dan dalam porsi yang sewajarnya.
"jika kita ditakdirkan untuk bersama. Jangan takut akan jarak yang tak seberapa ini ya Dee".
Iya kita saling percaya. Kita yakin pada akhirnya nanti semua akan berujung indah. KuasaNya yang akan menentukan jalan cerita kita. Semua akan berarah tanpa sepengetahuan kita. Terimakasih cerita singkatnya ya Komandan. Sesingkat waktu kita 21 bulan di perantauan.
-A.P.S-
Kamis, 18 Juni 2015
Tapi Bu, saya lelah.
"Ibu saya lelah".
Kataku berkali-kali yang ku sebut dalam suara tanpa muka.
Lagi lagi aku mengeluhkan kepadanya.
Ditanyanya atas gerangan apa yang membuatku menjadi seperti ini. Masalah yang datang bertubi-tubi tak ada bandingannya. Kamu akan tau semuanya suatu saat nanti. Jika kamu menilai saat ini kamu lelah, kamu salah Nak! Kamu terlalu dini untuk menyimpulkan semua ini. Aku dan Bapakmu setidaknya juga pernah merasakan masa sepertimu. Tapi berbeda. Kami hidup tanpa kerja mereka(orang tua kami). Kami hidup untuk menyongsong hidup kami sendiri. Bukan masalah apa aku bercerita seperti ini. Katakan "semangat" sebelum memulainya. Kami selalu mendoakanmu, pagi siang sore maupun malam. Kami tak ingin melihatmu seperti kami.
"Tapi Bu, saya lelah"
Hadapi semuanya dengan senyuman. Atasi dengan kebahagiaan. Bukankah kami selalu mengajarkanmu tentang bersyukur Nak?
Jangan mengeluh atas apa yang kamu hadapi sekarang. Anggap ini adalah awal dari permainan tentang hidup yang dulu pernah kamu cita-citakan menjadi baik. Menjadi orang hebat bukankah yang pernah kamu katakan kepada kami waktu lalu? Apakah kamu lupa? Menuju kesuksesan memang banyak tantangan. Jangan biarkan dirimu dalam keadaan loyo. Kamu mampu melewati batas kemampuanmu. Karena kami percaya "kamu pasti mampu!"
"Baik Bu, saya sekarang tidak akan pernah merasa jika saya lelah"
Kataku berkali-kali yang ku sebut dalam suara tanpa muka.
Lagi lagi aku mengeluhkan kepadanya.
Ditanyanya atas gerangan apa yang membuatku menjadi seperti ini. Masalah yang datang bertubi-tubi tak ada bandingannya. Kamu akan tau semuanya suatu saat nanti. Jika kamu menilai saat ini kamu lelah, kamu salah Nak! Kamu terlalu dini untuk menyimpulkan semua ini. Aku dan Bapakmu setidaknya juga pernah merasakan masa sepertimu. Tapi berbeda. Kami hidup tanpa kerja mereka(orang tua kami). Kami hidup untuk menyongsong hidup kami sendiri. Bukan masalah apa aku bercerita seperti ini. Katakan "semangat" sebelum memulainya. Kami selalu mendoakanmu, pagi siang sore maupun malam. Kami tak ingin melihatmu seperti kami.
"Tapi Bu, saya lelah"
Hadapi semuanya dengan senyuman. Atasi dengan kebahagiaan. Bukankah kami selalu mengajarkanmu tentang bersyukur Nak?
Jangan mengeluh atas apa yang kamu hadapi sekarang. Anggap ini adalah awal dari permainan tentang hidup yang dulu pernah kamu cita-citakan menjadi baik. Menjadi orang hebat bukankah yang pernah kamu katakan kepada kami waktu lalu? Apakah kamu lupa? Menuju kesuksesan memang banyak tantangan. Jangan biarkan dirimu dalam keadaan loyo. Kamu mampu melewati batas kemampuanmu. Karena kami percaya "kamu pasti mampu!"
"Baik Bu, saya sekarang tidak akan pernah merasa jika saya lelah"
Rabu, 17 Juni 2015
Hai Ramadhan~
Hai Ramadhan.
Ajak aku menjadi insan yang lebih
baik. Ajak aku menjalani waktu tanpa merasakan kekurangan.
Ramadhan, biarkan aku merasakanmu
dengan senang. Karena sejatinya kamu adalah temanku yang sulit aku temui, dalam
setahun hanya sebulan aku menemuimu. Apakah ada rindumu untukku?
Ramadhan, ijinkan aku menjadi
hamba-Nya yang penuh syukur. Jangan biarkan aku melupakan nikmat walau hanya
sedikit. Sungguh nikmat yang harus disyukuri. Ramadhan, jadikan aku untuk lebih
mengenal-Nya dalam malam penuh acara. Dalam malam berbalut bahagia, dalam malam
berlantunkan doa.
Ramadhan, ajari aku menjalani
hidup dengan ikhlas. Jauhkan aku dari kataku yang pernah ku ucap waktu itu,
jauhkan aku dari itu mulai saat ini sampai besok-besok. Aku ingin mejadi insan
yang lebih baik dari ini.
Senin, 15 Juni 2015
Dari Kami untuk Kamu
Tetap jadilah wanita tangguh seperti yang pernah
kami harapkan kepadamu sebelum kamu terlahirkan di dunia yang luas ini. Tetap
jadilah cahaya yang menjadi harapan bagi kami untuk tetap semangat dalam
menjalani hidup ini.Kami selalu menjadikanmu pelita kami. Jika kamu mengira
kamilah pelitamu, kamu salah! Kami mati-matian seperti ini karena kami ingin
melihat pelita kami hidup lebih terang. Kami hanya menjalankan kewajiban kami.
Jangan pernah menganggap tingkah hidup yang kamu jalani akan membebani kami. Kami
senang jika kamu senang. Kami bangga jika kamu bangga membanggakan kami.
Sebenarnya kami tak mengharap apapun dari kamu, hanya saja 'kami tak ingin
melihatmu menjadi lebih parah seperti saat ini. Kami ingin kamu jaya yang
menjayakan saudaramu. kami ingin kamu tetap hidup dalam hati kami dan mereka,
tetap menjadi wanita bahagia yang terarah oleh tuntunan-Nya. Kami tak ingin
pelita yang kami impikan menjadi kelam dan gelap'.
Kala masalah menghadapi kamu, ibaratkan masalah
itu sebagai teman barumu. Ajak mereka berbahagia, ubah mereka menjadi wadah
pemberi senyuman. Kami tak pernah mengharapkan pedih datang bertubi-tubi
untukmu. Kami tak pernah menyalahkan takdir kami yang menjadikan kamu disini,
karena kami yakin 'kamulah yang akan mengubah kami suatu saat nanti'.
Kelelahanmu jangan kamu anggap sebagai batas
ujung perjalananmu. Jika kamu lelah sebab apa? Kami ini tak pernah lelah, mata
kami juga tak pernah kantuk, obat kami ya kamu. Kami ingin lelahmu dengan cepat
akan hilang. Kami tak ingin kamu terjebak dalam lengahnya aksi dunia.
Dalam kelam kami berkata 'perang belum seberapa,
ada keluarga yang nantinya akan menjadikanmu lebih mengerti arti kelelahan yang
sebenarnya'.
Pelita kami, selesaikan apa yang menjadi pemula
untukmu. jangan biarkan semua tertunda begitu saja. Bukankah dulu kamu ingin
kami bahagia?
Pelita kami, denganmu tersenyum bahagia itu
adalah kebahagiaan kami.
Kami tetap menjadi kami yang mungkin suatu saat
kembali. Ketika itu kamu akan lebh merasakan menjadi kami. Kami yang bukan
kami. Kamu yang lebih menjadi kami. Tuntunlah mereka dalam dekap hangat darimu.
Ajak mereka menjadi hebat lebih darimu. Bukan mereka yang lebih lelah dibanding
yang kamu rasakan saat ini. Yang semuanya kamu ceritakan saat ini.
Selasa, 09 Juni 2015
~
Seharusnya aku tahu dinomor berapakan aku olehmu. Bukan
mayoritas, bahkan bukan minoritas. Aku tak dikenali lagi olehmu. Hujan sore itu
sungguh menyisakan luka pilu. Semua kenangan manis olehmu dan aku yang sering
ku panggil dengan kenangan kita tiba-tiba hilang seketika. Sehilangnya debu
terhapus terjatuhkan air deras.
Motor matik yang kamu kenakan untuk mengantarkanku,
tiba-tiba terjatuh dan meninggalkan darahmu akibat prbuatan seseorang yang tak
kutahui. Dia pergi begitu saja tanpa tahu kesalahannya.
Semuanya telah berubah. Kamu bukan lagi kamu. Aku pun sudah
tak lagi aku yang tanpa kamu.
Apa aku masih tetap menjadi ‘dia’ yang dulu menjadi
pengahpus rindumu, pengahpus lelahmu bahkan pemberi sedikit semangat untukmu.
Jika boleh untukku memulainya lagi dari awal dengan keadaanmu seperti ini,
ingin rasanya berkenalan kembali lalu menjalin cerita baru lagi ketika aku dan
kamu menjadi kita. Tak lagi seperti katamu di pagi itu “siapa kamu?”
Saya rindu itu
Assalamualaikum penghias mimpi..
Masihkah disana kita akan selalu menjadi kita?
Tuan yang jauh disana, saya berusaha menjaga dan
melaksanakan amanahmu. Tetap menjaga hati dan memperhatikan wanita yang sempat tuan
kenalkan kepada saya waktu lalu. Saya harap tuan tetap menjadi terbaik.
Mari kita seduh kopi hangat di tempat yang berbeda. Mari
kita menuai rindu dengan kuat, hingga suatu saat ada waktu dan tempat yang
menemukan kita dalam satu titik tanpa kebosanan, quality time.
Tuan yang berbadan tinggi, saya merindui bersandar di pundak tuan. Saya rindu tentang
kita yang duduk dan menhabiskan waktu sehari dengan tertawa lepas meski hanya
dengan lampu kota malam hari dan sebuah eskrim. Saya rindu itu, Tuan.
“Dari negeri yang jauh, kau datang penuhi takdirku”.
Saya tak pernah menyerah dengan keadaan ini, saya juga tak
pernah berhenti berharap akan tuan dan saya yang menjadi kita.
Tuan muda , dari cerita 1021 hari ini tidak ada sedikitpun
cerita yang tidak saya sukai. Semuanya hampir menjadi senyuman untuk saya meski yang memberi senyuman jauh
disana. Saya bersyukur itu. Meski ujian tetap menyapa, karena cinta pernah
berganti cahaya.
Terimakasih Tuan muda yang saya sebut sebagai tuan muda
saya.
Kamu apa kabar?
Hanya dengan kata “kamu apa
kabar?” setidaknya sedikit mengurangi rasa yang lama menjadi penghalang kami
untuk menyatu. Aku sadar, mungkin dia lebih mementingkan masa pendidikannya.
Atau saja ponsel genggamnya sedang dibawa komandannya.
Selama ini belum ada kabar tentangnya. Satu
dua kali kusebut kata “kamu apa kabar” kembali kepadanya, tetap saja tak
terbalas. Apalagi SosMed, terbaca pun tidak. Saya mengharapkan sapaan bahkan
pertanyaan itu terbalas, meski dengan tulisan tanda titik (.). setidaknya ada rasa
hormat untuk saya sebagai kekasihnya. Itu saja, tidak lebih.
“Tuhan semesta alam mengetahui
semuanya sayang, berbalik apa perjuangan saya itu ada yang mengatur. Kamu
berujung bagaimana juga itu sudah diatur. Kita hanya bisa berdoa dan
menjalani ini semua, waktu yang lama tak
pernah menjadi penghalang untukku atau menjadi alasanku untuk lelah
menganggapmu ada. Kamu baik-baik disana. Cepat pulang, aku merindukanmu lebih
besar dari kemarin” saya tulis pesan singkat itu untuknya. Entah itu dibaca
atau tidak, tetapi saya sakin suatu dia membacaya, senyum lesung pipinya
kelihatan. Gambaran yang jelas dan semakin jelas ini menjadi saya kembali
merindukanya dengan dahsyat. Tapi saya berusaha menanamkan “cinta saya
kepadanya karena Allah”.
Wanita terpenting dalam hidupnya
pun tak seheboh dibanding diri saya yang belum
tentu menjadi siapa-siapa untuknya. Tapi tak bisa saya pungkiri, sungguh
saya rindu dengan sosok yang telah lama saya anggap kekasih. Kekasih yang kerap
kali diidamkan oleh orang lain. Namun hatinya sangat kokoh, itu yang membuat
saya yakin dengannya.
Baik-baik disana sayang, semoga
kebaikan Tuhan selalu bersamamu. Jangan hilangkan sifat indahmu dari dulu. Cepat
pulang, sekali lagi cepat pulang.
Salam hangat untuk
orang terhebat
Langganan:
Postingan (Atom)