Kamis, 18 Juni 2015

Sedikitnya seperti ini

Lelaki yang berbaju dinas warna biru itu sering aku sebut sebagai komandanku. Kenapa? Karena ia selalu memberiku kekuatan dan arti pengabdian kepada kedua orang tuaku yang belum aku dapati sebelumnya.
Katanya "semua yang berjalan secara dadakan dan instan itu namanya bukan proses. Jika kamu berhasil itu namanya beruntung. Lain kali difikir-fikir lagi". Kalimat yang sering dia ucap tanpa bosannya membuatku semakin yakin bahawa dia yang terbaik. Tapi Ndan, kenapa kita jauh? Kenapa kita hanya dipertemukan sesingkat itu? Masih ingatkah kamu yang awalnya menuntut ilmu di tempat yang sekarang sering ku sebut dengan 'perantauan'? Aku rindu itu. Cerita aku dan kamu disini.
Ketikanya aku bersandar di pundakmu untuk merebahkan keluh kesah saat itu, ketika itulah aku merasa akan kita yang tanpa aku pikir sebelumnya akan dijauhkan seperti ini.
Dan akhirnya hanya telepon genggam jadulku yang kerap kali menyapamu.
"Dee", panggilan hangatnya padaku yang memicu rinduku kembali.
Penyemangat yang jauh di mata itu selalu menari-nari dimana saja, seakan semua tergambar dengan jelas. Iya jelas tanpa tahu jarak yang jauh ini.
~Tantangan hubungan jarak jauh (Long Distance Relationship) ku dapati darinya~.
Dia hebat. Mampu menempatkan semuanya di tempat yang semestinya dan dalam porsi yang sewajarnya.
"jika kita ditakdirkan untuk bersama. Jangan takut akan jarak yang tak seberapa ini ya Dee".
Iya kita saling percaya. Kita yakin pada akhirnya nanti semua akan berujung indah. KuasaNya yang akan menentukan jalan cerita kita. Semua akan berarah tanpa sepengetahuan kita. Terimakasih cerita singkatnya ya Komandan. Sesingkat waktu kita 21 bulan di perantauan.
                                                                                                                                       -A.P.S-

Tapi Bu, saya lelah.

"Ibu saya lelah".
Kataku berkali-kali yang ku sebut dalam suara tanpa muka.
Lagi lagi aku mengeluhkan kepadanya.

Ditanyanya atas gerangan apa yang membuatku menjadi seperti ini. Masalah yang datang bertubi-tubi tak ada bandingannya. Kamu akan tau semuanya suatu saat nanti. Jika kamu menilai saat ini kamu lelah, kamu salah Nak! Kamu terlalu dini untuk menyimpulkan semua ini. Aku dan Bapakmu setidaknya juga pernah merasakan masa sepertimu. Tapi berbeda. Kami hidup tanpa kerja mereka(orang tua kami). Kami hidup untuk menyongsong hidup kami sendiri. Bukan masalah apa aku bercerita seperti ini. Katakan "semangat" sebelum memulainya. Kami selalu mendoakanmu, pagi siang sore maupun malam. Kami tak ingin melihatmu seperti kami.

"Tapi Bu, saya lelah"
Hadapi semuanya dengan senyuman. Atasi dengan kebahagiaan. Bukankah kami selalu mengajarkanmu tentang bersyukur Nak?
Jangan mengeluh atas apa yang kamu hadapi sekarang. Anggap ini adalah awal dari permainan tentang hidup yang dulu pernah kamu cita-citakan menjadi baik. Menjadi orang hebat bukankah yang pernah kamu katakan kepada kami waktu lalu? Apakah kamu lupa? Menuju kesuksesan memang banyak tantangan. Jangan biarkan dirimu dalam keadaan loyo. Kamu mampu melewati batas kemampuanmu. Karena kami percaya "kamu pasti mampu!"

"Baik Bu, saya sekarang tidak akan pernah merasa jika saya lelah"

Rabu, 17 Juni 2015

Hai Ramadhan~



Hai Ramadhan.
Ajak aku menjadi insan yang lebih baik. Ajak aku menjalani waktu tanpa merasakan kekurangan.
Ramadhan, biarkan aku merasakanmu dengan senang. Karena sejatinya kamu adalah temanku yang sulit aku temui, dalam setahun hanya sebulan aku menemuimu. Apakah ada rindumu untukku?
Ramadhan, ijinkan aku menjadi hamba-Nya yang penuh syukur. Jangan biarkan aku melupakan nikmat walau hanya sedikit. Sungguh nikmat yang harus disyukuri. Ramadhan, jadikan aku untuk lebih mengenal-Nya dalam malam penuh acara. Dalam malam berbalut bahagia, dalam malam berlantunkan doa.
Ramadhan, ajari aku menjalani hidup dengan ikhlas. Jauhkan aku dari kataku yang pernah ku ucap waktu itu, jauhkan aku dari itu mulai saat ini sampai besok-besok. Aku ingin mejadi insan yang lebih baik dari ini.

Senin, 15 Juni 2015

Dari Kami untuk Kamu

Tetap jadilah wanita tangguh seperti yang pernah kami harapkan kepadamu sebelum kamu terlahirkan di dunia yang luas ini. Tetap jadilah cahaya yang menjadi harapan bagi kami untuk tetap semangat dalam menjalani hidup ini.Kami selalu menjadikanmu pelita kami. Jika kamu mengira kamilah pelitamu, kamu salah! Kami mati-matian seperti ini karena kami ingin melihat pelita kami hidup lebih terang. Kami hanya menjalankan kewajiban kami. Jangan pernah menganggap tingkah hidup yang kamu jalani akan membebani kami. Kami senang jika kamu senang. Kami bangga jika kamu bangga membanggakan kami. Sebenarnya kami tak mengharap apapun dari kamu, hanya saja 'kami tak ingin melihatmu menjadi lebih parah seperti saat ini. Kami ingin kamu jaya yang menjayakan saudaramu. kami ingin kamu tetap hidup dalam hati kami dan mereka, tetap menjadi wanita bahagia yang terarah oleh tuntunan-Nya. Kami tak ingin pelita yang kami impikan menjadi kelam dan gelap'. 
Kala masalah menghadapi kamu, ibaratkan masalah itu sebagai teman barumu. Ajak mereka berbahagia, ubah mereka menjadi wadah pemberi senyuman. Kami tak pernah mengharapkan pedih datang bertubi-tubi untukmu. Kami tak pernah menyalahkan takdir kami yang menjadikan kamu disini, karena kami yakin 'kamulah yang akan mengubah kami suatu saat nanti'. 
Kelelahanmu jangan kamu anggap sebagai batas ujung perjalananmu. Jika kamu lelah sebab apa? Kami ini tak pernah lelah, mata kami juga tak pernah kantuk, obat kami ya kamu. Kami ingin lelahmu dengan cepat akan hilang. Kami tak ingin kamu terjebak dalam lengahnya aksi dunia. 
Dalam kelam kami berkata 'perang belum seberapa, ada keluarga yang nantinya akan menjadikanmu lebih mengerti arti kelelahan yang sebenarnya'. 
Pelita kami, selesaikan apa yang menjadi pemula untukmu. jangan biarkan semua tertunda begitu saja. Bukankah dulu kamu ingin kami bahagia?
Pelita kami, denganmu tersenyum bahagia itu adalah kebahagiaan kami.
Kami tetap menjadi kami yang mungkin suatu saat kembali. Ketika itu kamu akan lebh merasakan menjadi kami. Kami yang bukan kami. Kamu yang lebih menjadi kami. Tuntunlah mereka dalam dekap hangat darimu. Ajak mereka menjadi hebat lebih darimu. Bukan mereka yang lebih lelah dibanding yang kamu rasakan saat ini. Yang semuanya kamu ceritakan saat ini.



Selasa, 09 Juni 2015

~



Seharusnya aku tahu dinomor berapakan aku olehmu. Bukan mayoritas, bahkan bukan minoritas. Aku tak dikenali lagi olehmu. Hujan sore itu sungguh menyisakan luka pilu. Semua kenangan manis olehmu dan aku yang sering ku panggil dengan kenangan kita tiba-tiba hilang seketika. Sehilangnya debu terhapus terjatuhkan air deras.
Motor matik yang kamu kenakan untuk mengantarkanku, tiba-tiba terjatuh dan meninggalkan darahmu akibat prbuatan seseorang yang tak kutahui. Dia pergi begitu saja tanpa tahu kesalahannya.
Semuanya telah berubah. Kamu bukan lagi kamu. Aku pun sudah tak lagi aku yang tanpa kamu.
Apa aku masih tetap menjadi ‘dia’ yang dulu menjadi pengahpus rindumu, pengahpus lelahmu bahkan pemberi sedikit semangat untukmu. Jika boleh untukku memulainya lagi dari awal dengan keadaanmu seperti ini, ingin rasanya berkenalan kembali lalu menjalin cerita baru lagi ketika aku dan kamu menjadi kita. Tak lagi seperti katamu di pagi itu “siapa kamu?”

Saya rindu itu



Assalamualaikum penghias mimpi..
Masihkah disana kita akan selalu menjadi kita?
Tuan yang jauh disana, saya berusaha menjaga dan melaksanakan amanahmu. Tetap menjaga hati dan memperhatikan wanita yang sempat tuan kenalkan kepada saya waktu lalu. Saya harap tuan tetap menjadi terbaik.
Mari kita seduh kopi hangat di tempat yang berbeda. Mari kita menuai rindu dengan kuat, hingga suatu saat ada waktu dan tempat yang menemukan kita dalam satu titik tanpa kebosanan, quality time.
Tuan yang berbadan tinggi, saya merindui  bersandar di pundak tuan. Saya rindu tentang kita yang duduk dan menhabiskan waktu sehari dengan tertawa lepas meski hanya dengan lampu kota malam hari dan sebuah eskrim. Saya rindu itu, Tuan.
“Dari negeri yang jauh, kau datang penuhi takdirku”.
Saya tak pernah menyerah dengan keadaan ini, saya juga tak pernah berhenti berharap akan tuan dan saya yang menjadi kita.
Tuan muda , dari cerita 1021 hari ini tidak ada sedikitpun cerita yang tidak saya sukai. Semuanya hampir menjadi senyuman  untuk saya meski yang memberi senyuman jauh disana. Saya bersyukur itu. Meski ujian tetap menyapa, karena cinta pernah berganti cahaya.
Terimakasih Tuan muda yang saya sebut sebagai tuan muda saya.

Kamu apa kabar?



Hanya dengan kata “kamu apa kabar?” setidaknya sedikit mengurangi rasa yang lama menjadi penghalang kami untuk menyatu. Aku sadar, mungkin dia lebih mementingkan masa pendidikannya. Atau saja ponsel genggamnya sedang dibawa komandannya.
 Selama ini belum ada kabar tentangnya. Satu dua kali kusebut kata “kamu apa kabar” kembali kepadanya, tetap saja tak terbalas. Apalagi SosMed, terbaca pun tidak. Saya mengharapkan sapaan bahkan pertanyaan itu terbalas, meski dengan tulisan tanda titik (.). setidaknya ada rasa hormat untuk saya sebagai kekasihnya. Itu saja, tidak lebih.
“Tuhan semesta alam mengetahui semuanya sayang, berbalik apa perjuangan saya itu ada yang mengatur. Kamu berujung bagaimana juga itu sudah diatur. Kita hanya bisa berdoa dan menjalani  ini semua, waktu yang lama tak pernah menjadi penghalang untukku atau menjadi alasanku untuk lelah menganggapmu ada. Kamu baik-baik disana. Cepat pulang, aku merindukanmu lebih besar dari kemarin” saya tulis pesan singkat itu untuknya. Entah itu dibaca atau tidak, tetapi saya sakin suatu dia membacaya, senyum lesung pipinya kelihatan. Gambaran yang jelas dan semakin jelas ini menjadi saya kembali merindukanya dengan dahsyat. Tapi saya berusaha menanamkan “cinta saya kepadanya karena Allah”.
Wanita terpenting dalam hidupnya pun tak seheboh dibanding diri saya yang belum  tentu menjadi siapa-siapa untuknya. Tapi tak bisa saya pungkiri, sungguh saya rindu dengan sosok yang telah lama saya anggap kekasih. Kekasih yang kerap kali diidamkan oleh orang lain. Namun hatinya sangat kokoh, itu yang membuat saya yakin dengannya.
Baik-baik disana sayang, semoga kebaikan Tuhan selalu bersamamu. Jangan hilangkan sifat indahmu dari dulu. Cepat pulang, sekali lagi cepat pulang.
Salam hangat untuk orang terhebat