#ApaIniRinduMasaLalu
Aku tetap sebagai penggemar
yang tak mampu mengucap kejujuran. Aku
seolah hanya menantikan datangnya pelangi pada malam hari. Mengucap tanpa kata.
Mencintai tanpa balas. Apa ini salah? Menantikan suatu cinta yang selama ini
terpendam akan terungkap tanpa ada yang berbicara, hanya tingkah laku yang
mampu menafsirkan. Berat memang, memendam rindu dalam pilu.
Sebelum semua tertera, cinta yang
selama ini terpendam hanya mengenaliku sebagai perindu harapan datangnya terang
saat fajar. Penuh harap. Nama nyataku Elsa Laurinda, aku senang ketika orang
memanggilku ‘Rindu’, padahal itu bukan namaku namun itu sebutan penuh makna. Aku memang sering merindu. Merindu
seseorang, hal, suasana, dan sebagainya.
Sore ini, datang pelangi yang
menjadi hiasan berlekuk diatasku. Pelupuk mataku tak kuasa meneteskan air mata.
Apa seberat ini aku merindu kekasih terkenangku di masa lalu? Aku berpikir tak pernah pantas untuk bahagia,
sejak dia pergi dalam ketidaktahuanku. Kini dia seakan kembali membawa
bingkisan untuk membalas rinduku selama ini. Bayangannya terlihat semu berada
di sampingku, nyata namun tak mampu aku sentuh. Bayangnya menjadi abu, lalu
hilang. Hujan menyadarkanku akan waktu yang lama dalam penantian, membasahi
tubuhku hingga bantuan datang untukku.
“Mbak, ini payung buat mbak. Jangan
duduk sendirian disini mbak. Mari ”. Penolong tersebut pergi begitu saja.
Satu, dua, tiga hingga sepuluh
meter dia melangkah pergi meninggalkanku. Semakin jauh dia pergi, ingatanku
semakin jelas akan wajah baik itu. Mas… bibirku berucap ketika dia telah
berlalu.
Sejak itu, aku mencoba menghampiri
tempat saat ku berjumpa dengan lelaki pembawa rindu. Persis dengan kekasih di
masa laluku. Aku terlalu terbawa suasana pengharapan. Kali ini, aku berharap
rinduku menjadi cerita klasik di saat itu.
Posisiku dalam penantianku persis
dengan pertama kali kami berjumpa. Kali ini, dia tak datang. Sedikit kecewa,
namun aku bukan orang yang hanya sekali mencoba menghapus rindu. Tetap aku
mencoba kembali.
Berkali-kali aku merasakan kecewa,
kecewa karena ketidak jelasan. Aku pernah berpikir untuk mencoba duduk kembali
di tempat yang sama. Datang seorang yang berparas menyerupai lelaki pertama
yang memberiku payung. Bahagiaku mulai tergambar secara tak jelas. “Mbak, hujan
loh. Kenapa payungnya nggak dipakai? Nggak pulang? Atau mampir ke rumah saya.
Rumah saya di gang depan itu yang berwarna abu-abu ada corak hitamnya sedikit
nomer 53B. Adik perempuan saya kebetulan di rumah” ajak lelaki baik namun bukan
lelaki yang ku harapkan.
“Maaf mas, boleh nanya. Mas
mengenali lelaki yang kira-kira tingginya 175cm. kulit sawo matang, dia sering
memakai kaos”. Aku mencoba menjelaskan secara detail akan ciri-ciri lelaki itu.
Namun tak terlihat di mata mas-mas tadi. Kepalanya bergeleng.
Pertemuan saat itu terasa bukan
seperti pertemuan yang pertama maupun terakhir. Entah ikatan apa yang terjadi
saat itu. Terdengar jelas detak jantungku.
Aku
tertidur. Dua lelaki datang menghampiriku dalam mimpi, seperti Erik dan lelaki
penolong itu. Tetapi tanpa sapa mereka hanya lewat di depanku. Aku memandangi
mereka sampai bayangan mereka tak Nampak lag. Namun mereka terlihat seakan
menjadi satu orang. Sebenarnya siapa mereka? Apa mereka orang yang sama?
Berarti lelaki pengantar payung di bawah pohon itu adalah Erik, tetapi kenapa
dia tak mengenaliku.
Untuk kesekian kalinya aku
merasakan rindu yang bergebu-gebu yang tak berujung. Berpisah di tengah
keramaian stasiun kota itu. Aku memeluk erat tubuh Erik, tetapi kenyataan tak
bisa ku putar kembali. Orang tuanya terbaring selamanya. Erik pindah ke rumah
neneknya yang jauh dari batas kotaku. Bertahun aku menanti kedatangan itu.
Tetapi tiap kali aku berharap, selalu saja gagal.
Aku duduk di kursi ruang tunggu keberangkatan kereta. Aku bersinggah
ke tempat saudara di kota Semarang. Kereta datang, dan tandanya aku dalam waktu
beberapa menit lagi akan meninggalkan kota ini sebentar, kota penuh kenangan
yang terpendam.
Perjalananku terasa lelah.
“Minumnya mbak” suara penjual asongan menawarkan minum di transit
kereta-angkotan kota. Aku mengambilnya. Ku lanjutkan jalanku menuju tujuan.
“Mas, bisa antar saya ke Ungaran?”,
tanyaku kepada sopir taxi berwarna biru itu.
“Mari mbak, bisa”. Aku bergegas
memasukkan koper berisi baju ganti selama berlibur. Suasana Semarang memang
berbeda dengan tempatku tinggal. Semarang bukan kota Metropolitan.
“Semarang indah banget ya”, ku
tulis status di path. Setelah hamper satu jam aku berada di taxi, aku turun.
Tempat tujuanku berada tepat di muka taxi. Aku masuk ke rumah.
Sebenarnya, pergi berlibur adalah
salah satu caraku agar kesedihanku sedikit hilang. Suasana segar di pegunungan
yang jauh dari kota membuatku merasa nyaman.
Lagi dan lagi aku menemui sosok
yang hampir mirip dengan Erik. Kali ini aku yang menghampirinya.
“Maaf mas mengganggu lamunannya.
Sendirian ya mas?”, tanyaku penuh kekhawatiran. Iya khawatir akan lelaki yang
duduk memandangi pegunungan di pagi ini. Lelaki itu menoleh. “Iya mbak”.
“Mas asli sini? Kok gaya bahasanya
agak sedikit berbeda”, tanyaku kembali.
“Sebenarnya bukan mbak, saya
tinggal di rumah nenek saya. Saya sudah 3 tahun berada disini. Sejak saya lulus
SMA. Mbak dari kota ya?”, lelaki itu menatapku dengan senyuman. Ramah sifatnya.
Aku melihat lelaki itu dengan wajah
penuh pertanyaan. “Saya dari Jakarta mas, saya kesini berlibur ke rumah nenek
saya. Baru kemarin sore saya sampai. Lantas mas asli mana? Masih sekolah atau
sudah kerja?”
Ciri-ciri lelaki itu mirip dengan
Erik. Tetapi lelaki ini memiliki gaya rambut yang berbeda dari Erik. Aku
melihatnya dari bawah sampai atas .
“Mbak dari Jakarta, saya dulu juga
tinggal di Jakarta. Masih mbak, di Universitas Diponegoro Semarang mbak”.
Jantungku berdetak semakin kencang, aku semakin yakin kali ini rinduku akan
terobati.
“Nama mas siapa?”, tanyaku dengan
cepat.
“Ananda Erik Prasetya mbak.
Kenapa?”
Aku seakan merasa tak percaya, kali
ini aku menemui orang yang bertahun-tahun ku rindu. Tetapi kenapa dia tak
mengenaliku. Apa ada yang berbeda dari diriku. Bukannya hanya penampilan saja,
tetapi kenapa tak dikenal olehnya. Aku dengan cepat bersandar di pundaknya. Ku
lihat matanya, mata seseorang yang mengajarkanku kesetiaan.
“Maaf mbak, ini ada apa ya? Kenapa
mbak menangis?”. Lelaki itu mencoba membangunkanku dari sandaran pundaknya.
“Aku Elsa, kekasihmu dulu. Aku
sudah lama menantimu. Aku kira kita tak akan pernah ketemu. Aku selalu
menantimu di pintu stasiun. Aku berharap kamu pulang. Aku juga berharap hatimu
akan pulang kembali menuju hatiku Rik”. Aku memandang wajahnya tepat di
depannya. “Kamu tahu? Berkali-kali aku bermimpi tentangmu. Dulu seorang lelaki
memberiku payung di bawah pohon sewaktu hujan, aku berharap itu kamu. Payungnya
juga aku bawa berlibur. Karena aku yakin, akan ada hati yang kembali menuju
kesini”. Aku mengusap air mataku dan melimpahkan segala rasa rinduku.
“Kamu Elsa? Kok berubah? Maafin aku
ya, yang tak pernah memberimu kabar. Aku pernah berkunjung ke rumah lamaku. Aku
rindu dengan kenanganku bersama Ayah dan Ibuku. Jadi, dulu gadis yang memakai
topi putih itu kamu? Sudah jangan nangis lagi, sekarang kamu sudah menemuiku”.
Erik mengusap air mataku dengan lembut.
“Aku bahagia banget hari ini,
disini. Gak sia-sia aku kesini Rik. Kamu masih ingat kado pemberian kamu dulu?
Masih aku simpan loh. Aku menyimpan semua kenangan kita dengan baik. Aku masih
sayang kamu Rik. Maafkan aku yang dulu ya Rik”.
Erik tersenyum kepadaku. “Elsa… Aku
selama ini juga mencoba membunuh rindu. Rindu hampir mati, tetapi sekarang
hidup kembali. Tapi aku bukan yang harusnya kamu pilih”. Erik melepaskan genggaman
tangannya kepadaku. Dia pergi dengan senyuman, dan membiarkanku sendiri dalam
perasaan yang belum aku ketahui namanya. bercampur menjadi satu. Aku terbang
karena rindu menjawab pertanyaanku secara perlahan dan membawaku bertemu dengan
Erik. Tetapi setelah ini aku hancur, hatiku sakit.
Alam yang
masih menggambarkan lekukan dataran tinggi hingga membentuk gunung secara jelas
menjadi saksi kepedihanku. Baju rajutanku basah
karena aliran air mataku. Ternyata Rindu masih mencoba untu pilu.
Berhari-hari, makanpun menjadi tak
enak. Semuanya serba Erik. Liburanku yang aku rencanakan dengan indah, sekarang
menjadi tak karuan.
Sayuran, tanaman teh dan segala
tumbuhan di kebun nenek menjadi teman liburanku. Datang pemanen teh yang ingin
memetik pucuk daun teh itu.
“Mas, mau metik daun teh ya? Boleh
saya bantu?”, tawarku dengan sikap seakan siap membantu.
“Boleh mbak. Tapi kalau mbak gak
pake sarung tangan nanti tangan mbak gatal-gatal, bukan hanya tangan bahkan
seluruh tubuh mbak. Bagaimana? Tetap mau membantu?” Mas-mas pemetik daun teh
itu mencoba untuk tidak memperbolehkanku karena dia tau akan status aku disini.
Cucu juragan.
“Halah mas, gatal-gatal mah bisa
diobati, bisa dibawa ke klinik. Daripada saya gak ada kerjaan disini, saya juga
belum punya banyak kenalan disini mas. Sekalian nyari teman niatnya”. Aku
mengajak mas pemetik daun sembari aku memetik daun teh juga. Ternyata orang
pedesaan tak sama dengan yang aku bayangkan selama ini. Mereka juga asyik
seperti orang kota. Di tengah kebun teh, aku tak sengaja menyentuh ulat bulu
yang berduri dan menyebabkan tanganku terluka lalu gatal.
“Ataaaauww”, aku menjerit karena
kesakitan.
Laki-laki pemetik daun teh itu
dengan segera menyentuh tanganku dan menghilangkan darah di tanganku yang
terkena ulat tadi. “Mbak, tadi saya kan sudah bilang. Harusnya pake sarung
tangan”. Aku melihat mata indah seorang pemetik daun teh itu. Tergambar sifat
yang sangat baik, perhatian. Mata indah itu mengingatkanku dengan Erik. Aku
sungguh rindu dengan sikap Erik yang dulu. Aku terbawa dengan suasana kalut
karena teringat dengan Erik. Ilham si pemetik dauh teh itu membangunkanku dari
lamunan.
“Mbak, kok nangis? Ini tangannya
sudah membaik. Tapi nanti kalau masih ada yang gatal, nanti mbak hubungi saya
saja. Nanti saya ke rumah nenek mbak” Tanya Ilham melihat mataku, dan
melepaskan tanganku.
“Oh baik mas. Enggak mas, ini
terlalu sakit jadi air mata tak kuasa menetes. Makasih ya mas”. Aku memegang
tangan yang luka dengan tangan satunya.
“Oh iya mas, jangan panggil saya
mbak. Saya kan masih muda”
“Kalau begitu jangan panggil saya
mas juga. Saya juga masih muda kok”. Kami berdua tertawa bersama. Ilham
mengajarkanku tentang kebahagiaan yang sederhana di desa.
Kami menjadi akrab karena kejadian
di kebun itu. Hingga sepekan kami kenal, aku mengajak Ilham pergi mengelilingi
indahnya suasana malam hari di kota Ungaran, tepatnya di Bandungan itu.
“Ham, thanks ya. Gara-gara kenal
kamu suasana liburanku menjadi indah. Seindah pemandangan itu”. Aku melihat
pemandangan kota Semarang dari atas. Ilham melihatku dan tersenyum.
“Iya Sa. Sama-sama. Yang penting
kamu senang, aku juga ikut senang”. Kami berdua melanjutkan perjalanan.
Berjalan dan terus berjalan hingga lupa dengan waktu.
Ilham melihat barang yang melingkar
di tangan kirinya. “Sa, sudah malam. Aku gak enak dengan nenekmu. Pulang yok.
Besok-besok lagi”. Ajak lelaki yang perhatian dan penuh tanggung jawab itu.
Ilham memegang tanganku dan mengajakku jalan. Kami berdua melihat kearah tangan
yang berpegangan mesra itu. Anehnya setelah kami melihat tangan itu, Ilham tak
melepas pegangannya, malahan semakin erat. Aku tersenyum melihat mata Ilham.
Sampai depan rumah nenek, tangan kami berdua belum juga lepas.
“Eh lupa. Yasudah, bobok sana.
Lanjut besok lagi. Pagi-pagi besok aku ajak kamu jogging ya Sa. Have nice
dream. Ketemu aku di mimpi”. Ilham melontarkan kata itu. Dan kalian tahu?
Jantungku berdebar secara kencang. Apa ini namanya cinta? Aku berjalan menuju
rumah. Selangkah aku berjalan, aku berbalik badan kearah Ilham dan tersenyum
penuh kata terimakasih atas semuanya. Ilham pergi dan aku melanjutkan kakiku
melangkah menuju rumah.
Esok paginya Ilham menepati
janjinya, dia berdiri di depan rumah dengan kaos berwarna biru muda, celana
training berwarna biru donker dan sepatu berwarna putih. Dia terlihat keren. Kami
berdua jogging menuju pegunungan. Jalan yang kami lewati semakin tinggi.
Aku berhenti kelelahan. Kali ini
aku capek, bukan capek menahan rindu. Tetapi capek fisik. “Ham, sampai sini
saja ya. Capek”. Keringatku bercucuran. Napasku tersendal-sendal.
Ilham tersenyum melihat aku basah
bercucuran keringat. Diusapnya dengan handuk kecil berwarna biru muda. Dan
ilham mengajakku berdiri lantas memegangku dan mengajakku meneruskan perjalanan
kembali. “Ayo, ada yang mau aku tunjukin ke kamu. Masak segitu aja sudah loyo”.
Aku terhenti karena ucapan Ilham.
“Kan? Aku capek Ham. Nih kakiku
pegel banget”.
Ilham tak menghiraukan perkataanku.
Dia tetap asyik dengan gerakannya yang semakin cepat menarik tanganku,
mengajakku berjalan dengan cepat.
Dyaaas !
Aku kaget dengan semua ini.
Pemandangan yang belum pernah aku temui sebelumnya. Keren.
“Lihat danau itu, membentuk gambar
yang aku rasakan sekarang”, kata Ilham dengan jari bertunjuk ke arah danau.
“Menyerupai Love Ham. Kamu lagi
jatuh cinta?” aku tetap melihat pemandangan sekitar dengan perasaan nyaman,
senang, dan bahagia.
“Kamu”. Kata Ilham dengan jelas.
Aku menoleh ke arah Ilham. Aku
sudah bangun kan ini? Lelaki sepandai Ilham mencintaiku?
Mukaku penuh pertanyaan. Mulutku
seakan terkunci dengan rapat. Tak bisa terucap apapun. Bagaimana aku bisa
mencintai orang lain sedangkan hatiku masih terasa mengikat Erik.
“Ham….”, aku menceritakan semuanya
ke Ilham. Tangan yang awalnya memegang erat, tiba-tiba terlepas. Dengan cepat
aku menoleh ke tangan yang secepat itu terlepas. Aku mencoba memegang tangannya
dengan spontan. “Tapi Ham, semenjak ada kamu. Aku sedikit lupa dengan Erik.
Tetapi hatiku tak bisa bohong. Aku kesini untuk Erik. Mencoba mencari Erik. Dua
minggu yang lalu aku bertemu dengan Erik, tetapi Erik belum bisa menerimaku
kembali. Dia ingin fokus dengan dirinya dulu. Dan aku ingin setia menantinya.
Kamu aku anggap sebagai kakakku. Jangan marah ya Ham. Kamu sudah memiliki
hatiku. Tetapi kita berbeda misi”. Aku tersenyum melihat Ilham yang berdiam mendengarkan
penjelasanku. Aku memeluknya dengan penuh sayang. Ilham memahamiku. Tangannya
memegang punggungku dengan erat. Dia menangis. Baru kali ini, lelaki menangis
di pundakku. Dan itu karena aku. Apa aku sejahat itu?
“Sa, karena sejak ada kamu, aku
bisa merasakan arti cinta. Bisa mengerti semuanya. Aku sayang kamu Sa”
“Kok nangis? Jangan nangis”. Aku
melepas pelukanku.
Dia mengusap matanya yang basah.
“Aku nggak nangis. Ini tadi kelilipan embun”. Aku dan Ilham saling tersenyum.
Kami pulang dengan perasaan yang berbeda. Canggung, tak seperti kami berangkat.
Kali ini aku semangat.
Di perjalanan pulang. Kami menemi
Erik. Erik melihat kearah kami. Erik mendekatiku.
“Ham, aku meh ngomong karo Elsa
sedelok. Rapopo kan?”. Dia berbicara dengan bahasa khas daerah Semarang. Aku
tak mengerti dengan apa yang mereka ucap.
“Yo Rik. Aku nitip Elsa yo Ojo
diloroni meneh. Wonge terlalu sayang karo kowe”. Ilham menepuk pundak Erik. Aku
gak tau apa maksud percakapan mereka. Yang aku tau hanyalah kata ‘aku titip
elsa dan terlalu sayang’, tapi maksudnya sayang siapa. Salahku berlibur disana
tak memahami bahasa jawa dengan baik. Terdengar sulit.
“Elsa…”, tangan Erik memegang
tanganku. Ilham pergi begitu saja.
“Rik, tanganku kotor loh”. Aku
mencobe melepaskan pegangannya. Aku bingung dengan Erik.
“Gapapa, yang penting aku pengen
ngomong sama kamu. Soal tangan kotor urusan belakangan”. Erik menghela napas
sebentar “Aku mencintaimu dengan rindu yang terdalam. Sedalam apa itu aku
gatau, atau sedalam akan rindu kamu terhadapku. Aku mencintaimu dengan lebih
dari aku mencintai diriku sendiri. Dan aku ingin denganmu. Bukan dengan
berpusing soal kuliah saja. Aku ingin memilikimu seperti dulu lagi. Dan aku…”.
Aku melepas pegangan Erik, dan menutup mulutnya yang berbicara.
“Asin dan masam gapapa kan Rik?”
dengan tersenyum aku melanjutkan jawabanku. “Aku mencintaimu lebih dari kamu
mencintaiku. Aku dengan berat mencoba melepas rindu, tetapi rindu semakin kuat
berdiri. Aku tak bisa mengucapkan semuanya. Semua tak bisa aku rangkai dengan
kata-kata. Hujan membantuku mencarimu. Embun membantuku untuk melepas rinduku
untukmu, dia menggambarkan gambaranmu di hadapanku. Bintang membantuku
tersenyum karena bintang memebentuk senyummu. Hingga mimpi membantuku
menemuimu. Bahkan payung pun membawaku terbang kesini dan menjemputmu. Semuanya
belum menggambarkan kebahagiaanku saat ini Rik. Yang aku yahu hanya ‘love you
more’”. Aku memeluk Erik dengan erat. Seakan tak ingin lepas, dan tak ingin
membiarkannya pergi lagi. Aku tak ingin rindu menghantuiku lagi. Rindu yang
pilu kini hilang. Karena masa laluku menjadi masa baruku dengan orang yang
sama. Aku menemui kenangan berupa cerita dan bertemu untuk mengukir cerita
bersama orang terkenang. Semoga rindu hanya bersemayam di diri pungguk yang
merindukan bulan.
Dan aku percaya, suatu saat Ilham
akan bahagia dengan pilihannya.
****************************************END**********************************************