Sabtu, 23 Mei 2015

SCBM (2)



Bukan masalah seragam yang aku kenakan saat ini, namun masalahh pendewasaan yang mendewakan kehidupan. Mereka pikir aku bukan lagi anak sekolah yang sudah tidak pantas memakai putih abu-abu. Mereka piker aku dewasa sebelum waktunya. Sebenarnya tidak masalah.
“Selamat pagi pak”, sapaku terhadap tukang bersih-bersihh taman tempat aku menunggu waktu sebelum bangun baru memenuhi otakku, benzene mungkin, atau gambar vibrasi yang banyak melebihi gambar komik anime yang sering aku baca.
Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar dan serasa mendeka kepadaku. Tak lain adalah si krab, teman akrabku. Dengan cara asyiknya ngibully aku, namun sayangnya senjata makan tuan. Iya, kata mereka juga aku adalah jomblo yang kedap dengan kata-kata. Sulit mengalahkanku dengan kata-kata. Oh iya, maksud aku tadi single, bukan jomblo.
Aku memasuki kelas dengan sedikit loyo. Aku piker ini bukan aku yang biasanya. Apa karena efek petikan gitar yang belm selesai karena teriakan adikku? Bukan! Ini bukan masalh gitar itu, ini masalah hati. Fix, aku galau!
“lu netesin air mata? Kenapa? Apa karena Doni lagi? Sudah lah, itu orang biarkan semaunya sendiri. Kalau dia sayang pasti suatu saat akan mencari lu lagi!”. Mungkin Krab lelah menasihatiku. Yah, bagaimana lagi. Hati tak bisa memungkiri.
Aku tersenyum melihat tingkat temanku yang asyik membaca buku diaryku yang tadi pagi diambilnya secara sengaja di tasku. “Ebusyet, baru kali ini gue lihat lu segalau ini. Parah! Memang butuh kue cubit satu kilo nih buat di Doni. Sabar ya Jeng. Kalau jodoh emang gak kemana. Papa mamaku juga gitu kok, kalau gak jodoh pasti gak bakal ngasilin gue yang secantik ini” celetuknya. Heran dengan ini orang, cerewet, jail, terkadang bisa songong, tapi selama ini aku belum pernah melihatnya nangis. Pernah sih satu kali, pas kakinya disengah lebah. Memar banget.
“Nanti temenin aku ya, tadi ayah nyuruh aku ke bengkel. Mobil ayah lagi riweh”. Dia mengangguk seakan mengiyakan perkataanku. Dia tidak pernah menidakkan semua yang aku mau.
Kami berdua memasuki mobil menuju bengkel.
Melesat tanpa melihat kecepatan mobil. Tepat di lampu merah pemberhentian lalu lintas, seorang penari entah itu perempua atau lelaki. Dia melekuk-lekukkan tangan dan tersenyum tanpa jelas pandangannnya kemana. Menuju mobilku. Kubuka kaca mobil, sedikit yang ku beri. Mata itu. Iya mata yang seakan pernah aku kenal. Lampu hijau hidup, itu tandanya untukku melanjutkan perjalanan.
Tepat di bengkel.  Aku mencoba menanyakan Doni kepada kakaknya yang tak sengaja juga service di tempat yang sama. “Hei kak, apa kabar?”. Si krab mencoba mengkode untuk tidak terlalu menanyakan hal tak penting itu.
“Kabar baik Ra, kok lama kakak gak lihat kamu ke rumah ya?” tanyanya kepadaku lagi. “Oh iya kak, lagi banyak agenda yang membuat Dira belum sempet mampir rumah. Salam bat tante sama om ya”. Aku sembari pergi mennggalkan lelaki yang ku kenal itu.
Mobil sudah jadi, tandanya aku dan Nenes harus melanjutkan perjalanan untuk pulang. “ Ra, mampir ke tempat biasa sebentar gimana? Entar aku deh yang nginjinin kamu ke om. Biar gak dimarahin. Aku tau kok, kamu butuh hal yang membuatmu bisa menghilangkan, bukan maksudku melupakan masalahmu”. Entah ini anak kerasukan apa, padahal tiap hari si judes dan ngangenin ini sering kali bicara ‘guwe elu’.

SCBM (1)



Selamat malam dunia. Aku memulai menulis cerita tentang sebuah kisah yang menjadikanku enggan untuk berbagi ke setiap orang yang lalu lalang di depanku sejak tadi pagi. Tak satupun dari mereka ku kenal. Lagi dan lagi aku merasa jatuh hati pada satu hati yang  kerap kali membuatku tertawa bahkan tersenyum. ‘pengen move on tapi ora iso’. Move on tak semudah yang didengar. Semua berkata dari hati. Bergumam dalam rasa. Pahit memang ada, namanya juga rasa.
Bandana kelinci warna biru yang ku kenakan malam ini membuatku geli dengan sendirinya. Tak seperti biasanya. Aku hanya ingin memutar kenangan manis waktu masa putih abu-abu dulu.
Tentang masa itu banyak cerita yang meyakinkanku berdiri pada satu hati itu sulit. Banyak tikungan. Tinggal setia berpegang teguh.
Malam itu, bintang terlihat terang. Seakan tergambar emoticon smile seperti wajahnya waktu tanpa aku. ‘jreng jreng’ ku letakkan buku hadiah snack bergambar kelinci itu. Aku meraih gitar dan mendendangkan lagu kesukaanku “menangis semalam”. Bukan seperti isi hatiku sih, lebih tepatnya lagu itu enak dijadikan lagu penghantar tidur. Aransemennya juga tak semellow suara Audy yang semestinya. “kakak, itu sinar gitarnya nanti putus lagi loh ! aku besok ada penilaian seni. Baru aku ganti juga”, teriak adikku yang jauh dari postur tubuhku. Dia imut, cantik, penampilannya modis, pipinya berlesung pipit, rambutnya terurai panjang. Memang iya jika dilihat secara sepintas kami berdua tidak ada persamaannya.
“iyaaa”, jawabku sambil meletakkan alat itu.
Waktu berputar dengan cepat. Adalah tanda malam sudah mulai larut. Aku ingin menunggui bintang yang terang itu. Aku tak mau membiarkannya pergi begitu saja, dengannya tiap malam ku temukan mimpi indah. Itupun kalau musim kemarau.
Hujan turun seketika. Awan gelap menutupi sinarnya. Tak apa sih, masih ada suara jatuhan air di blakon kamarku menemani malam menjelang tidurku.
Malam yang penuh tantangan. Bertemu dengan kisah lama sebelum waktuku memakai abu-abu putih. Tiba-tiba dasi biruku yang ku kenakan waktu jalan setelah mengisi acara paduan suara terputus karena pegangan lelaki yang sekarang memakai baju dinas itu. Sehari setelah itu ternyata aku dan dia mulai benar-benar putus hubungan. Kita hanya sebatas masalalu. Cerita tentang kitapun terbatas dengan kecamatan.
Malam itu, aku bertemu dengan bayangan orang yang masih samar-samar untukku lihat. Aku mencoba mendekatinya, semakin dekat dan semakin dekat. Bukan wajah dia yang ku temui, namun guling yang kubawa sewaktu tidurku. Sial ! pertemuannya gagal di tengah jalan.
“pagi sayaaaang. Bangun sudah jam 6, nanti sekolahnya telat. Sekalian nanti bawa mobil Ayah ke bengkel”, kata Ayah. Hmmmm.. ngantuk Yaaaaah. Ayah mencoba membangunkanku dengan paksa. Ayah tahu semaleman aku belum belajar, padahal ada kuis rutin tentang reaksi  yang panjang banget. Reaksi adalah teman baruku sejak 2 tahun yang lalu.

Aku dengan cepat berangkat sekolah.
Hati-hati

Rabu, 11 Maret 2015

Singkat Kata Peresah Rindu.


Kamu Tanya siapa aku ? sejelas itukah aku bagimu? Sebenarnya aku adalah tempatmu saat kamu bercerita tentang masalahmu, dari cerita suka maupun duka. Iya, aku yang selama 3 tahun mencoba berdiri tegar menemanimu, tapi seribu sayang aku adalah orang yang tak pernah terlihat bagimu. Bodoh memang diriku, mencintai dalam kesunyian di keramaian suara. Banyak orang beribut, tapi aku tetap menjadi orang yang pengecut. Aku tak pernah pergi dalam ketidaklepasanku. Di pertigaan singgasana ternyata ada gadis yang lebih sakit dariku. Lalu apa kami akan tetap diam dalam rindu dan dendam yang mencekam? Sedang kamu tak pernah berada dalam rasa yang sama, bahkan menolehpun tidak sama sekali. Menjadi pengunjung yang belum jelas akan statusnya antara menetap atau hanya singgah sementara itu memang tak pernah diinginkan. Misal aku. Aku saat ini menjadi pengunjung yang tak jelas statusnya, bahkan sewaktu-waktu aku akan terhempas dalama kejauhan yang membuatku tak pernah mampu melihatmu.
Tuhan tidak menjanjikan hari-hari tanpa sakit, tertawa tanpa kesedihan, matahari tanpa hujan, tetapi Dia menjanjikan kekuatan untuk hari itu, kebahagiaan untuk air mata, dan terang dalam perjalanan -milis Cetivase-
Sepuluh menit aku tertidur dalam kelelahanku, aku terbangun spontan, terusik suara klakson pemberi kabar yang berada tepat di depan rumahku. Aku merindu dengan orang yang salah. Cincin yang melingkar di jari tengahnya dulu adalah cincin pengikat hubungan. Tak pernah ku dengar sebelumnya tentang kabar ini. Karena yang aku rasa kamu adalah milikku. Berada dalam rindu kekecewaan. Ku kira bunyi klakson itu adalah pertanda untukku akan kabarmu. Ternyata yang aku terima lebih dari sekedar kabar, sayang. Pak pos berlalu, tanpa ucap kata aku melangkah menuju kursi di teras. Benarkah yang kurasa saat ini? Lantas apa maksud kata 3 tahun yang lalu, adakah perasuk yang berada kuat di tubuhmu agar aku menjadi tulang rusukmu yang kau akui patah namun hanya tergores? Lalu apa kabar gadis perindu akan rasa yang sama itu? Bukan lagi menjadi cinta segitiga atau bangun datar apa itu. Rumit.



Saat ini aku tetap menjadi perindu yang bisu, tanpa suara tanpa gaya. Saat siang menjadi malam, aku menjadi bintang yang enggan muncul karena malu. Aku takut akan rindu ini. Bertepuk tangan menjadi hasil kerjaku selama ini. Mungkin tak patut bagi kalian. Mungkin menurut kalian aku harus pergi, dan pindah ke lain hati. Tetapi itu bukan menjadi alasanku untuk menjadi terang dalam hati seseorang. Aku tetap menjajaki hatinya. Meski terkadang  aku tak pernah teranggap. Sedih memang, tetapi aku tetap bertahan. Mungkin aku juga bukan orang yang tegar, tetapi kali ini aku berusahha menjadi tegar. Setegar batu karang yang diterpa ombak. Aku tak pernah mampu menghitung berapa lama lagi aku akan merindu. Yang jelas, ku biarkan sang waktu berputar mendekatiku dan menjawab keresahanku.



#ApaIniRinduMasaLalu
Aku tetap sebagai penggemar yang  tak mampu mengucap kejujuran. Aku seolah hanya menantikan datangnya pelangi pada malam hari. Mengucap tanpa kata. Mencintai tanpa balas. Apa ini salah? Menantikan suatu cinta yang selama ini terpendam akan terungkap tanpa ada yang berbicara, hanya tingkah laku yang mampu menafsirkan. Berat memang, memendam rindu dalam pilu.
Sebelum semua tertera, cinta yang selama ini terpendam hanya mengenaliku sebagai perindu harapan datangnya terang saat fajar. Penuh harap. Nama nyataku Elsa Laurinda, aku senang ketika orang memanggilku ‘Rindu’, padahal itu bukan namaku namun itu sebutan penuh makna. Aku memang sering merindu. Merindu seseorang, hal, suasana, dan sebagainya.
Sore ini, datang pelangi yang menjadi hiasan berlekuk diatasku. Pelupuk mataku tak kuasa meneteskan air mata. Apa seberat ini aku merindu kekasih terkenangku di masa lalu? Aku  berpikir tak pernah pantas untuk bahagia, sejak dia pergi dalam ketidaktahuanku. Kini dia seakan kembali membawa bingkisan untuk membalas rinduku selama ini. Bayangannya terlihat semu berada di sampingku, nyata namun tak mampu aku sentuh. Bayangnya menjadi abu, lalu hilang. Hujan menyadarkanku akan waktu yang lama dalam penantian, membasahi tubuhku hingga bantuan datang untukku.
“Mbak, ini payung buat mbak. Jangan duduk sendirian disini mbak. Mari ”. Penolong tersebut pergi begitu saja.
Satu, dua, tiga hingga sepuluh meter dia melangkah pergi meninggalkanku. Semakin jauh dia pergi, ingatanku semakin jelas akan wajah baik itu. Mas… bibirku berucap ketika dia telah berlalu.
Sejak itu, aku mencoba menghampiri tempat saat ku berjumpa dengan lelaki pembawa rindu. Persis dengan kekasih di masa laluku. Aku terlalu terbawa suasana pengharapan. Kali ini, aku berharap rinduku menjadi cerita klasik di saat itu.
Posisiku dalam penantianku persis dengan pertama kali kami berjumpa. Kali ini, dia tak datang. Sedikit kecewa, namun aku bukan orang yang hanya sekali mencoba menghapus rindu. Tetap aku mencoba kembali.
Berkali-kali aku merasakan kecewa, kecewa karena ketidak jelasan. Aku pernah berpikir untuk mencoba duduk kembali di tempat yang sama. Datang seorang yang berparas menyerupai lelaki pertama yang memberiku payung. Bahagiaku mulai tergambar secara tak jelas. “Mbak, hujan loh. Kenapa payungnya nggak dipakai? Nggak pulang? Atau mampir ke rumah saya. Rumah saya di gang depan itu yang berwarna abu-abu ada corak hitamnya sedikit nomer 53B. Adik perempuan saya kebetulan di rumah” ajak lelaki baik namun bukan lelaki yang ku harapkan.
“Maaf mas, boleh nanya. Mas mengenali lelaki yang kira-kira tingginya 175cm. kulit sawo matang, dia sering memakai kaos”. Aku mencoba menjelaskan secara detail akan ciri-ciri lelaki itu. Namun tak terlihat di mata mas-mas tadi. Kepalanya bergeleng.
Pertemuan saat itu terasa bukan seperti pertemuan yang pertama maupun terakhir. Entah ikatan apa yang terjadi saat itu. Terdengar jelas detak jantungku.
Aku tertidur. Dua lelaki datang menghampiriku dalam mimpi, seperti Erik dan lelaki penolong itu. Tetapi tanpa sapa mereka hanya lewat di depanku. Aku memandangi mereka sampai bayangan mereka tak Nampak lag. Namun mereka terlihat seakan menjadi satu orang. Sebenarnya siapa mereka? Apa mereka orang yang sama? Berarti lelaki pengantar payung di bawah pohon itu adalah Erik, tetapi kenapa dia tak mengenaliku.

Untuk kesekian kalinya aku merasakan rindu yang bergebu-gebu yang tak berujung. Berpisah di tengah keramaian stasiun kota itu. Aku memeluk erat tubuh Erik, tetapi kenyataan tak bisa ku putar kembali. Orang tuanya terbaring selamanya. Erik pindah ke rumah neneknya yang jauh dari batas kotaku. Bertahun aku menanti kedatangan itu. Tetapi tiap kali aku berharap, selalu saja gagal.
Aku duduk di kursi ruang  tunggu keberangkatan kereta. Aku bersinggah ke tempat saudara di kota Semarang. Kereta datang, dan tandanya aku dalam waktu beberapa menit lagi akan meninggalkan kota ini sebentar, kota penuh kenangan yang terpendam.
Perjalananku terasa lelah. “Minumnya mbak” suara penjual asongan menawarkan minum di transit kereta-angkotan kota. Aku mengambilnya. Ku lanjutkan jalanku menuju tujuan.
“Mas, bisa antar saya ke Ungaran?”, tanyaku kepada sopir taxi berwarna biru itu.
“Mari mbak, bisa”. Aku bergegas memasukkan koper berisi baju ganti selama berlibur. Suasana Semarang memang berbeda dengan tempatku tinggal. Semarang bukan kota Metropolitan.
“Semarang indah banget ya”, ku tulis status di path. Setelah hamper satu jam aku berada di taxi, aku turun. Tempat tujuanku berada tepat di muka taxi. Aku masuk ke rumah.
Sebenarnya, pergi berlibur adalah salah satu caraku agar kesedihanku sedikit hilang. Suasana segar di pegunungan yang jauh dari kota membuatku merasa nyaman.
Lagi dan lagi aku menemui sosok yang hampir mirip dengan Erik. Kali ini aku yang menghampirinya.
“Maaf mas mengganggu lamunannya. Sendirian ya mas?”, tanyaku penuh kekhawatiran. Iya khawatir akan lelaki yang duduk memandangi pegunungan di pagi ini. Lelaki itu menoleh. “Iya mbak”.
“Mas asli sini? Kok gaya bahasanya agak sedikit berbeda”, tanyaku kembali.
“Sebenarnya bukan mbak, saya tinggal di rumah nenek saya. Saya sudah 3 tahun berada disini. Sejak saya lulus SMA. Mbak dari kota ya?”, lelaki itu menatapku dengan senyuman. Ramah sifatnya.
Aku melihat lelaki itu dengan wajah penuh pertanyaan. “Saya dari Jakarta mas, saya kesini berlibur ke rumah nenek saya. Baru kemarin sore saya sampai. Lantas mas asli mana? Masih sekolah atau sudah kerja?”
Ciri-ciri lelaki itu mirip dengan Erik. Tetapi lelaki ini memiliki gaya rambut yang berbeda dari Erik. Aku melihatnya dari bawah sampai atas .
“Mbak dari Jakarta, saya dulu juga tinggal di Jakarta. Masih mbak, di Universitas Diponegoro Semarang mbak”. Jantungku berdetak semakin kencang, aku semakin yakin kali ini rinduku akan terobati.
“Nama mas siapa?”, tanyaku dengan cepat.
“Ananda Erik Prasetya mbak. Kenapa?”
Aku seakan merasa tak percaya, kali ini aku menemui orang yang bertahun-tahun ku rindu. Tetapi kenapa dia tak mengenaliku. Apa ada yang berbeda dari diriku. Bukannya hanya penampilan saja, tetapi kenapa tak dikenal olehnya. Aku dengan cepat bersandar di pundaknya. Ku lihat matanya, mata seseorang yang mengajarkanku kesetiaan.
“Maaf mbak, ini ada apa ya? Kenapa mbak menangis?”. Lelaki itu mencoba membangunkanku dari sandaran pundaknya.
“Aku Elsa, kekasihmu dulu. Aku sudah lama menantimu. Aku kira kita tak akan pernah ketemu. Aku selalu menantimu di pintu stasiun. Aku berharap kamu pulang. Aku juga berharap hatimu akan pulang kembali menuju hatiku Rik”. Aku memandang wajahnya tepat di depannya. “Kamu tahu? Berkali-kali aku bermimpi tentangmu. Dulu seorang lelaki memberiku payung di bawah pohon sewaktu hujan, aku berharap itu kamu. Payungnya juga aku bawa berlibur. Karena aku yakin, akan ada hati yang kembali menuju kesini”. Aku mengusap air mataku dan melimpahkan segala rasa rinduku.
“Kamu Elsa? Kok berubah? Maafin aku ya, yang tak pernah memberimu kabar. Aku pernah berkunjung ke rumah lamaku. Aku rindu dengan kenanganku bersama Ayah dan Ibuku. Jadi, dulu gadis yang memakai topi putih itu kamu? Sudah jangan nangis lagi, sekarang kamu sudah menemuiku”. Erik mengusap air mataku dengan lembut.
“Aku bahagia banget hari ini, disini. Gak sia-sia aku kesini Rik. Kamu masih ingat kado pemberian kamu dulu? Masih aku simpan loh. Aku menyimpan semua kenangan kita dengan baik. Aku masih sayang kamu Rik. Maafkan aku yang dulu ya Rik”.
Erik tersenyum kepadaku. “Elsa… Aku selama ini juga mencoba membunuh rindu. Rindu hampir mati, tetapi sekarang hidup kembali. Tapi aku bukan yang harusnya kamu pilih”. Erik melepaskan genggaman tangannya kepadaku. Dia pergi dengan senyuman, dan membiarkanku sendiri dalam perasaan yang belum aku ketahui namanya. bercampur menjadi satu. Aku terbang karena rindu menjawab pertanyaanku secara perlahan dan membawaku bertemu dengan Erik. Tetapi setelah ini aku hancur, hatiku sakit.
Alam yang masih menggambarkan lekukan dataran tinggi hingga membentuk gunung secara jelas menjadi saksi kepedihanku. Baju rajutanku basah  karena aliran air mataku. Ternyata Rindu masih mencoba untu pilu.
Berhari-hari, makanpun menjadi tak enak. Semuanya serba Erik. Liburanku yang aku rencanakan dengan indah, sekarang menjadi tak karuan.
Sayuran, tanaman teh dan segala tumbuhan di kebun nenek menjadi teman liburanku. Datang pemanen teh yang ingin memetik pucuk daun teh itu.
“Mas, mau metik daun teh ya? Boleh saya bantu?”, tawarku dengan sikap seakan siap membantu.
“Boleh mbak. Tapi kalau mbak gak pake sarung tangan nanti tangan mbak gatal-gatal, bukan hanya tangan bahkan seluruh tubuh mbak. Bagaimana? Tetap mau membantu?” Mas-mas pemetik daun teh itu mencoba untuk tidak memperbolehkanku karena dia tau akan status aku disini. Cucu juragan.
“Halah mas, gatal-gatal mah bisa diobati, bisa dibawa ke klinik. Daripada saya gak ada kerjaan disini, saya juga belum punya banyak kenalan disini mas. Sekalian nyari teman niatnya”. Aku mengajak mas pemetik daun sembari aku memetik daun teh juga. Ternyata orang pedesaan tak sama dengan yang aku bayangkan selama ini. Mereka juga asyik seperti orang kota. Di tengah kebun teh, aku tak sengaja menyentuh ulat bulu yang berduri dan menyebabkan tanganku terluka lalu gatal.
“Ataaaauww”, aku menjerit karena kesakitan.
Laki-laki pemetik daun teh itu dengan segera menyentuh tanganku dan menghilangkan darah di tanganku yang terkena ulat tadi. “Mbak, tadi saya kan sudah bilang. Harusnya pake sarung tangan”. Aku melihat mata indah seorang pemetik daun teh itu. Tergambar sifat yang sangat baik, perhatian. Mata indah itu mengingatkanku dengan Erik. Aku sungguh rindu dengan sikap Erik yang dulu. Aku terbawa dengan suasana kalut karena teringat dengan Erik. Ilham si pemetik dauh teh itu membangunkanku dari lamunan.
“Mbak, kok nangis? Ini tangannya sudah membaik. Tapi nanti kalau masih ada yang gatal, nanti mbak hubungi saya saja. Nanti saya ke rumah nenek mbak” Tanya Ilham melihat mataku, dan melepaskan tanganku.
“Oh baik mas. Enggak mas, ini terlalu sakit jadi air mata tak kuasa menetes. Makasih ya mas”. Aku memegang tangan yang luka dengan tangan satunya.
“Oh iya mas, jangan panggil saya mbak. Saya kan masih muda”
“Kalau begitu jangan panggil saya mas juga. Saya juga masih muda kok”. Kami berdua tertawa bersama. Ilham mengajarkanku tentang kebahagiaan yang sederhana di desa.
Kami menjadi akrab karena kejadian di kebun itu. Hingga sepekan kami kenal, aku mengajak Ilham pergi mengelilingi indahnya suasana malam hari di kota Ungaran, tepatnya di Bandungan  itu.
“Ham, thanks ya. Gara-gara kenal kamu suasana liburanku menjadi indah. Seindah pemandangan itu”. Aku melihat pemandangan kota Semarang dari atas. Ilham melihatku dan tersenyum.
“Iya Sa. Sama-sama. Yang penting kamu senang, aku juga ikut senang”. Kami berdua melanjutkan perjalanan. Berjalan dan terus berjalan hingga lupa dengan waktu.
Ilham melihat barang yang melingkar di tangan kirinya. “Sa, sudah malam. Aku gak enak dengan nenekmu. Pulang yok. Besok-besok lagi”. Ajak lelaki yang perhatian dan penuh tanggung jawab itu. Ilham memegang tanganku dan mengajakku jalan. Kami berdua melihat kearah tangan yang berpegangan mesra itu. Anehnya setelah kami melihat tangan itu, Ilham tak melepas pegangannya, malahan semakin erat. Aku tersenyum melihat mata Ilham. Sampai depan rumah nenek, tangan kami berdua belum juga lepas.
“Eh lupa. Yasudah, bobok sana. Lanjut besok lagi. Pagi-pagi besok aku ajak kamu jogging ya Sa. Have nice dream. Ketemu aku di mimpi”. Ilham melontarkan kata itu. Dan kalian tahu? Jantungku berdebar secara kencang. Apa ini namanya cinta? Aku berjalan menuju rumah. Selangkah aku berjalan, aku berbalik badan kearah Ilham dan tersenyum penuh kata terimakasih atas semuanya. Ilham pergi dan aku melanjutkan kakiku melangkah menuju rumah.
Esok paginya Ilham menepati janjinya, dia berdiri di depan rumah dengan kaos berwarna biru muda, celana training berwarna biru donker dan sepatu berwarna putih. Dia terlihat keren. Kami berdua jogging menuju pegunungan. Jalan yang kami lewati semakin tinggi.
Aku berhenti kelelahan. Kali ini aku capek, bukan capek menahan rindu. Tetapi capek fisik. “Ham, sampai sini saja ya. Capek”. Keringatku bercucuran. Napasku tersendal-sendal.
Ilham tersenyum melihat aku basah bercucuran keringat. Diusapnya dengan handuk kecil berwarna biru muda. Dan ilham mengajakku berdiri lantas memegangku dan mengajakku meneruskan perjalanan kembali. “Ayo, ada yang mau aku tunjukin ke kamu. Masak segitu aja sudah loyo”. Aku terhenti karena ucapan Ilham.
“Kan? Aku capek Ham. Nih kakiku pegel banget”.
Ilham tak menghiraukan perkataanku. Dia tetap asyik dengan gerakannya yang semakin cepat menarik tanganku, mengajakku berjalan dengan cepat.
Dyaaas !
Aku kaget dengan semua ini. Pemandangan yang belum pernah aku temui sebelumnya. Keren.
“Lihat danau itu, membentuk gambar yang aku rasakan sekarang”, kata Ilham dengan jari bertunjuk ke arah danau.
“Menyerupai Love Ham. Kamu lagi jatuh cinta?” aku tetap melihat pemandangan sekitar dengan perasaan nyaman, senang, dan bahagia.
“Kamu”. Kata Ilham dengan jelas.
Aku menoleh ke arah Ilham. Aku sudah bangun kan ini? Lelaki sepandai Ilham mencintaiku?
Mukaku penuh pertanyaan. Mulutku seakan terkunci dengan rapat. Tak bisa terucap apapun. Bagaimana aku bisa mencintai orang lain sedangkan hatiku masih terasa mengikat Erik.
“Ham….”, aku menceritakan semuanya ke Ilham. Tangan yang awalnya memegang erat, tiba-tiba terlepas. Dengan cepat aku menoleh ke tangan yang secepat itu terlepas. Aku mencoba memegang tangannya dengan spontan. “Tapi Ham, semenjak ada kamu. Aku sedikit lupa dengan Erik. Tetapi hatiku tak bisa bohong. Aku kesini untuk Erik. Mencoba mencari Erik. Dua minggu yang lalu aku bertemu dengan Erik, tetapi Erik belum bisa menerimaku kembali. Dia ingin fokus dengan dirinya dulu. Dan aku ingin setia menantinya. Kamu aku anggap sebagai kakakku. Jangan marah ya Ham. Kamu sudah memiliki hatiku. Tetapi kita berbeda misi”. Aku tersenyum melihat Ilham yang berdiam mendengarkan penjelasanku. Aku memeluknya dengan penuh sayang. Ilham memahamiku. Tangannya memegang punggungku dengan erat. Dia menangis. Baru kali ini, lelaki menangis di pundakku. Dan itu karena aku. Apa aku sejahat itu?
“Sa, karena sejak ada kamu, aku bisa merasakan arti cinta. Bisa mengerti semuanya. Aku sayang kamu Sa”
“Kok nangis? Jangan nangis”. Aku melepas pelukanku.
Dia mengusap matanya yang basah. “Aku nggak nangis. Ini tadi kelilipan embun”. Aku dan Ilham saling tersenyum. Kami pulang dengan perasaan yang berbeda. Canggung, tak seperti kami berangkat. Kali ini aku semangat.
Di perjalanan pulang. Kami menemi Erik. Erik melihat kearah kami. Erik mendekatiku.
“Ham, aku meh ngomong karo Elsa sedelok. Rapopo kan?”. Dia berbicara dengan bahasa khas daerah Semarang. Aku tak mengerti dengan apa yang mereka ucap.
“Yo Rik. Aku nitip Elsa yo Ojo diloroni meneh. Wonge terlalu sayang karo kowe”. Ilham menepuk pundak Erik. Aku gak tau apa maksud percakapan mereka. Yang aku tau hanyalah kata ‘aku titip elsa dan terlalu sayang’, tapi maksudnya sayang siapa. Salahku berlibur disana tak memahami bahasa jawa dengan baik. Terdengar sulit.
“Elsa…”, tangan Erik memegang tanganku. Ilham pergi begitu saja.
“Rik, tanganku kotor loh”. Aku mencobe melepaskan pegangannya. Aku bingung dengan Erik.
“Gapapa, yang penting aku pengen ngomong sama kamu. Soal tangan kotor urusan belakangan”. Erik menghela napas sebentar “Aku mencintaimu dengan rindu yang terdalam. Sedalam apa itu aku gatau, atau sedalam akan rindu kamu terhadapku. Aku mencintaimu dengan lebih dari aku mencintai diriku sendiri. Dan aku ingin denganmu. Bukan dengan berpusing soal kuliah saja. Aku ingin memilikimu seperti dulu lagi. Dan aku…”. Aku melepas pegangan Erik, dan menutup mulutnya yang berbicara.
“Asin dan masam gapapa kan Rik?” dengan tersenyum aku melanjutkan jawabanku. “Aku mencintaimu lebih dari kamu mencintaiku. Aku dengan berat mencoba melepas rindu, tetapi rindu semakin kuat berdiri. Aku tak bisa mengucapkan semuanya. Semua tak bisa aku rangkai dengan kata-kata. Hujan membantuku mencarimu. Embun membantuku untuk melepas rinduku untukmu, dia menggambarkan gambaranmu di hadapanku. Bintang membantuku tersenyum karena bintang memebentuk senyummu. Hingga mimpi membantuku menemuimu. Bahkan payung pun membawaku terbang kesini dan menjemputmu. Semuanya belum menggambarkan kebahagiaanku saat ini Rik. Yang aku yahu hanya ‘love you more’”. Aku memeluk Erik dengan erat. Seakan tak ingin lepas, dan tak ingin membiarkannya pergi lagi. Aku tak ingin rindu menghantuiku lagi. Rindu yang pilu kini hilang. Karena masa laluku menjadi masa baruku dengan orang yang sama. Aku menemui kenangan berupa cerita dan bertemu untuk mengukir cerita bersama orang terkenang. Semoga rindu hanya bersemayam di diri pungguk yang merindukan bulan.
Dan aku percaya, suatu saat Ilham akan bahagia dengan pilihannya.
****************************************END**********************************************