Rani adalah namaku. Kini umurku
menginjak 17 tahun. Aku seorang gadis yang sejak kecil sudah ditinggal pergi
orang tuaku untuk mencari nafkah di kota seberang. Yang namanya kurang kasih sayang
mungkin sudah sering aku rasakan. Aku di rumah tinggal bersama nenek dan adik
kecilku yang duduk di kelas 6 SD. Hidup kami pas-pasan. Berkali-kali kami
dihadapi dengan yang namanya kekurangan. Tapi semua itu bisa kami lewati dengan
rasa enang karena kami selalu merasa jika kami menjadi orang mampu dalam hal
ekonomi. Meskipun semua berbanding terbalik dengan kenyataan.
Kehidupan sehari-hariku selalu
menjadikan motivasi untukku sendiri. Belajar dari yang namanya harapan,
cita-cita sampai bagaimana caranya mencapai semua itu. Aku sekolah selalu
mengandalkan beasiswa dan aku percaya yang namanya mimpi dan angan bisa
tercapai. Selalu menggantung semuanya di depan mata dan selalu terngiang di
pikiran. Kegiatan sehari-hari yang aku lakukan adalah sebagai aktivis sekolah,
aku mengikuti serangkaian kegiatan yang diadakan di SMA bahkan sampai nasional,
karena aku tahu semua itu akan menghasilkan suatu kebanggaan untukku di hari
nanti. Menjabat sebagai bendahara OSIS SMA bukan suatu hal kecil untukku saat
itu. Sensitive masalah uang menjadi gangguan sekaligus semangat bagiku. Entah
apa yang selalu aku dan mereka pikirkan tentang kertas bernominal.
Suatu hari dimana aku usai
bekerja setelah pulang sekolah, ku temui mereka yang lebih beruntung daripada
aku. Mereka yang selalu hidup dengan kemewahan dan hidup penuh dengan kasih
sayang. Ku lihat mereka dengan penuh rasa iri bahkan air mata di mataku tidak
bisa teratasi lagi. Salah satu dari mereka memergoki aku berdiri di depan kaca
samping pintu restaurant mewah itu. Restaurant yang sering aku makani ketika
aku ditraktir sahabat terbaikku waktu SMP. Ibu menuju usia tua menghampiriku.
Dengan tutur kata yang mebuatku tenang ia ucapkan “kamu kenapa disini sendirian
nak? Sini gabung bareng kami. Kebetulan tempat yang kami pesan masih tersisa
satu”. “Oh, tidak apa-apa bu. Cuma
teringat sama ayah idan bu saya”, sambil mengusap air mata.
“Lah emang kenapa dengan mereka?
Yasudah,yang penting kamu ikut ibu dulu masuk” ujarnya sambil menarik tangan
berhias jam kenangan kiriman dari ayah sewaktu aku masih berumur 15 tahun.
Aku diajak duduk bergabung dengan
keluarga penuh cinta tersebut. “Nama kamu siapa? Aku seperti pernah lihat
kamu”, Tanya laki-laki bertubuh tinggi itu. “Iya, namaku Rani. Bagaimana kamu
bisa pernah melihatku ? Dimana kamu menemuiku ?”
“Sebentar, kamu dari SMA mana ?
Kok baru pulang?” sederet pertanyaan dia lontarkan ke aku seakan dia sudah
kenal denganku. Dan aku bercerita kepada keluarga kecil mereka. Aku
dibungkuskan 2 makanan ketika selesai makan itu.
Hari berikutnya aku temui
laki-laki tadi di SMA tempat aku menuntut ilmu. Laki-laki itu namanya Raka.
Ternyata dia adalah teman SMAku yang beda kelas denganku. Sejak hari itu, aku
mempunyai teman laki-laki yang dekat denganku, yang mau menerima keadaanku.
Pernah suatu ketika dia mengantarku pulang dari sekolah. Ku kenalkan dia kepada
nenek dan adikku.
Dia sering kali membawakan
makanan dan baju untuk adikku dan nenekku. ayah dan ibunya sejak kami bertemu telah
menganggapku seperti anak kandungnya sendiri. “Ran, kau diajak mama untuk makan
malam. Kata mama, nenek dan adik kamu diajak juga”. “Tapi Ka, kami tak pantas
ke rumahmu”. “Sudahlah Ran, kebetulan aku kesini bawa mobil. Tadi aku juga
mampir ke toko sengaja aku belikan baju untuk kamu”, dengan kata sayangnya
memaksaku untuk memenuhi permintaan mamanya.
“Baiklah Ka, tapi aku nggak enak
dengan kamu”, perasaan bingung dan senang bercampur jadi satu.
Paginya sebelum aku berangkat
sekolah, dia datang ke rumah menjemputku untuk berangkat bareng.
Serasa mempunyai keluarga baru. Hingga mamanya Raka membelikan aku handphone. Entah harus bagaimana lagi aku berterimakasih kepada mereka.
Serasa mempunyai keluarga baru. Hingga mamanya Raka membelikan aku handphone. Entah harus bagaimana lagi aku berterimakasih kepada mereka.
SMAku mengadakan suatu acara yang melibatkan beberapa kelas untuk bergabung menyelesaikan acara tersebut. Raka duduk di sebelahku. Rapar pembahasan acara telah selesai, aku menunggu raka yang pergi menemui wali kelasnnya.
Aku yang awalnya sebagai gadis lugu, dan semenjak aku kenal dengan Raka tiba-tiba penampilanku
sedikit berubah. Ketika masa perubahan ini terjadi, sering kali aku diajak berkenalan dengan orang baru. Seorang laki-laki menghampiriku
untuk mengajakku pulang bareng. Dia Nicky kakak kelasku SMA. Karena aku telah
janjian dengan Raka untuk pulang bareng, aku menolak Kak Nicky yang mengajakku pulang bareng.
“Hei Ka, udah selesai ?”, tanyaku
terlihat senang ketika Raka datang. Serasa sudah lama nggak pernah ketemu.
“Ran, ran.. Yok pulang” ajak laki-laki yang tiap kali membuatku tersenyum.
Di tengah perjalanan, percakapan
kami di mulai. Dengan jawaban Raka untuk mengajakku berhenti di sebuah taman
yang sejuk untuk melanjutkan obrolan kami. Setibanya di tempat duduk tepat di
bawah pohon rindang. Banyak kalimat yang saling kami ucapkan, hanya satu
kalimat yang membuatku sampai sekarang bisa dengan sangat menyayangi Raka. Dia ternyata
menyayangiku lebih dari sebuah sahabat. Bersyukur sekali mempunyai teman
sekaligus penyemangat untukku. Tapi aku berpikir, jika aku menjalani hubungan
lebih dari teman dengan lawan jenis lantas bagaimana nasib belajarku? Aku
mempunyai seorang adik yang mempunyai berjuta impian dan aku sebisa mungkin
mewujudkan keinginannya Aku memberi penjelasan untuk Raka dan Raka memahami hal
itu.
“Ingatlah Ran, aku akan menantimu.
Aku selalu berada di sampingmu. Selalu membuatmu tersenyum”, kata raka yang
membuatku terharu.
“aku sayang kamu Ka. Sayang
banget. Jangan pergi dari sini yaaa. Bukan berarti tadi aku nggak mau. Tapi aku
memikirkan masa depanku bahkan masa depan kita nanti. Kami berdua pun saling
menegaskan kalau kita saling menyanyangi. Raka mengusap air mata haru campur
kebahagiaanku.
Malam harinya aku merasa kecapekan, tubuhku lemas tak berdaya. Aku pun tidur untuk menenangkan pikiran dan ragaku.
Keesokan harinya, lagi-lagi
kesayangan menghampiri. Belajar waktu hari itu sungguh membuatku semakin lelah. “kamu
kenapa Ran? Kok wajahmu pucat? Kamu kenapa ? Ran, jawab ! ” dengan wajah
bingungnya dia menyakan hal itu. Senyuman yang bisa mewakili jawaban dari pertanyaannya.
“Berobat yuk ran. Jangan bikin aku cemas seperti ini”. Geleng-geleng yang aku
lakukan. “sudah ka, aku masih punya obat di rumah”. “Ya sudah Ran, tapi nggak
apa-apa beneran kan? Pulang sekarang, nanti makan tidur jangan lupa sebelum
tidur minum obat”. Senyuman dan perhatiannya seakan menjadi obat penawar
sakitku.
Semakin lama, penyakit yang aku
derita semakin parah. Tanpa sepengetahuan raka, aku berobat ke dokter. Dari
hasil yang aku terima ketika berbicara tentang penyakitku, aku menjadi kalub. Mataku
sembab. Seakan hariku menjadi agak kelam. Penyakit yang aku derita ternyata
sama dengan penyakit yang diderita kakek dulu. Aku sebisa mungkin memendam
tentang semua kabar penyakitku. Biarkan Tuhan yang menjawab pertanyaan mereka
tentang penyakitku.
***
Hari-hari aku lalui bersama Raka,
adikku dan nenekku. Hal itu yang membuatku yakin suatu saat nanti aku bisa
tersenyum disana. Sudah 6 bulan aku berteman, berkawan dengan Raka. Selama
itulah aku sungguh ingin mengulang kejadian itu dari awal.
Suatu hari di kantin sekolah,
waktu aku dan Raka sedang istirahat dan makan makanan favorit kita. Mie instan
ditambah cimol. Kami berdua makan sambil ngobrol, dengan
santainya seorang cowok datang menghampiri kami “Hei, kamu Rani kan ? Aku boleh
nggabung kan ?” Tanya senior ganteng kapten basket. “Iya kak, silakan gabung
bareng kami. Kenalin ini teman akbarabku.” “Ka, ini kak Nicky yang dulu pernah
aku ceritain ke kamu”. Semua apa yang terjadi padaku, sekecil apapun itu selalu
aku ceritain ke Raka. Kami bertiga
ngobrol sampai bel bunyi masuk pergantian jam mengingatkan kita untuk berpisah.
“Ran, bagi nomer hpnya ya”, suara itu yang membuat sifat dan raut muka Raka sedikit berubah saat
itu. Aku seketika memandang Raka seakan bertanya apa boleh jika aku memberi
nomerku untuk kak Nicky. Raka hanya bisa tersenyum. Entah hatinya Raka itu
terbuat dari apa aku juga nggak tahu. Dengan perasaan bingung, kuberi nomer
hpku untuk kak Nicky.
“Tapi kak, maaf jika nanti aku jarang bales sms atau gimana yaa”, senyumku mengawali kami bertiga menuju kelas masing-masing.
“Tapi kak, maaf jika nanti aku jarang bales sms atau gimana yaa”, senyumku mengawali kami bertiga menuju kelas masing-masing.
Jam sekolah menunjukkan waktu pulang. Raka mendatangi kelasku yang kebetulan kelasku pulang agak telat. Aku dan teman-teman kelas keluar. “Ran, kamu bohong kan sama aku?” “bohong kenapa ka? Aku nggak pernah bohong sama kamu”. “Hahaha, ngak nggak ran. Aku cuma bilang bukannya tadi pagi kamu ngomong kamu pulang nggak telat. Eh ternyataaa”, muka gugup pun terlihat dari wajahku, ku kira raka tahu tentang penyakitku. Senyum geli yang dibuat raka menghiasi muka kami berdua sampai parker sekolah. Sejak pagi tadi, raka ternyata mengawasiku. “ran, mukamu semakin kesini kok semakin pucat. Apa yang kamu sembunyiin dariku?” “Rakaaa sayaaaang, kan aku nggak pernah bohong sama kamu. Nggak ada yang aku tutup-tutupin sama kamu” jawabanku berusaha mengalihkan pembicaraan kami tentang penyakitku.
Ketika jadwal berobatku ke dokter yang dari awal memeriksaku. Secara diam-diam Raka mengikuti dari belakang. Dan aku tidak tahu keberadaannya yang mengikutiku. Sejak itulah Raka mengetahui penyakit jantungku.
Beberapa minggu ke depan, sikap
sayangnya Raka untukku semakin bertambah dengan dia tahu kondisiku.
***
Pyarrr !!
Suara tempat foto kenangan
keluarga sejak Raka masih bayi. Raka melihat foto bayi kembar yang ganteng di balik foto keluarga besar mereka. Mama Raka keluar. “ada apa sayang ?”, Tanya lirih seorang mama baik itu. “emm, ini
mah.. nggak sengaja Raka menyentuh ini. Maaf ya ma. Eh ma, kalau boleh tahu ini
foto bayi siapa ya ma ?”. mama Raka menceritakan semuanya. Ternyata bayi
tersebut adalah raka dan kembarannya. Tapi waktu ketika keluarga kecil raka
berlibur, kakak kembaran raka hilang. Mama dan papanya raka sudah berusaha
untuk mencarinya. Tapi hasilnya nihil.
“ma, aku belajar bareng sama Rani
yaa”. “iya sayang, oh iya.. mampir ke toko biasanya juga. Hati-hati di jalan”.
Mama raka selalu mengerti kebiasaan yang dilakukan Raka.
Belajar bareng hari ini sukses.
“sudah minum obat kan ran ?
obatnya masih kan ?” Raka menyakan hal yang membuatku menjawabnya dengan
kebohongan. “sudah ka, masih kok jangan khawatir”. Aku berbohong tentang obat
itu. Aku tidak mau selalu merepotkan raka dan keluarganya.
Raka memulai cerita tentang
kembarannya (blab la bla). “yasudah, aku pulang dulu yaa ran. Jaga diri
baik-baik. Tetap semangat walau suatu saat nanti aku tidak bersamamu lagi” kata
raka yang membuatku takut. “iyaa raka,
hati-hati di jalan yaa. Jangan tidur malam-malam, semoga mimpi indah”
Ketika aku tidur malam, aku
bermimpi bertemu dengan raka dan keluarga kecilnya beserta kembarannya. Di
mimpiku raka sedang bermain gitar bersama kak Nicky. Paginya aku cerita tentang
mimpiku. Berhari-hari aku dan raka menyelidii hal itu. Benar firasat mimpiku,
ternyata kak Nicky adalah saudara kembarnya.
***
Berita kecelakaan itu
mengejutkanku. Orang yang aku sayang berada dalam keadaan kritis. Aku selalu
mengingat hal kecil yang kita lakukan. “rakaaa, bertahan yaa. Kamu sering
memberiku semagat untuk bertahan. Masak kamu lemah ka. Bertahan demi aku”
ucapku dalam hati dan tak kuasa air mataku terus bercucuran.
Dokter yang memeriksa raka keluar.
Kabar ang membuat kami semua terpukul, kini raka sudah tiada. Sosok yang penuh
kasih sayang kini tinggal sendiri.
Mama raka menemuka surat yang
ditulis raka di meja kamar raka, suratnya yang berisi :
Mama,
papa aku sudah tahu saudaraku siapa. Aku dan rani beberapa hari yang lalu
menyelidiki tentang kecurigaan rani bahwa kakak kelasku adalah kembaranku. Dia
Nicky Ardiansyah. Ma, pa.. temui dia ya. Oiya ma pa, aku titip rani sayangi dia
sepenuh hati mama. Sayangi dia seperti mama menyayangiku. Nicky juga ya ma, pa.
ceritalah baik-baik dengan dia. Ma, mungkin mama kaget dengar berita ini. Rani
gadis cantik yang tiap hari aku ceritain, sekarang dia mengidap penyakit kanker
kronis. Ma, aku mohon.. jantung raka biar hidup di tubuh rani.
Ran,
mungkin kamu baca ini ketika aku sudah tidak ada. Tolong jaga baik-baik jantung
yang ada di dirimu yaa. Biar aku terus hiup di dirimu. Terus menjadi bagianmu.
Rani sayang, jangan sedih. Aku selalu tersenyum disini. Lihatlah foto yang kita
punya. Aku selalu senyum kan ? Rani, kalau aku bleh meminta. Sejak aku melihat nicky
ada suatu hal yang meyakinkanku untuk menyerahkanmu agar dia selalu menjagamu.
Selalu memberimu semangat. Menjadi penggantiku. Terima dia seperti kamu
menerima keadaanku. Sayangku selalu untukmu. Kamu yang terus membuat hariku
berwarna. Terimakasih atas kebahagiaan kecil ini yang selama ini kita lewati.
Salam
sayang dari raka. Raka selalu ada di hati kalian. Begitu kalian juga ada dihati
raka.
Hari-hari aku lewati tanpa raka.
Sepi rasanya. Semua terasa berbeda. Tapi ketika aku merasa sepi, aku selalu
ngomong dengan jantungku. Bercerita tentang kesepianku.
“ran, apa kabar?” cowok itu
datang dan duduk disampingku. “baik kak”. Aku menagis melihat wajah kak Nicky.
Wajah terus mengingatkanku dengan raka.
Aku bercerita dengan kak Nicky. Awalnya dia tidak percaya, tapi lambat
hari dia mengikuti keadaan.
***
Satu tahun lebih terlewati.
Pengumuman ujianku kelulusanku di hari ini sungguh menggembirakan. Seusai
pengumuman. Terlihat kak Nicky bersama keluarga kecilnya, keluarga kandung
raka. “sudah selesai? Nilainya gimana ? Selamat datang di kehidupan mahasisiwi
sayang” ucap kak Nicky. “Baik dong kak” “Oh iya tante, om.. apa kabar ? Dari
Australia ya ? Oleh-oleh buat Rani, adik
dan nenek pasti ada kan ? hehehe” senyum manja dariku untuk mereka. Kami
bersama keluarga kak Nicky masuk mobil dan akhirnya ceritaku semasa SMA seperti
ini. Semoga masa kuliah tidak memberatkanku. “Untukmu raka yang aku sayang. Kamu lihat kan ? Hasil belajar bareng kita seperti ini. Kamu
pasti bangga. Aku juga dapat beasiswa buat ngelanjutin sekolah, seperti apa yang dulu pernah kita rencanain. Baik-baik disana. Titip rindu buat ayah, ibu dan kakek aku juga. Kalian baik baik disana yaa. Salam kangen dariku. ”. Bayangan raka
tersenyum terlihat jelas di depanku.
*****
Sip fid
BalasHapusTp alurnya mash ngrbingungin kurang jlas arah ceritanya pas d awal
Terus knapa harus sad ending kan bgusan happy ending
enakan sad ending kak. ini juga cerpen jaman SMA :D
BalasHapusOwalah ya kan membuat cerpen yang bahagia kan gak ada salahnya jga
BalasHapusiya kakaaaaaak :D
BalasHapus