Dia adalah seorang pengembala yang tiap hari mencari sesuatu yang dibutuhkan, dari yang sangat dibutuhkan bahkan yang hanya dianggap sebelah mata oleh orang lain. Yang dia ketahui adalah tetap berjalan tanpa sesekali memperhatikan dan memperlibatkan apapun yang dianggapnya negative. Tetapi tetap saja keteguhan dan kesungguhannya akan diricuhkan oleh orang lain. Entah itu tanda iri, benci, atau kagum, hanya sang Maha Kuasa Yang Tahu. Dia selalu mengedepankan masa depan dan agamanya. Tanpa ditanyapun tetap akan satu arah, satu tujuan. Kehidupannya mungkin banyak yang menganggap lebih buruk dari standar. Pakaiannya pun tak semewah Cinderella. Dia juga tak pernah berharap atau bermimpi akan status social dan ekonomi yang lebih istimewa disbanding sekarang. Hal yang dianggap orang lain kecil, baginya adalah hal nesar yang mampu melindungi dan menjaganya dari dekapan air, angina dan dekapan hangatnya matahari. Bertahan untuk hidup adalah kebanggan tersendiri baginya. Sebagai seseorang yang kurang kasih sayang dari laki-laki pendamping malaikat tak bersayapnya, yang pergi karena membela negeri dan kini tak akan kembali lagi. Melihat bibir simetris yang keluar dari raut muka penyelamat hidupnya dari lahir adalah salah satu keinginan bahkan dijadikan kewajiban sekaligus. Sebagian besar hidup keluarga kecil itu dilakukan untuk berjihad menuju jalan Sang Maha Kuasa. Hidup terkelilingi dengan status keluarga, raga berjumpa tetapi hati tak pernah menyapa adalah kejadian yang wajib dirasakan olehnya. Sedikit banyaknya masalah dengan atau tanpa airmata kerap kali menghiasi kesenangan pahit mereka. Hidup mereka tak sesepi dan sekuno jaman pengembala 300 tahun yang lalu. Tidak. Dia hidup dalam keramaian akan jeritan rakyat sederhana. Ada juga yang gila harta. Gila kekuasaan. Namun tidak untuk keluarga kecil itu, mereka mencari hal yang suatu saat dibutuhkan untuk orang lain.
Selasa, 06 Januari 2015
1
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar